Pages

kepercayaan bahwa ilmu itu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama

kepercayaan bahwa ilmu itu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama


 

 

 

 

 

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam makalah ini akan menjelaskan tentang prinsip yang mengenai pandangan Islam terhadap Insan atas sifatnya sebagai unit terkecil dalam Masyarakat yang menjalin hubungan interaksi dengan sesama untuk menjadi kesatuan ummah dan insan sejagat yang baik.
Masyarakat sendiri merupakan satu faktor yang mempengaruhi Pendidikan, disamping itu ia merupakan arena tempat berkisarnya proses pendidikan dan masyarakat proses pendidikan mengambil tujuan,kurikulum,cara, alat pendidikan dan falsafah yang dihayati oleh masyarakat. Seorang pendidik tidak mungkin menentukan falsafah pendidikannya tanpa menentukan konsepnya tentang masyarakat.
B. Rumusan Masalah          
1.    Bagaimana kepercayaan bahwa ilmu itu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama?
2.    Bagaimana kepercayaan bahwa masyarakat selalu berubah?
3.    Bagaimana kepercayaan pada pentingnya individu dalam masyarakat?
4.    Bagaimana kepercayaan pada pentingnya keluarga dalam masyarakat?
5.    Bagaimana kepercayaan bahwa segala yang menuju kesejahteraan bersama, keadilan, dan kemaslahatan antara manusia termasuk di antara tujuan-tujuan syari’at islamiyah?
C. Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui kepercayaan bahwa ilmu itu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama
2.    Untuk mengetahui kepercayaan bahwa masyarakat selalu berubah
3.    Untuk mengetahui  kepercayaan pada pentingnya individu dalam masyarakat
4.    Untuk mengetahui pada pentingnya keluarga dalam masyarakat
5.    Untuk mengetahui kepercayaan bahwa segala yang menuju kesejahteraan bersama, keadilan, dan kemaslahatan antara manusia termasuk di antara tujuan-tujuan syari’at islamiyah



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Prinsip kelima (kepercayaan bahwa ilmu itu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama)
Meyakini bahwa ilmu yang sebenar-benarnya adalah sebaik-baik asas sesudah iman, agama dan akhlak. Untuk mencapai kemajuan, kekuatan dan kemakmuran masyarakat baik dalam bidang material maupun spiritual. Ilmu adalah alat masyarakat untuk mengkaji masalah yang dihadapinya dan untuk mencari penyelesaian yang kongkrit. Orang-orang islam dahulu tidak menemukan adanya pertentangan antara agama dan ilmu, yang mereka tahu hanyalah keharmonisan dan akrabnya hubungan antara keduaanya. Pada pandangan seorang muslim agama dan ilmu mempunyai hubungan yang senantiasa baik. Keduanya bersifat pemahaman dan kognitif. Hakikatnya maka setiap masyarakat yang baik dan sehat pastilah mendirikan kehidupannya atas agama dan ilmu. Sebaab, ilmu mebuktikan bahwa alam tidak terjadi secara kebetulan atau mendadak begitu saja. Tetapi alam adala ciptaan pencipta-Nya yang maha berkuasa dan bijaksana, yaitu Allah s.w.t: 
“Akan kami tunjukkan tanda-tanda (kebesaran) kami di ufuk-ufuk dan pada diri mereka, sehingga ternayat kepada mereka bahwa Allah itu benar. Apa tidakkah memada bagi Tuhan bahwa Ia maha berkuasa atas segala sesuatu” (Fushilat : 53).
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hambanya ialah Ulama” (Fathir : 28)
Orang-orang islam terdahulu paham bahwa ilmu amat penting untuk memajukan masyarakat, membina peradaban, memantapka kebebasan dan untuk mencapai kekuatan material dan spiritual.
B. Prinsip Keenam (kepercayaan bahwa masyarakat selalu berubah)
Segala sesuatu yang berwujud di alam ini senantiasa berubah. Begitupun dengan masyarakat. Perubahan ini berlaku karena faktor eksternal dan internal.  Perubahan dalam bidang kebendaan dalam hidup lebih mudah secara relative dari perubahan aspek moril. Untuk menjadikan proses perubahan itu baik dan terpuji maka hendaklah berlaku dalam batas akidah agama dan akhlak, didahului oleh perencanaan yang waras dan pengarahan yang sehat. Baca Juga : SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM LOKAL KEBUDAYAAN CIREBON
Masyarakat islam adalah masyarakat yang dinamis. Setiap pengkaji naskah Quran, Sunnah Rasul, peninggalah Salafus-Saleh dan Khazanah pemikiran islam secara umum merasakan betapa islam menyokong kemajuan yang membina dan perubahan social budaya yang sehat.  Juga mendorong berijtihad dalam segala urusan hidup dan dalam hukum-hukum syariah. Juga betapa elastisnya prinsip dan metode Islam khasnya dalam bidang muamalah dan hubungan social. Hal itu senantiasa berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan keadaan waktu dan tempat.
Islam adalah agama yang sesuai untuk segala zaman dan tempat. Tapi batas ajarannya seperti yang tertera dalam Al-Quran, lingkungan akhlak islamiyah dan prinsip-prinsip islam. Batasan-batasan ini telah dirangkai oleh para ulama dengan cukup dan cukup. Hal ini berdasarkan tauhid yang mutlak dan akhlak mulia.
C. Prinsip ketujuh (kepercayaan pada pentingnya individu dalam masyarakat)
Pribadi merupakan sel atau unit pertama bagi terbentuknya masyarakat manusia. Dari kumpulan orang sesamanya terbentuk keluarga, suku, kabilah, bangsa dan umat manusia seluruhnya. Pribadi yang saleh asas terbentuknya masyarakat yang saleh. Pribadi dan masyarakat mempunyai hubungan yang erat tidak dapat dipisahkan. Dari keduanya terbentuklah kerjasama yang saling menguntungkan antara satu dengan yang lain.
Masyarakat yang baik lahir dari individu yang baik, sebab individu menjadi poros suatu perubahan masyarakat. Tapi kemampuan dan kebaikan orang bergantung pada kesehatan fitrahnya disamping didikan dan asuhan yang baik yang dapat memupuk bakat kecenderungan dan kemahiran baik dalam kerja-kerja fisik mental atau emosi.
Islam juga menganggap bahwa pribadi sebagai sendi masyarakat. Islam jelas sekali menandaskan pentingnya prinsip penyesuaian dan penyelarasan antara kepentingan pribadi dan masyarakat. Antara hak keperluan dan kewajiban masing-masing juga prinsip perimbangan antara daya dan tenaga pribadi dan norma-norma akhlak dalam masyarakat majemuk atau perimbangan antara diri insan dalam pengertian marco, dan dirinya dalam pengertian micro, yaitu masyarakatnya. Kendatipun islam telah menandaskan perlunya menghormati hak pribadi, harga diri, serta tanggung jawab.
Islam dapat menyesuaikan kepentingan pribadi dan masyarakat dengan pandangan yang menyeluruh. Caranya ialah dengan membentuk insan yang seimbang. Apabila tiap orang telah seimbang unsur dalamnya maka masyarakat dengan sendirinya akan seimbang tujuan dan arahnya. Sebab itu islam memberikan perhatian sungguh-sumgguh terhadap perkembangan tiap prbadi. Justru hal itu yang mendirikan masyarakat dan sendi masyarakat itu sendiri. Baca Juga : MAKALAH STUDI ILMU KALAM ALIRAN SALAF IBNU HANBAL
D. Prinsip kedelapan (kepercayaan pada pentingnya keluarga dalam masyarakat)
Menginsafi bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Keluarga merupkan sistem yang paling khusus dan paling tersendiri. Keluarga merupakan persekitaran yang mula-mula sekali dihayati oleh bayi selepas lahir. Di dalamnya ia berinteraksi dan menga,bil asas-asas bahas, nilai, ukuran prilaku, kebiasaan, kecenderungan jiwa dan sosial dan lunas-lunas kepribadian. Keluarga merupakan bidang kerjasama antara lelaki dan perempuan dan bidang pembentukan pertama untuk seorang bayi.
Melihat dari segi pentingnya keluarga ini maka wajiblah ia didirikan atas dasar kebenaran, keadilan, kasih sayang, tolong menolong dan saling menghormati. Diusahakan terus menerus meneguhkan dan menguatkan ikatan antara anggotanya dengan penuh perhatian dan penghargaan, agar kesetabilannya tidak tergugat. “Sistem kekeluargaan yang diakui oleh islam ialah sistem “Al Usrah Azzaujiah” “suami isteri” yaitu keluarga itu tendiri dari suami isteri dan anak-anak. Dalam islam, keluarga menurut pengertian yang luas tidak hanya mengandung suami isteri dan anak-anak serta keturunan mereka. Tetapi juga merangkum “Induk keturunan baik bapa maupun ibu. Jadinya termasuklah kakek dan nenek juga anak-cucu bapa ibu termasuk juga paman dan bibi.
Demikianlah jika kita lihat perkataan “keluarga” meliputi suami isteri dan kerabat-kerabat lain baik yang telah lanjut usianya atau yang masih muda. Di mana-mana saja lahirnya keluarga ini maka ia pastilah melahirkan dan melibatkan hak serta membebankan tanggung jawab. Hanya derajat hakitu saja yang berbeda nenurut jauh atau dekatnya hubungan. Hak-hak kerabat terdekat lebih penting dari hak kerabat yang jauh. Baca Juga : ILMU KALAM ALIRAN JABARIYAH
E. Prinsip kesembilan (kepercayaan bahwa segala yang menuju kesejahteraan bersama, keadilan, dan kemaslahatan antara manusia termasuk di antara tujuan-tujuan syari’at islamiyah)
Percaya bahwa segala perkara yang dapat menciptakan tolong menolong, setia kawan, kait mengait, persaudaraan, kasih mengasihi, cinta mencintai dan kerja sama antar manusia, juga yang menciptakan keadilan dan keseimabgan antara mereka, dan juga yang akan melaksanakan kemaslahatan umum, kekuatan , kemajuan, kesatuan dan persatuan mereka adalah merupakan teras tujuan-tujuan syari’at islam dan termasuk maksud yang ingin dicapai oleh agam islam yang suci. Oleh sebab itu haruslah digalakkan, diberijalan, dan dihilangkan segala rintangan yang menghalanginya, supaya terciptalah masyarakat islam yang kuat, setia kawan, interependant, bersaudara, berhubungan satu sama lain, sayang menyayangi, tolong menolong, seimbang, berpadu, bersatu, dan selalu berusaha kearah kemajuan dsn kemuliaan yang betul-betul dimana terletak kebaikan dunia dan akhirat. Pelaksanaan makna dan tujuan-tujuan ini semuanya haruslah dengan iman yang betul kepada Allah, berpegang teguh pada syari’at Allah dan melaksanakannya dalam seluruh segi kehidupan. Juga berpegang teguh pada kesopanan agama dan akhlaknya yang semuanya kebaikan bagi manusia. Tujuan ini juga dapat dicapai dengan amal saleh yang bermanfaat teguh diatas dasar keimanan yang kuat, niat yang baik dan ilmu yang berfaedah.
Barangkali jika kita fikirkan prinsip yang luas dan meliputi banyak aspek-aspek kesatuan, tolong menolong, serta kawan, dan kekuatan material dan spiritual masyarakat, maka kita akan dapati bahwa ia meliputi banyak prinsip cabang atau bagian yang dikuatkan oleh syari’at islam dan pandangannya kepada masyarakat didasarkan atas prinsip-prinsip tersebut.
Diantara prinsip-prinsip cabang atau bagian ini terkandung dalam prinsip dan yang tersebut diatas ialah yang diuraikan dibawah ini:
1.      Prinsip Maslahat Umum
Penjagaan syari’at islam terhadap maslahat umum tidak hanya nampak pada dasar-dasar hukum, mu’amalat dan sistem sosial, ekonomi dan politik yang terkandung dalam syari’at, tetapi nampak juga pada akidah keimanan yang dibawa oleh syari’at dan ibadat-ibadat dan syiar-syiar agama yang diperintahkannya.
2.      Prinsip Keadilan
Diantara perkara-perkara yang paling menonjol dan diakui oleh islam adalah prinsip keadilan dikalangan manusia. Keadilan mutlak diantara manusia adalah ciri-ciri kepada perundang-undangan dan sistemnya.
3.      Prinsip Persamaan
Islam memandang manusia itu semua serupa dalam asal-usul, hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
4.      Prinsip Keseimbangan Sosial
Prinsip ini bermakna memerangi kelas-kelas sosial dan ekonomi.
5.      Prinsip Jaminan dan Setia Kawan
Islam telah membagi tanggung jawab jaminan kepada semua pihak yang dapat memberi bantuan material dalam masyarakat islam, mulai dengan individudan berakhir dengan negara. Dan pihak-pihak utama yamg menerima tanggung jawab jaminan dari islam digolongkan kepada perorangan, kaum kerabat, kumpulan dan negara.




BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Prinsip kelima meyakini bahwa ilmu yang sebenar-benarnya adalah sebaik-baik asas sesudah iman, agama dan akhlak. Untuk mencapai kemajuan, kekuatan dan kemakmuran masyarakat baik dalam bidang material maupun spiritual.
Prinsip Keenam segala sesuatu yang berwujud di alam ini senantiasa berubah. Begitupun dengan masyarakat. Perubahan ini berlaku karena faktor eksternal dan internal.  Perubahan dalam bidang kebendaan dalam hidup lebih mudah secara relative dari perubahan aspek moril.
Prinsip ketujuh mengakui harga diri atau nilai diri insan dan pribadi perlunya perorangan dalam hidup bermasyarakat. Pribadi merupakan sel atau unit pertama bagi terbentuknya masyarakat manusia. Dari kumpulan orang sesamanya terbentuk keluarga, suku, kabilah, bangsa dan umat manusia seluruhnya.
Prinsip kedelapan menginvasi bahwa keluarga merupakan unit pertama bagi masyarakat pada tahap institusi. Hal itu merupakan jembatan meniti bagi generasi yang akan datang. Keluarga merupkan sistem yang paling khusus dan paling tersendiri.
Prinsip kesembilan percaya bahwa segala perkara yang dapat menciptakan tolong menolong, setia kawan, kait mengait, persaudaraan, kasih mengasihi, cinta mencintai dan kerja sama antar manusia, juga yang menciptakan keadilan dan keseimabgan antara mereka, dan juga yang akan melaksanakan kemaslahatan umum, kekuatan , kemajuan, kesatuan dan persatuan mereka adalah merupakan teras tujuan-tujuan syari’at islam dan termasuk maksud yang ingin dicapai oleh agam islam yang suci.









DAFTAR PUSTAKA
Al-Syaibani, Omar Mohammad Al-Toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan bintang.
Arifin, M. 1996. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.



penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "kepercayaan bahwa ilmu itu adalah dasar yang terbaik bagi kemajuan masyarakat sesudah agama"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA