Pages

PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Setelah kita mengkaji mengenai prinsip serta tanggapan Islam terhadap jagat dan penciptanya maka dalam makalah ini akan kita pelajari beberapa prinsip yang menjadi dasar falsafah pendidikan Islam. Hal itu sekedar yang berhubungan dengan wujud insan pengertian dan ciri-cirinya. Pembicaraan tentang wujud insan adalah amat penting dalam kontek falsafah umum dan falsafahh pendidikan. Tidak akan sempurna falsafah tanpa penjelasan pendiriannya tentang insan, konsep insan baik tentang watak, ciri-ciri penting dan aspek-aspek yang membentuknya.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia?
C. TUJUAN
Untuk menjelaskan prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap manusia .
BAB II
PEMBAHASAN
Prinsip Pertama
Keyakinan tentang manusia itu makhluk yang termulia dari segenap makhluk dan wujud lain yang ada di alam jagat ini. Allah kurniakan keutamaan yang membedakannya dari makhluk lain. Allah membekali manusia dengan beberapa ciri tertentu yang akan kita terangkan kelak sebahagiannya. Dengan kurnia itu manusia berhak mendapat penghormatan dari makhluk-makhluk lain. Sebagaimana sesuailah sekiranya menjadi saksi kehidupan yang serba bergerak dan aktif ini, dan figur yang diamanahkan untuk memikul misi dari langit dam memperbaiki masyarakat sepanjang sejarah.
Jika kita menoleh kepada agama Islam maka jelaslah kepada kita bagaimana Islam memberikan perhatian yang berat tentang insan Islam menerangkan dengan terang segala aspek yang berhubungan dengan insan di dunia akhirat. Islam menerangkan tentang sumber dengan insan di dunia dan akhirat. Islam menerangkan tentang sumber dan rahasia wujudnya. Tentang matlamat hidup. Tujuan hidup tabiat, ciri dan susunan-susunan kepribadiannya baik fisik, atau mental dan mengarahkan segala persediaan semula jadi itu ke arah yang berfaedah dan selaras dengan jalinan hubungannya dengan seluruh isi alam. Baik jin, malaikat, bintang, tumbuh-tumbuhan atau benda.
Perkataan insan telah disebutkan tiga kali dalam ayat yang mula-mula sekali turun dalam Al-quran surah Al-Alaq.
Yang pertama : menerangkan bahwa insan itu dijadikan dari alaq (segumpal darah).
Yang kedua : menerangkan ciri atau dayanya untuk berilmu.
Yang ketiga : mengingatkan bahwa insan itu boleh menjadi diktator apabila ia  bersifat congkak dan merasa tidak perlu lagi dengan penciptanya atau menurut ajaran penciptanya.


Allah berfirman:
Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan, memciptakan insan dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu maha pemurah. Mengjar manusia dengan pena. Yang mengajarkan apa yang tidak tahu. (jangan sekali-kali demikian). Bahakn sesungguhnya manusia itu bersikap dhalim. Apabila ia merasa terkaya (dari tuhan dalam ajarannya). Sesungguhnya kepada Tuhanmulah kamu akan kembali. (Al-alaq:1-8).
Inilah hakikat insan secara umum dijelaskan oleh ayat Al-quran yang pertama sekali turun. Hakikat ini semakin dijelaskan oleh rentetan ayat berikutnya satu persatu.

Prinsip Kedua
Keutamaan lebih diberikan kepada manusia dari makhluk lain. Manusia dilantik menjadi khalifah di bumi untuk memakmurkannya. Untuk itu dibebankan kepada manusia amanah attaklif. Diberikan pula kebebasan dan tanggung jawab memiliki serta memelihara nilai-nilai Keutamaan. Keutamaan yang di berikan bukanlah karena bangsanya, bukan juga karna warna, kecantikan, perwakan, harta, derajat, jenis profesi dan kasta sisial atau ekonominya. Tetapi semata-mata karena iman, takwa, akhlak, ketinggian akal dan amalnya. Selain itu karena kesediaan insan membina ilmu pengetahuan yang berbagai jenis. Karena keahlian menciptakan serta kemampuan melaksanakan kerja-kerja akal dalam berbagai bidang. Karena daya mencipta nama dan istilah-istilah baru pada zamannya. Pendek kata manusia diberikan status demikian itu karena ciri dan sifat utama yang diniakan Allah kepadanya. Ciri-ciri itu tidak diberikan kepada makhluk-makhluk lain. Sebab itu layaklah manusia diberi kurnia dan keutamaan dari Allah. Memang banyak kurnia yang diberikan kepada manusia. Tepat benar dengan firman Allah:
sekiranya kamu tidak dikaruniai Allah, kamu tidak berdaya membilangnya, karena hanya Allah maha pengampun maha penyayang, (QS. An-Nahl:18)
Ayat-ayat Quran yang menandaskan kemuliaan dan keunggulan insan dari makhluk lain, atau yang mengingatkat insan terhadap malaikat supaya sujud menghormatinya. Ayat-ayat yang menyatakan peri kebaikan kejadian insan dari segala sesuatu di alam ini dijadikan untuk insan atau ayat yang menerangkan perlunya nyawa, harta, nama baik, dan kebebasan. 
Antara ayat-ayat dan hadits yang membuktikan hakikat ini ialah:
Firman Allah:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (QS. Al-Ahzab:72)
Firman Allah:
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin ... (QS. Luqman:20)
Firman Allah:
Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya). (QS. An-Nahl:12)
Firman Allah:
Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ... (QS. Al-Baqarah:29)

Prinsip Ketiga
Keyakinan seorang Muslim terhadap insan, keyakinan ini mempunyai alasan yang lengkap dari Al-Quran. Bahwa insan sebagai makhluk sosial yang berbahasa, boleh menggunakan bahasa sebagai media berfikir dan berhubungan. Insan mampu mencipta istilah dan menamakan sesuatu untuk dikenal dan mampu berfikir wajar. Ia dapat menjadikan alam sekitar sebagai objek renungan, pengamatan dan arena tempat menimbulkan perubahan yang diingini. Ia juga bisa mempelajari ilmu pengetahuan, kemahiran dan kecenderungan baru. Ia bisa beriman dengan yang gaib, membedakan antara baik dan yang buruk dan menahan nafsu syahwatnya. Ia punya kodrat mencari cara untuk mencapai cita-cita, bisa menembus realita dan membawa untuk mencapai cita-cita yang ideal. Mampu membina hubungan sosial dengan orang lain, hidup bermasyarakat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang bermacam-macam. Ia berdaya untuk bekerja, memproduksi, membina peradaban dan menempa kemajuan. Ia bisa menyingkapkan rahasia fenomena alam dan membentuk fenomena itu sesuai dengan idealismenya, lebih jauhnya ia bisa menguasai sumber kekuasaan alam.
Tentang hakikat insan para ahli falsafah dan cendikiawan telah memberkan definisi dengan berbagai ungkapan. Definisi tersebut:
Insan adalah binatang yang berkata-kata, berbahasa atau binatang yang berfikir (ahli falsafah ).
Insan adalah binatang yang mampu menggunakan kode atau lambang, khasnya lambang atau petunjuk bahasa. Dengan ini perkataan insan adalah binatang (makhluk) yang bisa menggunkan bahasa dan mencipta benda-benda sekitarnya, memberi nama sesuatu untuk dikenali dan dapat mempergunakannya (ahli bahasa).
Insan adalah makhluk yang beragama atau makhluk yang punya kecenderungan untuk beriman dengan yang ghaib atau makhluk yang mampu membedakan antara yang halal dan haram ( ahli agama ).
Insan adalah makhluk atau yang mampu menguasai runtutan nafsyu syahwat, mengawasi keliarannya dan membimbingnya secara yang menguntungkan. Selain itu makhluk yang mempunyai kebebasan untuk memilih alternatif dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dilakukan secara bebas ( ilmu etika ).
Insan adalah makhluk berakhlak sosial makhluk yang punya kecenderungan bermasyarakat. Bersedia untuk membina hubungan sosial, punya kecenderungan bermasyarakat. Bersedia membina hubungan sosial dan kerjasama dengan orang lain dengan rela serta mampu membina budaya dan peradaban ( ahli ekonomi dan sosiologi ).
Dari definisi tersebut kita simpulkan definisi yang jitu yang merangkumi segala ciri dan watak yang membedakan manusia dari makhluk lain menurut kacamata Islam dan konsep Islam. Definisi yang agak lumrah dan merangkum walaupun dengan susunan kata yang ringkas ialah definisi yang dibuat oleh Ahli falsafah. Mereka mengatakan insan adalah makhluk yang berkata-kata, definisi ini tersusun dari hewan dan berbicara. Boleh meliputi semua ciri dalam definisi lain jika sekiranya difahami secara integral dan luas.
Jika kita meneliti definisi insan yang kita uraikan di awal pembicaraan kita tentang prinsip ini, dan jika kita meneliti pula definisi-definisi lain sesudah itu kemudian kita coba menyimpulkan ciri-ciri insan yang asasi berdasarkan tanggapan Islam, maka kita akan dapati insan itu mempunyai ciri-ciri penting.
Ciri Pertama:
Daya untuk bertutur, daya ini menyatakan kemampuan insan untuk berinteraksi dengan simbol, kata-kata atau bahasa yang punya arti. Ia menunjukkan kemampuan mempersoalkan status dan nasib diri sendiri, kemampuan belajar terus menerus dan juga  menunjukkan ciri aklak lainnya yang merupakan ciri kelainan insan dari binatang. Tulisan seorang penulis Islam zaman sekarang tentang definisi insan sebgai makhluk yang bertutur. Penulis tersebut menjelaskan: Berkata adalah ciri insan yang paling menonjol dasar dan alat berkata iala bahasa, tanpa bahasa tentu tidak ada pengungkapan, tidak ada logika, tidak ada penyiptaan dan dialog dengan alam natural, tidak ada hubungan antara generasi dalam berbagai zaman. Pada hal semua ini merupakan jaringan hubungan dimensi horizontal bagi seseorang.
Suatu ciri yang berkaitan paling erat dengan kemampuan berbahasa ialah kemampuan menjelaskan atau menerangkan akan maksud yang tersemat dalam hati atau fikiran. Seperti yang ditegaskan oleh Al-Quran:
“Ia (Allah) mengajar (manusia) akan Al-Quran Ia mencipta dan mengajarnya Al-Bayan (cara menerangkan sesuatu).
Ciri Kedua:
Kecenderungan insan beragama, sehingga yang lumrah diketahui bahwa di samping manusia mempunyai kemampuan bertutur dengan lambang lafal dan berfikir, maka insan juga kecenderungan beragama. Ini jelas kalau diperhatikan perasaan keagamaannya yang tertanam dalam lubuk hatinya. Kelihatan dengan kecenderungannya beriman kepada kekuasaan tertinggi dan paling unggul yang menguasai alam jagat serta kepercayaan pada alam atau perkara gaib pada umumnya. Manusia memerlukan keimanan kepada at tertinggi yang maha unggul di luar dirinya dan di luar dari alam benda yang dihayati olehnya, dari dzat yang tertinggi itu ia menerima hidayat dan tuntutan hidup dan tata susila. Ia memerlukan kepada Tuhan yang meneguhkan perjuangan menentang kezaliman, kekejaman dan ketidak wajaran. Dengan Allah ia tabah menghadapi dugaan hidup nasib diri setelah mati dan sebagainya.
Kehausan manusia yang menyala-nyala untuk menggali ilmu pengetahuan, kecenderungannya untuk sampai ke martabat yakin dalam menghadapi persoalan jagad raya padahal ia tidak berdaya untuk menemukan jawabannya tanpa merujuk kepada iman, aqidah, dan wahyu. Semuanya ini membuktikan bahwa pada jiwa insan memang terukir watak dan naluri beragama.
Selama-lamanya insan akan (terus) menjadi hamba kepada pencipta yang maha agung . Dan oleh karena itulah tidak ada yang lebih wajar baginya. Sebab wujud pencipta adalah suatu yang pasti akan tidak dapat digugat selama ia masih tetap menjadi hamba penciptanya.
Islam bertujuan merealisasi perhaambaan sang hamba kepada Tuhannya saja. Memberantas perhambaan sesama hamba Tuhan . Insan dibawa menyembah kehadirat Allah penciptanya dengan tulus ikhlas tersisih dari syirik atau sebarang persekutuan.
Ibadah itu sendiri menurut islam bukanlah terbatas kepada beberapa upacara ibadat yang lumrah seperti sembahyang,puasa, zakat dan haji, bahkan merangkumi setiap pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan oleh insan dengan niat ibadah dan menaati Allah s.w.t.
Terdapat ayat yang menengaskan kepentingan ibadah sebagai tuntunan dan realisasi naluri beragama di samping sebagai tujuan hidup. Firman Allah :
Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah Aku (Allah.)(Adz-Dzariyat : 56).


Ciri Ketiga
Kecenderungan Moral
Pada hakikatnya manusia di samping mempunyai kecenderungan beragama juga mempunyai kecenderungan berakhlak. Ia mampu untuk membedakan yang baik dan yang buruk . Fikirannya dapat menjangkau cara dan jalan mencapai tujuan-tujuan tersebut. Ia boleh menguasai dorongan dalam dirinya, baik dengan meningkatkan karakternya atau mengarahkan dorongan tersebut ke bidang-bidang lain.
Sebab itu dalam beberapa definisi tentang insan disebutkan bahwa insan ialah binatang yang punya kecenderungan berakhlak. Atau yang mempunyai daya membedakan antara yang baik dan yang buruk. Atau yang memiliki hati yang dapat mengarahkan kehendak (iradah) dan akal. Atau yang mampu mencantumkan antara naluri dan akhlak. Antara rialitas dan contoh utama. Ia makhluk tidak puas denga apa yang ada, malah giat berusaha merealisasikan untuk mencapai taraf atau situasi yang sewajarnya.
Ciri Keempat
Kecenderungan Bermasyarakat
Insan memiliki kecenderungan bersosial atau bermasyarakat. Inilah agaknya yang mendorong para ahli sosiologi menyifatkan manusia sebagai makhluk sosial atau makhluk yang peradaban. Ssebab itu, insan tidak dapat hidup bersendirian. Insan selalu berusaha menerjunkan dirinya dalam kehidupan masyarakat. Ia senantiasa membina jalinan hubungan baru dengan setiap pribadi kelompok.
Insan gigih berusaha membangun lingkungan. Menerbitkan dari unsur-unsur dana bahan  bahan mentah yang diperolehnya dengan usaha yang terus-menerus menyingkap rahasia alam dan menguasai sumber kekayaanya. Dari usaha-usaha tersebut lahirlah kemsjusn peradaban baru yang lebih lengkap seperti yang dapat kita saksikan sekarang.
Insan di samping membina peradaban dari aspek materinya juga dapat menghasilkan kebudayaan dengan kandungan pengetahuan, keyakinan, nilai, pola pemikiran, sistem-sistem dan teknik-teknik kebudayaan. 
Apabila insan Muslim bertindak memakmurkan alam dan membina budayanya, maka itu bukanlah hanya didorong semata-mata oleh kecenderungan sosialnya yang ingin membangun, tetapi juga untuk melaksanakan perintah penciptanya yang maha agung.
Selanjutnya islam tidak hanya mementingkan penanaman dan pemupukan semangat bermasyarakat  terhadap pribadi. Islam juga melayani dalam waktu yang sama  kecenderungan individual-nya. Islam mau menumbuhkan kepribadian insan yang merdeka. Sehingga insan itu benar-benar merasajan kebebasan , kemerdekaan untuk membuktikan wujud dirinya dengan segala ciri-cirinya yang tersendiri.
Prinsip Keempat
Kepercayaan bahwa insan mempunyai tiga mratav (dimensi) persis seperti  Segi Tiga yaitu : badan, akal dan ruh. Kemajuan , kebahagiaan dan kesempurnaan kepribadian insan banyak bergantung kepada keselarasan dan keharmonisan antara tiga dimensi pokok tersebut.
Sebagai agama yang fitrah, agama yang seimbang dan moderat dalam serba-serbi, islam tidaklah hanya mengakui saja wujud tiga dimnsi pokok dalam watak insan. Malah islam bertindak meneguhkan dan menetapkan lagi bentuk wujudnya. Sebab insan menurut islam bukan hanya lembaga tubuhnya. Atau hanya akal, atau hanya ruh saja, tetapi keseluruhan itu semua, tiap unsur saling melengkapi.
Menurut islam baik golongan spiritual atau golongan material masing-masing menzalimi kemanusiaan ; bertentangan dengan tuntunan hidup. Islam tidap dapat membenarkan akal merajalela. Atau ilmu-ilmu melulu menguasai tanpa kendali, atau berkembangnya faham kebendaaan yang sempit. Islam berpendapat bahwa manusia hanya akan maju dengan adanya iringan akal dan ruh atau ilmu dan iman.

Dalam kata  kata hikmat ada termaktub  Akal yang sehat terletak pada badan yang sehat. Islam mengakui kebutuhan insan kepada benda serta  pentingnya aspek benda dalam kehidupan insan, namun pengakuan dan penekanannya terhadap aspek akliah atau ruhaniahnya amatlah jelas. Insan tidak boleh hidup untuk jasadnya saja. Kalau tidak ia pasti menurun ke hewan. Insan memerlukan akal dan ruh. Keperluannya kepada akal dan ruh ini malah mungkin lebih penting lagi. Sebab islam tidak memisahkan antara benda dan ruh ; antara dunia dan akhirat , antara ekonomi dan agama.
Jika Allah mencipta insan tanpa naluri dan syahwat niscaya pupuslah dia. Jika  dijadikannya tanpa akal niscaya binasa. Jika diciptakannya insan tanpa kebebasan maka jadilah ibadahnya sebagai suatu yang terpaksa dan hilanglah arti ibadah. Jika kita analisa yang terkandung dan yang mempengaruhi maka niscaya kita dapati ia kaya dengan imbauan dan jalinan tiga faktor. Akliah ( akal ), Qabliah ( hati ), dan Nuzuiyah ( emosi ).
Kekuasaan akal jelas tertera dalam emosi ini. Akal membawanya menerawang, sehingga dapat menanggap rahasia-rahasia wujud sumber alam jagat, titik permulaan dan titik akhiran. Di sisi agama akal mendapat penghormatan yang besar. Akal telah di beri kedudukan yang tinggi sehingga para mujtahid menjadi maslahah asas perundungan. Sementaran akal adalah penentu untuk mencari atau menetapkan maslahah tersebut.
Aspek emosional  juga punya peranan dalam emosi ini (emosi keagamaan). Pengaruhnya baik dari segi kualitan dan kuantitas amat kuat. Emosi ini membawa kecintaan untuk memenangkan kebenaran dan kesediaan mengorbankan jiwa raga dan harta untuk mempertahankan  kebenaran itu.
Apabila emosi beragama ini suati yang umum merangkum insan keseluruhannya, sedangkan tujuannya meliputi semua itu juga maka sudah pastilah senantiasa bertarung dan bertentangan dengan seruan , isma dan kecenderungan yang buruk yang menghalang jasad.

penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

3 Responses to "PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA"

  1. Ayolah terus bweiberusuntuk memberikan manfaat kepada orang lain

    ReplyDelete
  2. https://penapejuang181097.blogspot.com/2019/12/prinsip-prinsip-yang-menjadi-dasar.html?showComment=1579794379161#c1775238463600758941

    ReplyDelete

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA