Pages

KERANGKA BERPIKIR ‘IRFANI : DASAR-DASAR FILOSOFI MAQAMAT DAN AHWAL”

KERANGKA BERPIKIR ‘IRFANI :
 DASAR-DASAR FILOSOFI MAQAMAT DAN AHWAL”
BAB I
PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang
Tinjauan analitis terhadap tasawuf menunjukkan bahwa para sufi dengan berbagai aliran yang dianutnya memiliki suatu konsepsi tentang jalan (thariqat) menuju Allah. Jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniyah (riyadah), lalu secara bertahap menempuh berbagai fase, yang dikenal dengan maqam (tingkatan) dan hal (keadaan), dan berakhir dengan mengenal (ma’rifat) kepada Allah. Tingkat pengenalan (ma’rifat) menjadi jargon yang umunya banyak dikejar oleh para sufi.
Kerangka sifat dan perilaku sufi diwujudkan melalui amalan dan metode tertentu yang disebut thariqat,atau jalan untuk menemukan pengenalan (ma’rifat) Allah. Lingkup perjalanan menuju Allah untuk memperoleh pengenalan (ma’rifat) yang berlaku di kalangan para sufi sering disebut sebagai sebuah kerangka Irfani.

b.      Rumusan Masalah
1.      Apa saja tingkatan dari maqam ?
2.      Apa saja Ahwal (Kondisi-kondisi Spiritual) dalam Tasawuf  ?
3.      Apa saja upaya-upaya yang dilakukan dalam Metode Irfani ?


c.       Tujuan Penulisan
1.      Agar mengetahui tingkatan dari maqam.
2.      Agar mengetahui Ahwal (Kondisi-kondisi Spiritual) dalam Tasawuf .
3.      Agar mengetahui upaya-upaya yang dilakukan dalam Metode Irfani.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Maqam-maqam (Tahapan Mistik / Fase / Stasiun Spiritual)
Dalam Tasawuf, Maqam (jamaknya maqamat) berarti “kedudukan dan tempat berpijak kedua kaki”. Dalam ilmu tasawuf, istilah maqam mengandung arti “kedudukan seorang hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakannya. Baik berupa perjuangan (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadahah), dan perjalanan menuju-Nya”. Untuk berada dekat dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan yang panjang yang berisi stasion-stasion, yang lazim disebut maqam. Di kalangan kaum sufi, urutan maqam-maqam ini berbeda-beda, sebagian mereka merumuskan maqam-maqam dengan sederhana, seperti rangkaian maqam qana’ah berikut ini : tanpa qana’ah, tawakal tidak tercapai; tanpa tawakal, taslim tak akan ada; tanpa tobat, inabah tidak akan ada; tanpa wara, zuhud tak akan ada.
Sementara itu, Al-Kalabadzi dalam bukunya at-Ta’arruf li Mazhab al-Tashawwuf menjadikan tobat sebagai kunci ketaatan, kemudian zuhud, sabar, faqr, tawadhu, khauf, takwa, ikhlas, syukur, tawakal, ridha, yakin, dzikir, uns, qarb dan mahabbah.
Al-Qusyairi dalam bukunya al-Risalah al-Qusyairiyah, memberikan urutan maqam sebagai berikut : Tobat, mujahadah, khalwat, uzlah, takwa, wara, zuhud, khauf, raja, qona’ah, tawakal, syukur, sabar, muraqabah, rida, ikhlas, zikir, faqr, mahabbah dan syauq.
Al-Ghazali merumuskan maqam dengan lebih sedikit, yaitu : tobat, sabar, syukur, khuaf dan raja, tawakal, mahabbah rida, ikhlas, muhasabah dan muraqabah.
Sementara al-Syuhrawardi dalam bukunya ‘Awarif  al-Ma’arif merumuskan maqam sebagai berikut : tobat, wara, zuhud, sabar, faqr, syukur, khauf, tawakal dan rida.
Tingkatan Maqam :
1.      Tobat
Menurut Qamar Kailani dalam karyanya, fi al-Tashawwuf al-Islami, yang dimaksud dengan tobat adalah “rasa penyesalan yang sungguh-sungguh dan mendalam disertai permohonan ampun serta meninggalkan segala perbuatan yang menimbulkan dosa”. Kebanyakan sufi menjadikan tobat sebagai perhentian awal di jalan menuju Allah. Pada tingkatan terendah, tobat menyangkut dosa yang dilakukan jasad atau anggota badan. Sedangkan pada tingkat menengah, di samping menyangkut dosa yang dilakukan jasad, tobat menyangkut pula pangkal-pangkal dosa, seperti : dengki, sombong dan riya. Dan pada tingkat yang lebih tinggi, tobat menyangkut menjauhkan bujukan setan dan menyadarkan jiwa akan rasa bersalah.
Pada tingkat terakhir, tobat berarti penyesalan atas kelengahan pikiran dalam mengingat Allah. Tobat pada tingkat ini adalah penolakan terhadap segaa sesuatu selain yang dapat memalingkan dari jalan Allah.
Menurut Imam al-Ghazali, tobat diklasifikasikan pada tiga tingkatan, yaitu : (1) meninggalkan kejahatan dalam segala bentuknya dan beralih pada kebaikan karena takut kepada Allah, (2) beralih dari satu situasi yang sudah baik menuju ke situasi yang lebih baik lagi (dalam tasawuf keadaan ini disebut “inabah”), (3)rasa penyesalan yang dilakukan semata-mata karena ketaatan dan kecintaan kepada Allah, ini yang disebut dengan taubah.

2.      Zuhud
      Zuhud menurut para ahli sejarah tasawuf adalah fase yang mendahului tasawuf. Menurut Harun Nasution, station yang terpenting bagi seorang calon sufi ialah zuhud, yaitu keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Sebelum menjadi sufi, seorang calon harus terlebih dahulu menjadi zahid. Sesudah menjadi zahid, barulah ia meningkat menjadi sufi. Dengan demikian, tiap sufi ialah zahid, tetapi sebaliknya tidak setiap zahid merupakan sufi.
      Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.
      Secara terminologis, menurut Prof. Dr. Amin Syukur, zuhud tidak dapat dilepaskan dari 2 hal. Yang  pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya.
      Dalam posisi ini, menurut A. Mukti Ali, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Berkaitan dengan ini Al-Hakim Hasan menjelaskan bahwa zuhud adalah “berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan semedi (berkhalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan, dan memperbanyak dzikir”.
      Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam, dan gerakan protes yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam menatap dunia fana ini. Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridaan Allah swt., bukan tujuan-tujuan hidup, dan disadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat-sifat mazmumah (tercela). Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.
      Walaupun didefinisikan dengan redaksi yang berbeda, tetapi inti dan tujuan zuhud sama, yaitu tidak menjadikan kehidupan duna sebagai tujuan akhir. Dunia harus ditempatkan sebagai srana dan dimanaatkan secara terbatas dan terkendali. Jangan sampai kenikmatan duniawi menyebabkan susutnya waktu dan perhatian kepada tujuan yang sebenarnya, yaitu kebahagiaan abadi di akhirat illahi.
      Dilihat dari maksudnya, zuhud terbagi menjadi 3 tingkatan. Pertama (terendah), menjauhkan dunia ini agar terhindar dari hukuman di akhirat. Kedua, menjauhi dunia dengan menimbang imbalan di akhirat. Ketiga (tertinggi), mengecilkan dunia bukan karena takut atau karena berharap, tetapi cinta terhadap Allah belaka.

3.      Faqr   
      Faqr yang bentuk jamaknya Fuqara’ artinya “membutuhkan” atau “memerlukan”. Istilah ini dalam al-Qur’an digunakan dengan mengacu pada dua pengertian. Pertama,  digunakan dalam konteks sosial-ekonomi, faqr atau faqir mengandung pengertian seseorang yang penghasilannya, setelah bekerja banting-tulang, tidak seimbang dengan kebutuhannya. Sehingga membutuhkan bantuan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kedua, dalam konteks eksistensi manusia, faqr atau faqir mengandung pengertian bahwa semua manusia secara universal, baik yang kaya maupun yang miskin, membutuhkan Allah. Manusia membutuhkan bimbingan, arahan, ampunan, perhatian, kasih sayang, cinta, perekanalan, kerelaan dan pertolongan dari Allah dalam setiap fase kehidupannya.
      Kaum sufi memandang al-faqr bermakna tidak menuntut lebih banyak dari apa yang telah dipunyai dan merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki, sehingga tidak meminta sesuatu yang lain. Lebih-lebih sikap itu dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas rohaniah dalam perjalanan kepada Allah. Sikap metal fakir merupakan benteng pertahanan yang kuat dalam menghadapi pengaruh kehidupan materi. Sebab, sikap mental ini akan menghindarkan seseorang dai keserakahan.

4.      Sabar
      Salah satu sikap mental yang paling fundamental bagi seorang sufi adalah sabar. Sabar diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil dan konsekuen dalam pendirian. Jiwanya tidak tergoyahkan, pendiriannya tidak berubah bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi, pantang mundur dan tak kenal menyerah. Sikap sabar dilandasi oleh anggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan kehendak (iradah) Tuhan. Keyakinan adalah landasan sabar.
      Al-Ghazali membedakan tingkatan-tingkatan sabar. (1) Iffah, yaitu apabila ketahanan mental dihadapkan kepada penanggulangan hawa nafsu, perut dan seksual. (2) Hilm, yaitu kesanggupan seseorang menguasai diri agar tidak marah. (3) qana’ah, yaitu ketabahan hati untuk menerima nasib. (4) syaja’ah, yaitu sifat pantang menyerah dan ksatria.
      Jika dipandang sebagai pengekangan tuntutan nafsu atau amarah, dinamakan sebagai kebesaran jiwa (ash-shabr an-nafs), sedangkan menahan terhadap penyakit fisik, disebut sebagai sabar badani (ash-shabr al-badani).

5.      Syukur
      Syukur diperlukan karena semua yang kita lakukan dan miliki di dunia ini adalah berkat karunia Allah. Allah-lah yang telah memberikan nikmat kepada kita, baik berupa pendengaran, penglihatan, kesehatan, keamanan, maupun nikmat-nikmat lainnya yang tidak terhitung jumlahnya.

6.      Rela (Ridha’)
      Ridha berarti menerima dengan rasa puas terhadap apa yang dianugerahkan Allah SWT. Orang yang mampu melihat hikmah dan kebaikan cobaan yang diberikan Allah dan tidak berburuk sangka terhadap ketentuan-Nya. Bahkan, ia mampu melihat keagungan, kebesaran dan kemahasempurnaan Dzat yan memberikan cobaan kepadanya sehingga tidak mengeluh dan merasakan sakit atas cobaan tersebut. Hanyalah ahli ma’rifat dan mahabbah yang mampu bersikap seperti ini.
      Sikap mental ridha’ merupakan kelanjutan rasa cinta atau perpaduan dari mahabbah dan sabar. Istilah ridha’ mengandung pengertian menerima dengan lapang dada dan hati terbuka terhadap apa saja yang datang dari Allah, baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib dirinya.

7.      Tawakkal
      Tawakkal merupakan gambaran keteguhan hati dalam menggantungkan diri hanya kepada Allah. Dalam hal ini, Al-Ghazali mengaitkan tawakal dengan tauhid, dengan penekanan bahwa tauhid berfungsi sebagai landasan tawakkal.

B.     Ahwal (Kondisi-kondisi Spiritual) dalam Tasawuf
     Di samping istilah maqam, terdapat istilah hal. Istilah hal yang dimaksud di sini adalah keadaan atau kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu. Menurut At-Thusi, keadaan (hal) tidak termasuk usaha-usaha latihan rohaniyah (jalan).
     Di samping istilah hal (keadaan) adalah keterpusatan diri (muraqabah), kehampiran atau kedekatan (qarb), cinta (hubb), takut (khauf), rindu (syauq), intim (uns), tenteram (tuma’ninah), penyaksian (musyahadah), dan yakin.
     Para sufi sendiri secara teliti menegaskan perbedaan maqam dan hal. Maqam menurut mereka ditandai oleh kemapanan. Sedangkan hal justru mudah hilang. Maqam dapat dicapai seseorang dengan kehendak dan upayanya. Sementara hal dapat diperoleh dengan tanpa disengaja. Hal sama dengan bakat, sedangkan maqam diperoleh dengan daya upaya. Hal akan datang dengan sendirinya, sementara maqam diperoleh dengan berupaya.
     Maqam dan hal tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antar keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan. Dan dalam maqam akan ditemukan kehadiran hal. Hal yang telah ditemukan dalam maqam akan mengantarkan seseorang untuk mendaki ­maqam-maqam selanjutnya.
     Sebagaimana telah disinggung bahwa hal-hal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi antara lain adalah waspada dan mawas diri (muhasabat dan muraqabat), kehampiran atau kedekatan (qarb), cinta (hubb), takut (khauf), harap (raja), rindu (shauf), intim (uns), ketentraman (thuma’ninah), penyaksian (musyahadah), dan yakin.




Hal-hal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi :

1.    Waspada (muraqabah) dan Mawas Diri / Selalu Menghitung Amal Kebajikan (Muhasabah)
      Muraqabah berasal dari kata raqib yang berarti “penjaga” atau “pangawal”. Dalam al-Qur’an surah al-Ahzab:52, Allah menegaskan, “Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.”
      Dalam sebuah hadits yang dikenal dengan arkan al-din (sendi-sendi agama, yaitu iman, islam, dan ihsan), khusus mengenai ihsan, nabi saw diminta oleh seorang sahabat untuk menerangkan ihsan :
Beritahu aku tentang ihsan!.” Nabi saw menjawab: “Ihsan itu adalah hendaknya engkau menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya; jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka Dia melihat engkau’ (HR. Muslim, Turmudzi dan Abu Dawud).
      Secara terminologis, muraqabah berarti melestarikan pengamatan terhadap Allah dengan hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya. Muraqabah meresapkan kesadaran bahwa Allah melihat, mengawasi, memonitor diri kita dalam gerak dan diam, baik lahir maupun batin.
      Jadi, muraqabah berarti merasa diawasi Tuhan. Dalam kitab Raudhat al-Thalibin, al-Ghazali menyandingkan makna muraqabah dengan haya’ (rasa malu), yang keduanya bersandarkan pada ihsan. Haya’ merupakan tahap pertama bagi muttaqin (orang-orang yang bertaqwa). Ilmu yang terkandung dalam haya’ adalah pengetahuan hamba atas penglihatan Allah kepadanya.
      Selanjutnya Al-Ghazali menjelaskan bahwa muraqabah terdiri dari 2 derajat, yaitu: Pertama derajat muraqabah shiddiqin yang disertai dengan pengagungan dan pemuliaan kepada Allah dan tidak memperhitungkan pahalanya, karena sangat terbatas pada hati (qalb). Kedua derajat muraqabah orang-orang wara’ dari ashbab al-yamin yang selalu diliputi perasaan dilihat oleh Allah, baik lahir maupun batin.
      Waspada dan mawas diri tidak dapat dipisahkan. Waspada (muhasabah) artinya meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati, yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada Allah. Sedangkan mawas diri (muraqabah) adalah meneliti dengan cermat apakah perbuatan sehari-hari telah sesuai atau malah menyimpang dari yang dikehendaki-Nya.


2.    Cinta (Mahabbah)
      Dalam pandangan tasawuf, mahabbah (cinta) merupakan pijakan bagi segenap kemuliaan hal, sama seperti tobat yang merupakan dasar bagi kemuliaan maqam. Karena mahabbah pada dasarnya adalah anugerah yang menjadi dasar pijakan bagi segenap hal, kaum sufi menyebutnya sebagai anugrah-anugrah (mawahid).

3.     Berharap (Raja’) dan Takut (Khauf)
      Menurut kalangan kaum sufi, raja’ dan khauf  berjalan seimbang dan saling mempengaruhi. Raja’ dapat berarti berharap atau optimisme. Raja’ atau optimisme ini telah ditegaskan dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman yang hijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharap rahmat Allah. Dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang.”
      Orang yang harapan dan penantiannya mendorongnya untuk berbuat ketaatan dan mencegahnya dari kemaksiatan, berarti harapannya benar. Sebaliknya, jika harapannya hanya angan-angan, sementara dia sendiri tenggelam dalam lembah kemaksiatan, harapannya sia-sia.
      Khauf adalah kesakitan hati karena membayangkan sesuatu yang ditakuti, yang akan menimpa diri di masa yang akan datang. Khauf dapat mencegah hamba berbuat maksiat dan mendorongnya untuk senantiasa berada dalam ketaatan.
      Khauf dan raja’ saling berhubungan. Kekurangan khauf menyebabkan seseorang lalai dan berani berbuat maksiat dan khauf yang berlebihan akan menjadikannya putus asa dan pesimis.

4.    Rindu (Syauq)
Selama masih ada cinta, syauq tetap diperlukan. Dalam lubuk jiwa seorang sufi, rasa rindu hidup dengan subur, yaitu rindu untuk segera bertemu dengan Tuhan. Ada orang yang mengatakan bahwa maut merupakan bukti cinta yang benar dan lupa kepada Allah lebih berbahaya daripada maut. Bagi sufi yang rindu kepada Tuhan, maut dapat mempertemukannya, sebab hidup merintangi pertemuan abid dengan Ma’bud-nya.

5.    Keintiman / Kedekatan Spiritual (al-Uns)
      Dalam pandangan kaum sufi, sifat uns (intim) adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Yaitu selalu berteman dengan Allah, artinya
selalu berada dalam pemeliharaan Allah.

C.    Metode ‘Irfani
       Setiap disiplin keilmuan dibangun dan dikembangkan melalui kajian-kajian atas sumber pengetahuannya. Sumber pemikiran Islam adalah wahyu (agama), akal (rasio), ilham atau intuisi dan realitas nyata (pengalaman inderawi). Masing-masing sumber memiliki perangkat tersendiri. Sumber wahyu dapat diketahui lewat perangkat al-Qur’an dan Hadits. Sumber pemikiran rasional dapat dilacak melalu perangkat akal.
       Pengalaman indrawi (realitas nyata) dapat diketahui lewat panca indera. Sedangkan perasaan (berupa ilham atau intuisi) dapat diketahui lewat hati (qalb).
       Semuanya kemudian melahirkan aliran-aliran pemikiran tersendiri. Mereka yang mencari kebenaran melalui wahyu menyatakan diri dalam “agama”, misalnya Islam, Kristen, dsb.
       Mereka yang mencari kebenaran lewat akal menegaskan diri dalam aliran “rasionalisme” (dalam Islam, wakil terbaik aliran rasionalisme adalah Mu’tazilah). Metode yang digunakan disebut metode burhani. Mereka yang mencari kebenaran lewat perangkat panca indera menegaskan diri dalam aliran “empirisme”.
       Dan mereka yang mencari kebenaran lewat ilham atau intuisi yang perangkat hati (qalb) menegaskan dirinya dalam aliran “intuisionisme”. Kalangan sufi (ahli dan pelaku tasawuf) dikategorikan pada aliran ini. Pendekatan mereka dalam mencari kebenaran yang lebih sering mengandalkan perasaan intuitif (dzauq dan wijdan) atau ilham dengan hati (qalb) sebagai perangkatnya disebut “metode ‘Irfani”
       Potensi untuk memperoleh ma’rifat telah ada pada manusia. Di antara prasyaratnya adalah kesucian jiwa dan hati. Dalam dunia tasawuf, qalb merupakan alat pengetahuan tentang hakikat, termasuk di dalamnya hakikat ma’rifat. Qalb yang dapat memperoleh ma’rifat adalah qalb yang telah suci dari berbagai noda atau akhlak yang buruk.      
Karena qalb merupakan bagian dari jiwa, kesucian jiwa sangat mempengaruhi kecemerlangan qalb dalam menerima ilmu. Qalb yang telah suci akan mampu menembus alam malakut dan menerima ilmu pengetahuan dari Tuhan serta mampu berdialog dengan-Nya. Secara spiritual (bathiniyyah). Ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kondisi dialogis bathiniyyah dengan perangkat qalb yang suci inilah yang mereka sebut sebagai ilmu ma’rifat, dan secara spesifik dapat memperoleh ilmu ladunni, yakni ilmu yang datang secara langsung dari Tuhan melalui ilham yang dibisikkan ke dalam hati manusia.
      Untuk memperoleh ma’rifat, di samping melalui tahapan-tahapan maqamat dan ahwal, seseorang harus melalui upaya-upaya tertentu, di antaranya :
1.    Riyadhah
      Disebut juga sebagai “latihan-latihan mistik” adalah latihan kejiwaan melalui upaya membiasakan diri agar tidak melakukan hal-hal yang mengotori jiwa. Riyadhoh dapat pula diartikan sebagai proses internaliasi kejiwaan dengan sifat-sifat terpuji dan melatih diri untuk meninggalkan sifat-sifat buruk.
      Para sufi menggolongkan riyadhoh sebagai latihan kejiwaan dalam upaya meninggalkan sifat-sifat buruk termasuk di dalamnya adalah pendidikan akhlak (tarbiyyah al-akhlaq) dan pengobatan penyakit hati. Menurut para sufi untuk menghilangkan penyakit itu, perlu dilakukan riyadhoh. Riyadhoh harus disertai dengan mujahadah, yaitu kesungguhan dalam usaha untuk meninggalkan sifat-sifat buruk.

2.    Tafakkur
      Tafakkur artinya berfikir, menganalisis dan instrospeksi. Tafakkur penting dilakukan bagi mereka yang menginginkan ma’rifat. Sebab, tatkala jiwa telah belajar dan mengolah ilmu, lalu memikirkan dan menganalisisnya, maka pintu kegaiban akan dibuka untuknya. Menurut Al-Ghazali, orang yang berpikir dengan benar akan menjadi Dzawil Albab (ilmuwan) yang terbuka pintu hatinya (kalbunya) sehingga akan mendapat ilham. Dalam al-Risalah al-Laduniyyah, al-Ghazali juga menjelaskan bahwa tafakkur pun merupakan salah satu cara untuk memperoleh ilmu laduni.
      Malik abadri mengungkapkan bahwa perwujudan tafakkur memiliki dan melalui tiga fase yang saling terkait. Fase pertama diawali dengan pengetahuan yang didapat dari persepsi empiris yang langsung melalui alat indera. Fase kedua adalah fase tawadhu’, yaitu pengungkapan rasa kagum terhadap ciptaan-Nya. Fase ketiga yaitu menghubungkan antara perasaan dan akan keindahan ciptaan dan kerapian tatanan alam dengan penciptanya yang maha agung dan maha tinggi. Fase keempat yaitu syuhud atau bashirah.

3.    Tazkiyyat al-Nafs (Penyucian Jiwa)  
       Secara etimologi, tazkiyyat adalah masdar dari kata zakkayuzakki-tazkiyah, yang berarti pembersihan atau penyucian. Sedangkan kata al-nafs umumnya diartikan sebagai “jiwa” atau “diri”. Sinonim dari tazkiyyah adalah tathhir yang artinya “membersihkan”. Yang konotasinya membersihkan sesuatu yang bersifat material atau jasmaniah yang biasa diketahui oleh indera-indera manusia. Sedangkan kata tazkiyyah konotasinya adalah membersihkan sesuatu yang bersifat psikis.
      Tazkiyyah al-Nafs adalah proses penyucian jiwa manusia. Proses ini dapat dilakukan melalui tahapan takhalli (menghilangkan / mengosongkan diri dari akhlak tercela) dan tahalli (menghiasi diri kita dengan akhlak terpuji). Kalangan sufi adalah orang-orang yang senantiasa menyucikan hati dan jiwa.

4.    Dzikrullah 
      Dzikir adalah mengingat. Secara istilah, dzikir adalah membasahi lidah dengan ucapan-ucapan pujian kepada Allah.
      Dzikir merupakan metode lain yang paling utama untuk memperoleh imu laduni. Pentingnya dzikir untuk mendapatkan ilmu ma’rifat didasarkan atas argumentasi tentang peranan dzikir itu sendiri bagi hati. Al-Ghazali dalam Ihya’ menjelaskan bahwa hati manusia tak ubahnya seperti kolam yang di dalamnya mengalir bermacam-macam air. Pengaruh-pengaruh yang datang ke dalam hati ada kalanya berasal dai luar, yaitu panca indra. Ada kalanya dari dalam, yaitu khayal (imajinasi), syahwat, amarah dan akhlak atau tabiat manusia.
      Dalam pandangan sufi, dzikir dapat membuka tabir alam malakut, yakni dengan datangnya malaikat. Dzikir merupakan kunci pembuka alam gaib, penarik kebaikan, pejinak was was dan pembuka kewalian. Dzikir juga berfungsi untuk menyucikan atau membersihkan hati.  












BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
       Dalam tasawuf, terdapat tingkatan / maqam. Untuk berada dekat dengan Tuhan, seorang sufi harus menempuh jalan yang panjang yang harus dilalui, yaitu tobat, zuhud, faqr, sabar,syukur, rela/ridha’ dan tawakkal. Di samping istilah maqam, terdapat istilah hal. Istilah hal yang dimaksud di sini adalah keadaan atau kondisi psikologis ketika seorang sufi mencapai maqam tertentu. Maqam dan hal tidak dapat dipisahkan. Keterkaitan antar keduanya dapat dilihat dalam kenyataan bahwa maqam menjadi prasyarat menuju Tuhan.
   Hal-hal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi yaitu: Waspada (muraqabah) dan Mawas Diri / Selalu Menghitung Amal Kebajikan (Muhasabah), cinta (mahabbah), berharap (Raja’) dan Takut (Khauf), rindu (syauq), dan Keintiman / Kedekatan Spiritual (al-Uns).
Untuk memperoleh ma’rifat, di samping melalui tahapan-tahapan maqamat dan ahwal, seseorang harus melalui upaya-upaya tertentu, yaitu metode ‘Irfani, di antaranya adalah riyadhah, tafakkur, Tazkiyyat al-Nafs (Penyucian Jiwa) dan dzikrullah.












DAFTAR PUSTAKA

Mahfud. 2019. Akhlak Tasawuf. Cirebon: At-Tarbi
penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "KERANGKA BERPIKIR ‘IRFANI : DASAR-DASAR FILOSOFI MAQAMAT DAN AHWAL”"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA