Pages

ILMU KALAM Aliran Kholaf Asy’ariah


Aliran Kholaf Asy’ariah
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama setelah abad III H dengan karakteristik yang bertolak belakang dengan yang dimiliki salaf, diantaranya tentang penakwilan sifat-sifat Tuhan yang serupa dengan makhluk pada pengertian yang sesuai dengan ketinggian dan kesucian-Nya.
Adapun ungkapan ahlussunnah (sering juga disebut dengan sunni) dibedakan menjadi 2 pengertian, yaitu umum dan khusus. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok Syiah. Sunni dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan dari Mu’tazilah.
Selanjutnya, term ahlussunnah banyak dipakai setelah munculnya aliran Asy’ariyah. Menurut Harun Nasution bahwa aliran ahlussunnah muncul dari keberanian dan usaha Abu Al-Hasan Al-Asy’ari.
B.     Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud dengan aliran Asy’ariyah  ?
  2. Bagaimana pemikiran atau doktrin aliran Asy’ariyah ?
  3. Bagaimana perkembangan dari aliran Asy’ariyah ?
  4. Siapa saja tokoh-tokoh dalam aliran Asy’ariyah ?

C.    Tujuan Penulisan
  1. Agar dapat memahami maksud dari aliran Asy’ariyah
  2. Agar dapat mengetahui pemikiran atau doktrin dari aliran Asy’ariyah
  3. Agar dapat mengetahui perkembangan dari aliran Asy’ariyah
  4. Agar dapat mengetahui tokoh-tokoh dalam aliran Asy’ariyah
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Riwayat Singkat  Asy’ariyah dan Karyanya
Pendiri aliran ini adalah Al-Asy’ari. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari. Menurut beberapa riwayat, Al-Asy’ari lahir di Bashrah pada tahun 260H/875M. Ketika berusia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad dan wafat di sana pada tahun 324H/935M. Beliau merupakan orang yang ahli hadits berkat ajaran ayah tirinya.
Al-Asy’ari menganut faham Mu’tazilah sampai pada ia berusia 40 tahun namun dalam riwayat lain ada yang mengatakan sampai usia 90 tahun, setelah itu, secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jamaah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham Mu’tazilah dan menunjukkan keburukan-keburukannya. Alasannya yang paling masuk akal adalah karena pada saat itu posisi pemerintahannya dikuasai oleh aliran mu’tazilah. Sehingga Mu’tazilah menjadi madzhab dalam pemerintahan tersebut. Namun dalam riwayat lain mengatakan bahwa Al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah ketika Mu’tazilah sedang berada dalam fase kemunduran. Yaitu setelah al-Mutawakil membatalkannya sebagai madzhab resmi negara.
Menurut Ibn Asakir, yang melatarbelakangi Al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah adalah pengakuan Al-Asy’ari telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW sebanyak 3 kali, yaitu pada malam ke-10, ke-20, dan ke-30 bulan Ramadhan. Dalam tiga mimpinya itu, Rasulullah memperingatkannya agar meninggalkan faham Mu’tazilah dan membela faham yang telah di riwayatkan dari beliau. Sebab yang lainnya yaitu karena adanya perpecahan yang dialami kaum muslimin yang bisa menghacurkan mereka kalau tidak segera diakhiri. Ia sangat mengkhawatirkan al-Quran dan hadits menjadi korban paham-paham Mu’tazilah, yang menurut pendapatnya tidak dapat dibenarkan, karena didasarkan atas akal fikiran. Asy’ari karenanya mengambil jalan tengah antara golongan rasionalisme dan golongan tekstualis dan ternyata jalan tersebut dapat diterima oleh mayoritas kaum muslimin.
Kitab-kitabnya yang terkenal:
1.    Maqalat al-islamiyyin: kepercayaan golongan islam dan merupakan sumber terpenting karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
2.    Al-Ibanah an Ushulud Diniyah: keterangan tentang dasar-dasar agama.
3.    Al-Luma: kitab ini dimaksudkan untuk membantah lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu kalam.
B.  Pemikiran atau Doktrin Aliran Asy’ariyah
1. Tuhan dan sifat-sifatnya
Al-Asy’ari mengakui sifat-sifat Tuhan yang sesuai dengan Zat Tuhan sendiri, dan sama sekali tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Tuhan mendengar, tidak seperti kita mendengar dan seterusnya.
2. Kebebasan dalam berkehendak (free will)
Al-Asy’ari menyatakan bahwa manusia tidak berkuasa menciptakan sesuatu, tetapi berkuasa untuk memperoleh  sesuatu perbuatan (kasb). Aliran ini lebih dekat dengan faham Jabariah.
3.    Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
Al-Asy’ari mengutamakan wahyu, sementara Mu’tazilah mengutamakan akal. Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik dan buruk harus berdasarkan pada wahyu, sedangkan Mu’tazilah mendasarkan pada akal.
4.    Qodimnya Al-quran
Al-Asy’ari mengatakan bahwa al-Quran terdiri atas kata-kata, huruf dan bunyi, semua itu tidak melekat pada esensi Allah dan karenanya al-Qur’an bukan hasil ciptaan.
5. Melihat Allah
Al-Asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.
6.  Keadilan
Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah Penguasa Mutlak. Dengan demikian, jelaslah bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedangkan Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.
7.  Kedudukan orang yang berdosa
Al-Asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufr.

C.      Perkembangan Aliran Asy’ariyah
Pendirian Al-Asy’ari merupakan tali penghubung antara dua aliran, yaitu aliran lama (tekstualis) dan aliran baru (rasionalis). Akan tetapi sesudah wafatnya, aliran ini mengalami perubahan yang cepat.  Karena pada akhirnya, aliran Asy’ariyah lebih condong kepada segi akal fikiran murni, mendahulukannya sebelum nas dan memberinya tempat yang luas daripada tempat untuk nas-nas itu sendiri.
Jadi aliran Asy’ariyah pada akhir perkembangannya mendekati aliran Mu’tazilah, karena kedua aliran tersebut memegangi prinsip yang mengatakan bahwa “Pengetahuan yang didasarkan atas unsur-unsur naqli tidak memberikan keyakinan kepada kita..” Mereka memandang bahwa pengetahuan tersebut tidak mempunyai kebenaran mutlak (absolut), kecuali dalam hal-hal yang bertalian dengan amalan-amalan syara’, sedang untuk masalah aqidah hanya bisa mencapai nilai sekunder. Karena itu hanya dalil-dalil akal fikiran saja yang memungkinkan kita mencapai keyakinan.

D.   Ajaran dan Tokoh Alirannya
1. Al-Baqillani (wafat 403H/1013M)
Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Tayyib. Ajarannya yaitu alam hanyalah kumpulan jauhar (benda tunggal-atom) yaitu bagian yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Akan tetapi, jauhar tersebut baru ada sesudah dibubuhi dengan ‘aradh (semua benda mengalami pergantian keadaan yang bermacam-macam, berupa bentuk, warna, gerakan, berkembang dan perubahan-perubahan yang lain).
2.  Al-Juwaini (419-478H/1028-1085M)
Nama lengkapnya Abdul Ma’ali bin Abdillah. Ajarannya yaitu kewajiban seorang muslim dewasa ialah mengadakan penyelidikan akal pikiran yang bisa membawa kepada keyakinan bahwa alam semesta ini baru, dan kalau baru tentu ada yang menjadikannya. Itulah dia Tuhan.
  1. Al-Ghazali (450-505H)
Nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Ajarannya yaitu perbedaan dalam soal-soal yang kecil baik yang bertalian dengan soal-soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilafat yang sudah di sepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengafirkan orang lain.
  1. As-Sanusi (833-895H/1427-1490M)
Nama lengkapnya Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf. Ajarannya yaitu membahas sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah serta 4 sifat wajib dan mustahil Rasul.












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Asy’ariyah adalah golongan yang mengambil jalan tengah antara golongan rasionalisme dan golongan tekstualis. Pemikiran atau doktrin aliran asy’ariyah antara lain:
1.      Tuhan dan sifat-sifatnya
2.      Kebebasan dalam berkehendak (free will)
3.      Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk
4.      Qodimnya Al-quran
5.      Melihat Allah
6.      Keadilan
7.       Kedudukan orang yang berdosa
























DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon. 2001. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia
Hanafi, Ahmad. 1993. Theologi Islam (ilmu kalam). Jakarta: Bulan Bintang
Hanafi, Ahmad. 1995. Pengantar Theologi Islam. Jakarta: Al-Husna Zikra



penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "ILMU KALAM Aliran Kholaf Asy’ariah"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA