Pages

MAKALAH AKHLAK TASAWUF SEJARAH PERKEMBANGAN tasawuf akhlaqi (sallafi,alsafi,syi’i)


KATA PENGANTAR
           
Puji syukur kehadirat Allah atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah akhlak tasawuf
Sholawat serta salam semoga terlimpah curah kepada Baginda Besar Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing dari jaman jahiliyah hingga jaman yang penuh berkah ini.
Tidak lupa dalam pembuatan makalah ini berkat Ridho Allah SWT dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak untuk itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak khususnya pada dosen pengampu mata kuliah akhlak tasawuf dan teman-teman yang membantu dalam pembuatan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Dengan tangan terbuka kami menerima kritik dan saran guna penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.


Cirebon, 4 maret 2019


Penulis























DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................................................3
BAB I      PENDAHULUAN...............................................................................................4
A.    Latar Belakang...................................................................................................4
B.     Rumusan Masalah..............................................................................................4
C.     Tujuan Penelitian……………............................................................................4
BAB II                                                                                                                                                  PEMBAHASAN...................................................................................................................5
A.       Sejarah perkembangan tasawuf salafi (akhlaqi)................................................5
B.     Sejarah perkembangan tasawuf falsafi  .............................................................8
C.     Sejarah perkembangan tasawuf syi’i……...…...................................................9
BABIII                                                                                                                                         
KESIMPULAN……………………………………………….………………………….10
DAFTAR PUSTAKA……..………………………………………………………………11


















BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi dua arah perkembangan. Ada tasawuf yang mengarah pada teori perilaku;ada pula tasawuf yang mengarah pada teori yang begitu rumit dan memerlukan pemahaman yang leih mendalam. Pada perkembangannya, tasawuf yang berorientasi kea rah pertama di sebut sebagai tasawuf sallafi,tasawuf akhlaqi, atau tasawuf sunni. Ada pula tasawuf yang berorientasi kea rah kedua di sebut falsafi. Tasawuf jenis kedua banyak perkembangan para sufi yang berlatar belakang sebagai filosofi di samping sebagai sufi

B.     Masalah
a.       Bagaimana perkembangan sejarah tasawuf salafi (akhlaqi) ?
b.      Bagaimana perkembangan sejarah tasawuf falsafi ?
c.       Bagaimana perkembangan sejarah tasawuf syi’I ?

C.     Tujuan
a.       Agar kita dapat mengetagui perkembangan sejarah tasawuf salafi (akhlaqi)
b.      Bisa lebih memahami perkembangan sejarah tasawuf falsafi
c.       Bisa memahami perkembangan sejarah perkembangan syi’I



















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah perkembangan tasawuf salafi (akhlaqi)
Pada mulanya, tasawuf adalah perkembangan dari pemahaman  tentang makna institusi islam. Sejak zaman sahabat tabiin kecenderungan pandangan orang terhadap ajaran islam secar lebih analitis mulai muncul. Ajaran islam mereka dapat di pandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriah (seremonial) dan aspek batiniah (spiritual) atau aspek luar da aspek dalam . pedalaman dan pengalaman aspek dalamnya mulai terlihat sebagi hal yang paling utama tentunya tanpa mengabaikan aspek luarnya yang di motivasikan untuk membersihkan jiwa. Tanggapan perenungan mereka lebih berorientasi pola aspek dalam yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan keagungan tuhan dan bebas dari egoisme.
Sejarah dan perkembangan tasawuf salafi (akhlaqi) mengalami beberapa fase berikut :

1.      Abad kesatu dan kedua hijriah
Disebut pula dengan fase asketisme (zuhud). Sikap asketisme (zuhud) ini banyak di pandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Ini banyak dipandang sebagai pengantar kemunculan tasawuf. Fase asketisme ini tumvbuh pada abad pertama dan kedua hijriyah, pada fase ini, terdapat individu dari kalangan muslim yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah. Mereka menjalankan konsepsi asketis dalam kehidupan, yaitu tidak mementingkan makanan, pakaian apapun tempat tinggal. Mereka lebih banyak beramal ntuk hal-hal yang berkaitan dengen kehidupan akhirat yang memyebabkan mereka lebih memusatkan diri pada jalur kehidupan akhirat, yang menyebabkan mereka bial memusatkan diri pada jalur kehidupan dan tingkah laku yang asketis. Tokoh yang sangat popular dari kalangan mereka adalah Hasan al-bashri  (meninggal pada 110 H) dan Rabiah al-adawiyah (meninggal pada 185 H). kedua tokoh tersebut disebuti sebagai zalid.

2.      Abad ketiga hijriyah 
Sejak abad ketiga hijriyah para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal yang berkaitandengan jiwa dan tingkah laku. Perkembangan doktri –doktrin dan tingkah laku sufi di tandai dengan upaya menegakkan moral di tengah terjadinya dekadensi moral yang berkembang ketika iti, sehingga di tangan mereka, tasawuf pun berkembang ketika itu, sehingga di tangan mereka, tasawuf berkembang menjadi ilmu moral perkembangan keagamaan atau ilmu akhlak keagamaan. Pembahasan mereka tentang moral, akhirnya, mendorong untuik semakin mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan akhlak.
Mereka melaksankan amlan tasawuf dengan menmpilka akhlak atau moral yang terpuji dengan maksud memahami kandungan batiniah ajaran islam yang mereka niali banyak mengandung muatan anjuran untuk berakhlak terpuji. Kondisi ini mulai berkembang dalam kondisi lahiriah yang sangat formal dan cenderung kurang diterima oleh mereka yang mendemkan ko sisten pengelaman ajaran islam sampai pada aspek terdalam . oleh karena itu ketika menyaksikan kitidakberesan perilaku (akhlaq) di sekitarnya mereka mennamkan kembali akhlaq mulia. Pada masa ini tasawuf identic dengan akhlak.
Pada abad ketiga terlihat perkembangan tasawuf yang pesat, di tandai dengan adanya segolongan ahli tasawuf yang mencoba menyelidiki inti ajaran tasawuf yang berkembang masa itu.  Mereka membaginya menjadi tiga macam, yaitu :
a.       Tasawuf yang berintikan ilmu jiwa yaitu tasawuf yang berisi suatu metode yang lengkap tentang pengobatan jiwa, yang mengonsentrasikan kejiwaan akibat pengaruh kedunian dapat teratasi dengan biak.
b.      Tasawuf yang berintikan ilmi akhlaq yaitu di dlamnya terkandung petinjuk tentang cara berbuat baik serta cara menghindarkan keburukan yang dilengkapi dengan riwayat dari kasus yang pernah dialami oleh para sahabat nabi.
c.       Tasawuf yang berintifikasi metafisika yaitu didalmnay untyk ajaran menuliskan hakikat ilahi yang merupakan satu satunya yang ada dalam pengertian yang mutlak .

3.      Abad keemepat hijriah
Abad ini di tandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pusat dibandingkan dengan pada abad ketiga hijriyah karena usaha maksimal para ulama tasawuf untuk mengembangkan ajaran tasawuf msing-masing. Akibatnya kota bagdad yang hanya satu-satunya kota terkenla sebagai pusat kegiatan tasawuf yang paling besar sebelum masa itu  tersaingi oleh kota besar lainnya.
Upaya untuk mengembangkan ajran tasawuf di luar kota Baghdad di pelopori oleh beberapa ulam tasawuf yang terkenal kealimannya, antara lain :
a.       Musa al-anshary; mengajarkan ilmu tasawuf di khurasan (Persia atau iran ) dan wafat disana tahun 320 H.
b.      Abu hamid bin Muhammad ar-rubazy mengajarkan salah satu kota di mesir dan wafat disana tahun 322H.
c.       Abu zaid al-adamy mengajarkan di semenanjung arabiyah dan wafat disana tahun 314 H.
d.      Abu ali muhammmad bin abdil wahhab as saqafy mengajarkannya di naisabur dan kota syaraz hingga ia wafat tahun 328 H.
Perkembangan tasawuf di berbagai negeri dan kota tidak mengurangi perkembangan tasawuf di kota bagdad bahkan, penulisan kitab tasawuf di sana mulai bermunculan misalnya kitab QUTUBUL QULTIB FI MU’AMALATIL MAHBUB yang di karang oleh abu thalib al-makky (meninngal di bahdad tahun 386 H).
Dalam pengajaran ilmu tasawuf di berbagai negri dan kota, para ulam terebut menggunakan system terekat, sebagaimana yang dirintis oleh ulama tasawuf pendahuluannya. System tersebut berupa pengajrannya dari seorang guru terhadap murid muridnya yang bersifat teoritis serta bimbingan langsung mengenai pelaksanaan yang di sebut “suluk” dalam ajaran tasawuf.
Ciri lain yang dapat pada bad ini di tandai dengan semakin kuatnya unsur fiksafat yang mepengeruhi corak tasawuf, karena banyak bukunya filsafat ya g bersebar di kalnagan umat islam dari hasil terjemhannya orang-orang muslim sejak permulaan daulah abbasiyah. Pada abad ini pula mulai di jelaskan perbedaan ilmu zahir dan ilmu batin yang dapat di bagi oleh ahli tasawuf menjadi empat macam yaitu :
a.       Ilmu syariah
b.      Ilmu tariqah
c.       Ilmu haqiqah
d.      Ilmu ma’rifat.

4.      Abad kelima hijriyah
Pada abad kelima muncullah imam al-ghozali yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yang berdasarkan al-qur’an dan as-sunnah serta tujaun asketisme kehidupan sederhana pelusuran jiwa dan pembinaan moral. Di sisilain ia melancarkan ktitikannya tajam terhadap filosofi kaum mutazilah dan batiniyah. Al-ghozali yang berhasil memmancangkan prinsip tasawuf yang moderat tyang sering dengan aliran ahlusunnah wal jama’ah dan bertentangan dengan tasawuf al hajjal dan abu yazid al-bustami terutama mengenai soal karakter manusia.
Cenderung mengadakan pembaharuan yakni dengan mengembalikannya ke landasan al-qur’an dan Sunnah. Al-qusyairi dan al-harawi di pandang sebagai tokoh sufi yang menonjol pada abad ini yang memberi bentuk tasawuf sunni.
Tokoh lainnya yang seirama dengan qusyairi adalah abu ismail al anshari yang sering di sebut dengan al-harrawi. Ia mendasrakan tasawufnya pada doktrin ahlusunnah. Ia bahkan di pandang sebagai pengagas aliran pembaharuan dalam tasawuf dan penentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan seperti abu yazid al-bustami dan al-hajjal.
Tonggak yang menentukan bagi kejayaan tasawuf salafi akhlaqi. Pada abad tersebut tasawuf salafi tersebar luas di kalnagan dunia islam kondisi begitulah dalam berpancangan untuk jangka lam pada berbagai lapisan masyarakat islam.

5.      Abad keenam hijriyah
Sejak abad keenam hijrityah sebagi akibat pengaruh kepribadian al-ghazali yang begitu besar, pengaruh tasawuf sunni semakin meluas ke seluruh pelosok dunia islam. Keadaan ini memberi peluang bagi munculnya para tokoh sufi yang mengembangkan tarekat dalam rangak mendidik para muridnya seperti sayyid ahmad ar-rifai (meninggal pada tahun 570 H) dan sayyid abdul qadir al-jailani (meninggal pada tahun 651 H).
Tasawuf salafi sebagaimana dituturkan al-qusyairu dalam ar-risalah diwakili para tokoh sufi dari abad ketiga dan kemepat hijriyah iamam al-ghozali dan para pemimpin tarekat yang mengikutinya.
Al-ghazali di pandang sebagai pembela terbesar tasawuf salafi .pandangan tasawufnya seiring dalam para sufi aliaran pertama para sufi abad ketiga dan kemepat.
Tokoh tokoh tasawuf akhlaqi :[1]
a.       Hasan al-bashri
b.      Al-harist al-muhasibi
c.       Al-qusyairi
d.      Al-ghazali

B.     Sejarah perkembangan tasawuf falsafi
Tasawuf falsafi disebut juga tasawuf nazhari merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional sebagai pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf salafi(akhlaqi),tasawuf filosofis menggunkan termenologi filosofis dalam pengungkapannya. Termologi filosofis tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah memengaruhi para tokohnya. Tasawuf filosofis ini muncul dengan jelas dalam khazanah islam sejak abad keenam hijriyah meskipun para tokoh baru dikenal seabad kemidian. Sejak itu tasawuf jenis ini teru hidup dan berkembang terutama di kalangan paar sufi yang juag filosofi sampai menjelang akhir-akhir ini.
Ajaran tasawuf filosofis bercampur dengan sejumlah ajran filsafat yang laur islam seperti yunani Persia india dan agama nashrani. Para tokohnya meskipun memounyai latar belakang kebudayaan dan penegetahuan yang berbeda sejalan ekspansi islam yang telah meluas pada waktu itu tetap berusaha menjaga kemandirian ajaran terutama bila dikaitkan dengan kedudukan mereka sebagai umat islam.
Para sufi juga filsofis pendiri aliran tasawuf filosofis mebgenal baik filsafat yunani serta berbagai alirannya misalnya : Socrates,plato,aristoles,aliran stoa, alran neoplatonisme. Di samping itu mereka lebih paham ilmu di bidang seperti fiqih,hadis,tafsir mereka bercoral enislopedis dan latar belakang budaya yang bermacaam-macam.
Selama abad kelima hijriyah aliran tasawuf salafi terus tumbuh dan berkembang. Sebaliknya aliram tasawuf falsafi mulai tenggelam dan muncul kembali dengan bentuk nilai pada pribadi sufi yang juga filosofi pada ke empat hijriyah dan setelahnya. Tenggelamnya aliran kedua ini pada dasarnya merupakan imbas kejayaan aliran teologi ahlusunnah wal jamaah diatas aliran-aliran lainnya. Diantara kritik kerasa teologi ahlusunnah wal jamaah dialamatkan pada keekstreman tasawuf abu yazid al-bustami,al-hajjal,dan para sufi lain yang ungkapan-ungkapan nya terkenal ganjil termasuk kecamannya terhadap berbagai penyimpangan lainnya yang mulai timbul di kalangan tasawuf. Kejayaan tasawuf sunni diakibtakan oleh kepawaian abu hasan al-asy-ari (wafat 324 H) dalam mengagas pemikiran sunninya terutama dalam bidang ilmu kalam.
Sejak abad ke enam hijriyah muncul sekelompok tokoh tasawuf yang memadukan tasawuf mereka dengan filsafat dengan mereka teori yang setengan-setengah.artinya dis ebut murni tasawuf bukan dan disebut murni filsafat juga bukan. Di natar mereka terdapat syukhrawardi al maqyul (meninggal pada tahun 549 H) penyusun kitab hikmah al-isyraqiyah,syekh akbar muhyiddin ibnu arabi (meninggal pada tahun 638 H) penyair sufi mesir,ibnu Sab’in al-mursi (meninggal pada tahun 669 H) serta tokoh lainnya. Mereka banyak menimba berbagai dan pendapat yang asing,sperti filsafat yunani dan khusus nya nep plato nisme. Mereka pun banyak teori mendalam mengenai soal jiwa, moral, pengetahuan wujud dan sangat berniali baik di tinjau dari segi tasawuf maupun filsafat dan berdampak besar bagi para sifi muttakhir.
Dengan demikian jelas sekali adanya klarifikasi aliran tasawuf menjadi dua yaitu tasawuf sunni yang lebih beriortansi menampilkan pengokohan akhlak, dan tasawuf falsafi yakni aliran yang menonjolkan pemikiran filosofis dengan ungkapan ganjilnya (syahahiyat) dalam ajaran yang di kembangkan. Ungkpan syahahiyat bertolak belakang dari keadaan yang fana menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan ataupun hulut.
Tokoh pertama yang dapat di pandang sebagai tokoh tasawuf falsafi adalah ibn masarrah (dari cardova andalyuisa w. 319/1931). Ia pertama ayang menganut filosof di Andalusia dan sekaligus filosofis di dunia pertama.  Ia mneganut amanasi yang mirip dengan paham emanasi Plotinus (w 270 M) tingkatan wujud yang memanjarkan dari tuhan dalam pahamnya adalah amteri pertama yang bersifat rohani kemuadian akal universal di ikuti natur dan terakhir materi kedua bersifat murakkab (tersusun).
Sufi kedua dalah suhwardi al –maqtul (dari suhrawardi Persia di bunuh di Aleppo pada 587/1191) ia juga menganut paham emanisasi yang mirip e=dengan paham emanisi al farabi dan ibnu sina.
Tasawuf falsafi mencapai puncak kesempurnaan dari pengajaran ibn arabi (sufi Andalusia wafat di damarkus pada 638/1240) dengan pengetahuan yang amat kaya berhasil memnbuat karya antaranya futuhat al makkiyah dan fushush al hikam). Ajran sentral ibn arabi adalah tentang kesatuan wuud (wahdah al-wujud)  menurutnya wujud itu hanyalah satu itulah wujud berdiri dengan dirinya sendiri. Ituilah yang maha benar (al-haqq) atau tuhan.

C.     Sejarah perkembangan tasawuf syi’I
Di luar dua aliran tasawuf di atas ada juga yang memasukkan tasawuf aliran ketiga, yaitu tasawuf syi’I atau syiah. Pembagian tasawuf aliran ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisis kedekatan manusia dengan tuhan. Kaum syiah merupakan golongan yang dinisbatkan kepada pengikut ali bin abi thalib. Dalam sejarah setelah peristiwa perang shiffin (yakni perang antara pendukung kekhalifahan ali dengan pendukung muawiyah bin abu sufyan), para pendukung fanatic ali memisahkan diri dan banyak berdiam di daratan Persia.  Daratan Persia terkenl sebagai daerah yang telah banyak mewarisi tradisi pemikiran semenjak imperium Persia Berjaya dan Persia inilah kontak budaya antara islam dan yunani telah berjalan sebelum dinasti islam berkuasa disini. Ketika itu di daratan Persia sudah berkembang tradisi ilmiah. Pemikiran kefilsafatan juga sudah berkembang di dartan ini sebelum di wilayah islam lainnya.[2]
Perkembangan tasawuf sya’I bisa di tinjau dari melalui kacamata keterpengaruhan Persia oleh pemikiran filsafat yunani. Ibnu khaldun dalam muqadimah telah menyinggung soal kedekatan kaum syiah dengan pendekatan tasawuf. Pendekatan tasawuf filosofis dengan sekre ismaillah dan syiah. Sekte Ismailiyah inilah menyatakan terjadinya hulul atau ketuhanan para imam mereka.
Sementara itu azyumardi azra tidak membedakatan antara syiah dan sunni dalam persoalan tasawuf. Dengan alasan pertama tidak dikenal dengan termologi islam,yang disebut dengan tasawuf syi’I sebab yang ada hanyalah tasawuf dan tasawuf dibagi menjadi dua. Yang pertama tasawuf falsafi yang menekankan aspek filosofis. Tasawuf ini berkenaan dengan konsep muhabbah ma’rifah, hulul, wihdatul wujud dan lain spekulatif.
Kewalian sebagai hasil dari tuntutan kejalan kerohanian yang di anggap oleh para sufi sebagai kesempurnaan manusia adalah suatu keadaan yang menurut kepercayaan syiah di punyai sepenuhnya oleh imam melalui pencaran wujudnya oleh pengikut nya yang setia.sesuai dengan ucapan ahlul bait, imam dan menurut istilah kaum sufi “manusia universal” adlah menafstasi nama-nama ilahi dan binbingan kerohanian terhadap kehidupan dan perbuatan manusia.
Sumber-sumber bahwa pribadi muslim sendiri menemukan berbagai metode dana mal, dan kemudian diterima oleh tuhan seperti halnya kehidupan niasa dalam agama nashrani. Oleh karena itu para musyrid menyusun amalan-amalan tertentu yang dianggap perlu dalam metode kerohanian seperti bentuk ucapan murid oleh mursyid rinci yang didalamnya dzikir diajarkan kepada sang murid baru sebagaiman pengalaman pemakaian ubah kepadanya dan pengguna music nyanyian dan cara-cara menyebabkan fana (ekstase) selama menyebutkan nama-nama tuhan.
























 BAB III
KESIMPULAN
Dari segi linguistic tasawuf adalah sikap adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah,hidup  sederhana,rela berkorban untuk kebaiakn,dan selalu bersikap bijaksana. Sikap yang demiian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia yang mampu membentuk seseorang ke tingkat yang mulai.
Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonsterasi pada teori perilaku, akhlaq atau budi pekerti atau perbaiakn akhlaq. Dengan metode tertentu yang telah dirumuskan tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan mengwujudkan akhlaq mahmudah.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang diajarakan memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi,tasawuf falsafi menggunakan termologi filsofos dalam pengungkapannya.
Tasawuf syi’I atau syiah tasawuf aliran ketiga ini didasarkan atas ketajaman pemahaman kaum sufi dalam menganalisi kedekatan manusia dengan tuhan.















DAFTAR PUSTAKA

M.solihin &rosihin anwar.2008.ilmu tasawuf. Bandung ;pustaka setia
Mahfud. 2016.akhlak tasawuf. Cirebon ;al-tarbiyah pres.



                 



[1] Mahfud. 2016.akhlak tasawuf. Cirebon ;al-tarbiyah pres.



[2] M.solihin &rosihin anwar.2008.ilmu tasawuf. Bandung ;pustaka setia


penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "MAKALAH AKHLAK TASAWUF SEJARAH PERKEMBANGAN tasawuf akhlaqi (sallafi,alsafi,syi’i)"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA