Pages

PRINSIP KURIKULUM PENDIDIKAN DLAM ISLAM


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setelah kita bincangkan pada bab-bab yang lampau dalam buku ini tentang sebagian prinsip yang menjadi dasar pendidikan islam dan yang berkaitan dengan pandangan islam terhadap alam jagat, manusia, masyarakat, pengetahuan manusia, dan akhlak, begitu juga dengan tujuan-tujuan pendidikan islam dari segi konsep, unsur-unsur, ciri-ciri dan sebagian tujuan-tujuan individual dan sosial yang ingin dicapai oleh pendidikan islam, maka patutlah dalam bab ini kita berbincang dengan ringkas tentang salah satu unsur proses pendidikan dalam islam, yaitu kurikulum.
B.     Rumusan Masalah
a.       Apa pentingnya kurikulum pada pendidikan islam?
b.      Bagaimana konsep kurikulum pada pendidikan islam?
c.       Apa ciri-ciri umum bagi kurikulum pendidikan islam?
d.      Apa prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan islam?
e.       Apa saja dasar-dasar yang menjadi asas kurikulum pendidikan islam?
f.       Apa tujuan yang ingin dicapai oleh kurikulum pendidikan islam?
C.     Tujuan Masalah
a.       Untuk mengetahui pentingnya kurikulum pendidikann islam
b.      Untuk mengetahui bagaimana kosep kurikulum pendidikan islam
c.       Untuk mengetahui ciri-ciri umum kurikulum pendidikan islam
d.      Untuk mengetahui prinsip-prinsip umum kurikulum pendidikan islam
e.       Untuk mengetahui dasar-dasar yang menjadi asas kurikulum pendidikan islam
f.      Untuk mengetahui tujuan dari pendidikan islam
















BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pentingnya Kurikulum Dalam Pendidikan Islam
Pendidkan islam sepanjang masa kegemilangannya memandang kepada kurikulum pendidikan sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan mendorong mereka untuk membuka dan mengembangkan bakat-bakat, kekuatan-kekuatan, dan keterampilan mereka, sehingga merekaa bisa menjadi orang yang memiliki tanggung jawab terhadap dirinya, keluarga, masyarkat, bangsanya, dan turut serta untuk kemajuan masyarakat dan bangsanya. Juga untuk membentuk masa depan dan membinanya kembali bla dirasa perli. Ia juga lat untuk menciptakan perubahan yang diinginkan pada kebiasaan, kepercayaan, sikap, sistem dan gaya hidup masayarakat. Hal itu juga untuk menyediakan suasana yang sesuai bagi kemajuan dan perkembangannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya kepada pemimpin-pemimpin, ahli-ahli fikir, pekerja-pekerja terampil, dan profesionil-profesionil untuk turut serta memajukannya. Orang-orang islam baik pemerintah, pendidik, pembaharu-pembaharu, ibu-bapak, dan pelajar-pelajar selalu memandang kepada pendidikan dan pengajaran itu sebagai alat yang terbaik untuk membina peribadi pelajar dari segi individual dan sosial. Bagi kesempurnaan syarat-syarat kehidupan bahagia dan jalan yang terbaik untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya. Ia juga berupakan alat terbaik untuk membina masyarkat dan umat dan melaksanakan kebangkitan, kemajuan dan kekuatannya dari segi materil dan juga spirituil.
B.     Konsep Kurikulum Pada Pendidikan Islam
Esensi kurikulum adalah program. Kurikulum ialah program dalam mencapai tujuan pendidikan. Pada umumnya isi kurikulum ialah nama-nama mata pelajaran beserta silabinya atau pokok bahasan. Tetapi sebenarnya kurikulum tidak harus berupa nama mata pelajaran, dapat saja berupa nama kegiatan. Jika kurikulum berorientasi kompetensi maka kamu akan menerima kurikulum yang isinya daftar kompetensi serta indikatornya. Sekalipun isinya bermacam-macam namun isi kurikulum tetap saja berupa program dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum dalam bahasa arab “manhaj” yaitu jalan yang terang, ataujalan terang yang dilalui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya, maksudnya yakni jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilathnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka.
Kurikulum dalam pengertian sempit itu terbatas pada maklumat-maklumat dan pengetauan-pengetahuan yang dikemukakan oleh guru atau sekolahatau institusi pendidikan lain dalam bentuk mata pelajaran yang terbatas atau dalam bentuk kitab-kitab sekolah tradisioal tertentu dari berbagai buku peninggalan, lama-lama dikaji oleh murid dalam tiap tahun pada pendidikannya. Kurikulum pada sebagian besar dunia Islam pada periode terakhir dalam sejarahnya sebelum berkenalan dengan konsep pendidikan modern, terdiri dari beberapa buku tradisional, pada tiap cabang ilmu atau seni yang ingin dikaji, yang bertahap-tahap derajat kesulitannya dan luasnya sesuai tahap pelajaran murid-murid.
Kurikulum juga dapat diartikan sesuai dengan fungsinya sebagai berikut:
1.        Kurikulum sebagai program studi, yakni kurikulum sebagai seperangkat mata pelajaran yang mampu dipelajari anak didik di sekolah atau di lembaga pendidikan yang lain.
2.       Kurikulum sebagai konten, yakni data atau informasi  yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lain yang memungkinkan timbulnya belajar.
3.       Kurikulum sebagai kegiatan berencana, yakni kegiatan yang direncanakan secara sistematis untuk mencapi tujuan yang diinginkan.
4.      Kurikulum sebagai hasil belajar , yakni seperangkat tujuan yang utuh untuk memperoleh suatu hasil tertentu tanpa memsfesifikasi cara-cara yang digunakan untuk memperoleh hasil belajar yang telah direncanakan dan diinginkan.
5.       Kurikulum sebagai reproduksi cultural, yakni transfer dan refleksi butir-butir kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda asyarakat tersebut.
6.      Kurikulum sebagai pengalaman belajar, yakni keseluruhan pengalaman belajar yang direcanakan di bawah pimpinan penyelenggara pendidikan.
7.       Kurikulum sebagai produksi, yakni seperangkat tugas yang harus dilkukan untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan terlebih dahulu. 
Kurikulum adalah termasuk aspek-aspek utama dalam proses pendidikan yang mendapat kecaman keras dan ditunjukkan cacat cela dan aspek-aspek kekurangannya dan ingin dikembangkan, diperbaiki dan dirubah konsepnya.
Konsep kurikulum meliputi semua pengalaman, aktivitas-aktivitas suasana dan pengaruh-pengaruh yang diberikan kepada murid-murid atau mereka mengerjakan atau mereka menjumpai alam sekolah dan dibawah kelolaan sekolah. Kurikulum bukan hanya meliputi matapelajaran dan pengalaman-pengalaman yang tersusun yang berlaku dalam kelas, tetapi meliputi semua kegiatan kebudayaan, kesenian, olahraga dan sosial yang dikerjakan oleh murid-murid di luar jadwal waktu dan di luar kelas dalam dan dibawah kelolaan sekolah.
 Kecaman-kecaman yang dilontarkan kepada kurikulum tradisional mungkin sesuai dengan kurikulum pengajaran di dunia Islam pada zaman-zaman terakhir sebelum permulaan masa kebangkitan modern, yaitu zaman dunia Islam ditimpa oleh keterbelakangan dan kelemahan dalam segala bidang ilmiah, budaya, ekonomi dan politik, tetapi tidak seorangpun dapat menyatakan bahwa kecaman-kecaman itu dapat diterapkan kepada kurikulum pengajaran dalam dunia Islam dalam zaman keemasannya yang pertama: zaman kekuatannya dari segi politik dan kemajuan ilmiah dan budaya. Sebab kurikulum pengajaran pada masa itu lebih maju daripada zamannya, menyeluruh pada kandungannya, meluas pada sifat-sifatya, menghimpun antara ilmu-ilmu akal, antara kajian teoritis dan pelaksanaanya yang praktis, dan mengakui kegiatan luar yang berlaku di luar kelas.
C.  Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Di antara ciri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam, berdasarkan apa-apa yang telah kita sebutkan, dapat disebutkan secara ringkas sperti berikut:
Ciri pertama:
Menonjolnya tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan tekniknya bercorak agama. Segala yang diajarkan dan diamalkan dalam lingkungan agama dan akhlak dan berdasar pads al-qur’an, sunnah, dan peninggalan orang-orang terdahulu yang saleh. Dan dimaksdkan dengannya mencapai tujuan-tujuan agama dan akhlak atau tujuan-tujuan kemanfaatan yang tidak bertentangan dengan agama dan akhlak. Diantar bukti-bukti yang menujukan ke situ adlah firman allah swt pada permulaan surat al-alaq yang artinya:
“bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan......................(al-alaq:1)
Maka bacaan yang menjadi permulaan menuntut ilmu dan merupakan jalannya dan juga sebagai tanda  yang menunjukan kepadanya, haruslah dengan nama pencipta dan dalam rangka ajaran-ajaran agamanya. Tidak boleh dengan nama hawa nafsu, dengki fanatisme warna kulit dan darah.
Ciri kedua:
Meluasnya perhatiannya dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya. Kurikulum yang betul mencerminkan semangat, pemikiran, dan ajaran-ajarannya adalah kurikulum yang luas dan menyeluruh dalam perhatian dan kandungannya. Disamping itu dia juga dalam perhatiannya. Ia memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek peribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis, sosial dan spiritual. Di samping itu dia juga luas kandungannya termasuk ilmu-ilmu, tugas-tugas dan kegiatan-kegiatan yang bermacam-macam. Tampak bersifat ensiklopedia, terutama pada tahap pendidikan tinggi. Pelajar tidaklah merasa adanya kesulitan dalam agamanya dan masyarakat islam untuk mengaji sesuatu ilmu atau seni yang akan menambahkan keimanan, ketentraman jiwa, kefahaman kepada hukum-hukum agama, memperluas pengetahuan dan pandangan, memahami seluk beluk alam jagat yang mengelilinginya dan memahami rahasia dan undang-undangnya, juga menambah semangatnya dalam berhidmat kepada diri dan masyarakat.
Ciri ketiga:
Ciri-ciri keseimbangan yang relatif di antara kandungan-kandungan kurikulum dari ilmu-ilmu dan seni, atau kemestian-kemestian, pengalaman-pengalaman, dan kegiatan-kegiatan pengajaran yang bermacam-macam. Kurikulum dalam pendidikan islam, sebagaimana ia terkenal dengan menyeluruhnya perhatian dan kandungannya, juga menaruha perhatiannya untuk mencpai perkembangan yang menyeluruh, lengakap-melengkapi dan berimbang antara orang dan masyarakat. Itu juga menaruh perhatian pada segala ilmu-ilmu, seni, kegiatan-kegiaran pendidikan yang berguna dalam bentuk keseimbangan yang wajar yang menjaga agar setiap ilmu, seni dan kegiatan itu mendapat perhatian, pemeliharaan dan penjagaan yang patut dipunyainya. Yaitu sesuai manfaat yang dapat diberinya kepada peribadi dan masyarakat.
Ciri keempat:
Ialah kecenderungan pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, pengetahuan teknik, latihan kejuruan, bahasa-bahasa asing, sekalipun atas dasar perorangan dan juga bagi mereka yang memiliki kesediaan dan bakat bagi perkara-perkara baru, tapi hanya menguatkan dua ciri yang lalu, yaitu ciri-ciri menyeluruh dan keseimbangan. Ia menekankan bahwa sifat menyeluruh dan keseimbangan pada kandungan kurikulum tidak terbatas pada ilmu-ilmu teoritis, baik yang bersifat naqli maupun aqli
Ciri kelima:
Ciri-ciri kelima adalah perkaitan antara kurikulum dalam pendidikan islam dengan kesediaan-kesediaan pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan peseorangan di antara mereka. Juga perkaitan dengan alam sekitar budaya dan sosial di mana kurikulum itu dilaksanakan. Juga berkaaitan dengan kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah masyarakat islam yang selalu berkembang. Begitu juga dengan perkembangan, perubahan dan sifatnya selalu baru sesuai dengan tuntunan kehidupan yang selalu berkembang, berubah, dan membaharui diri. Begitu juga dengan pertalian mata pelajaran, tugas-tugas, dan perkembangannya yang logis sesuai dengan perkembangan yang terus-menerus pada pelajar.
D.    Pinsip Umum Yang Menjadi Dasar Kurikulum Pendidikan Islam
Tentang prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan islam, maka yang terpenting adalah yang berikut:
Prinsip pertama:
            Perinsip pertama adalah pertautan yang sempurna dengan aggama, termasuk ajaran-ajaran dan nilainya. Maka setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk falsafah, tujuan-tujuan, kandungan-kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga-lembaga pendidikan harus berdsar pada agama dan akhlak islam, harus terisi dengan jiwa agama islam, keutamaan-keutamaan, cita-citanya yang tinggi, dan bertujuan untuk membina peribadi yang mukmin, kemauan yang baik, dan hati murni yang selalu waspada. Perinsip ini wajib dipelihara bukan hanya pada ilmu-ilmu syariat dan pengajian islam, tetapi pada segala yang terkandung oleh kurikulum termasuk ilmu-ilmu akal, fisik, profesional, dan segala macam kegiatan dan pengalaman, sebab semuanya harus berjalan dalam rangka agama dan akhlak dan berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan spiritual dan akhlak.
Perisip Kedua:
Prinsip kedua adalah perinsip meneyeluruh (universal) pada tujuan dan kandungan-Kandungan kurikulum. Kalau tujuan-tujuannya haus meliputi segala aspek peribadi pelajar, maka kandungan-kandungannya harus meliputi juga segala yang berguna untuk membina peribadi pelajar yang berpadu dan membina akidah, akal, dan jasmaniyah, begitu juga bermanfaat bagi masayarakat dalam perkembangan spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi dan politik, termasuk ilmu-ilmu agama, bahasa, kemanusiaan, fisik, peraktis, profesional, seni rupa, dan lain-lain lagi
Perinsip ketiga:
Perinsip ketiga adalah keseimbangan yang relatif anatara tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum. Kalau ia memberi perhatian besar pada perkembangan aspek spiritual dan ilmu-ilmu syariat, tidaklah ia membolehkan aspek spiritual itu melampaui aspek-aspek penting yang lain dalam kehidupan, juga tidak boleh ilmu-ilmu syariat melampaui ilmu-ilmu, seni, dan kegiatan-kegiatan yang alain yang tak dapat tidak harus di adakan untuk individu dan masyarakat. Oleh sebab agama islam yang menjadi sumber ilham kurikulum dalam mencipta falsafah dan tujuan-tujuannya, menjasamani, akal, dan jiwa, dan kebutuhan-kebutuhan tiap segi ini, oleh sebab itu ia meminta kaum muslimin memilih jalan tengah, keseimbangan dan kesederhanaan dalam segala sesuatu.
Perinsip Keempat:
Perinsip keempat adalah perkaitan dengan bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar begitu juga dengan alam sekitar fisik dan sosial di aman pelajar itu hidup dan beriteraksi untuk memproleh pengetahuan-penegtahuan, kemahiran-kemahiaran, pengalaman, dan sikapnya sebab dengan memelihara perinsip ini kurikulum akan lebih sesuai dengan sifat semula jadi pelajar, lebih memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan lebh sejalan dengan suasana alam sekitar dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.
Perinsip Kelima:
Perinsip kelima adalah pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual di antara pelajar-pelajar dan bakat-bakat, minat, kemampuan-kemampuan, kebutuhan-kebutuhan, masalah-masalahnya, dan juga memelihara perbedaan-perbedaan dan juga kelainan-kelainan di antara alam sekitar dan masyarakat. Karena pemeliharaan ini dapat menambahkan kesesuian kurikulum dengan kebutuhan-kebutuhan pelajar dan masyarakat dan menambahkan fungsi dan gunanya, sebagimana ia menambahkankeluwsannya.
Perinsip Keenam:
Perinsip keenam adalah pernsip perkembangan dan perubahan. Isla yang menjadi dasar sumber pengambilan falsafah, perinsip-perinsip, dasar-dasar kurikulum. Metode mengajar pendidikan islam menclea keras sifat meniru (taklid) secara membabi buta dan membeku pada yang kuno yang diwarisi dan mengikut tanpa selidik. Oleh sebab itu menjadi kewaajiban kaum muslimin menegmbangakan dan merubah kurikulum pendidikannya bila terasa bahwa adalah menjadi masalat bagi masyarakat islam kalu perkembangan perubahan itu dijalankan.
Perisip Ketujuah:
Perinsip ketujuh adalah perinsip pertautan dalam antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman, dan aktiviti yang terkandung dalam kurikulum. Begitu juga dengan pertautan antara kandungan-kandungan kurikulum dan kebutuhan-kebutuhan murid-murid, masyarakat, tuntutan-tuntutan zaman tempat di mana murid-murid itu berada.
E.     Dasar-Dasar Umum Yang Menjadi Asas Kurikulum Pendidikan Islam
Kurukulum sebagai salah satu komponen pendidikan yang berperan sangat besar, dapat pula disebut sebagai jantung dari sebuah pendidkan. Kurikulum berperan untuk mewujudkan tujuan pendidikan, sehingga dalam penyusunannya sangat perlu diperhatikan, karena satu kesalahan dapat mengganggu tercapainya tujuan pendidikan.
Adapun dasar dalam menjadi landasan kurikulum pendidikan Islam :
1.       Dasar Agama
Segala sistem pendidikan Islam harus meletakkan dasar falsafat, tujuan, dan kurikulumnya pada agama Islam atau syariat Islam dengan segala kandungannya. Semua itu kembali kepada dua sumber utama dalam Islam, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Nabi SAW.
Sesudah kedua sumber ini barulah menggunakan sumber-sumber cabang yang lain yang digunakan untuk menjelaskan hukum atau aturan umum dari kedua sumber utama pendidikan Islam. Diantara sumber-sumber cabang yang lain yang digunakan yaitu ijma’, qiyas, kepentingan umum, dan yang dianggap baik (istishsan). dari keseluruhan inilah pendidikan Islam mengambil falsafah, tujuan-tujuan, matlamat-matlamat, dasar-dasar kurikulum, dan metodenya. Berdasarkan hal tersebut, kurikulum berdasar agama harus mampu mencakup pembinaan iman yang kuat. Kurikulum juga harus menanamkan dalam jiwa yang berlandaskan ajaran agama dan akhlak yang kuat.
Untuk mencapai tujuan yang dihaapkan, haruslah kurikulum dalam pendidikan agama Islam dan menyeluruh kandungan-kandungannya, melebihi ilmu-ilmu agama dan alat-alatnya termasuk tafsir, hadis, fiqih, dasar-dasar akidah, ilmu hadis, usul fiqih, nahwu, sharaf, balagah, adab, dan lain-lain. Sehingga harus mengandung segala ilmu yang bermanfaat dalam agama dan dunia termasuk falsafah, tarkh, ilmu alam, ilmu falaq, kedokteran, matematika, teknik, sains, fisik, dengan segala cabang-cabangnya dan lain-lain ilmuyang berguna, selama kajian tersebut berlaku dalam rangka akidah dan akhlak.
2.       Dasar Falsafah
Menurut Muhammad Ali (1989), dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidikan Islam, dengan dasar filosufis, sehingga susunan kurikulum mengandung suatu kebenaran, terutama kebenaran di bidang nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini sebagai suatu kebenaran. Dasar filosufis mengandung sistem nilai, baik yang berkaitan dengan nilai dan makna hidup dan kehidupan, masalah kehidupan, norma norma yang muncul dari individu, sekelompok masyarakat, maupun suatu bangsa yang dilatar belakangi oleh pengaruh agama, adat istiadat, dan konsep individu tentang pendidikan.
Asas filosofis membawa rumusan kurikulum pendidikan Islam kepada tiga dimensi: ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dimensi ontologi mengarahkan kurikulum agar lebih banyak memberi anakdidik kesempatan untuk berhubungan langsung dengan fisik-fisik objek-objek. Pada mulanya, dimensi ini diterapkan oleh Allah swt.dalam pengajaran-Nya kepada Nabi Adam dengan memberitahukan atau mengajarkan nama-nama benda (Q.S Al-Baqarah [2]:31), dan belum sampai pada tahap penalaran atau pengembangan wawasan; Dimensi epistemologi adalah perwujudan kurikulum yang sah harusberdasarkan pada metode konstruksi pengetahuan yang disebut dengan metode ilmiah yang sifatnya mengajak berpikir menyeluruh, reflektif dan kritis, implikasi dimensi epistemologi dalam rumusan kurikulum, isinya cenderung fleksibel karena pengetahuan yang dihasilkan bersifat tidak mutlak, tentatif, dan dapat berubah-ubah (Q.S AlBaqarah [2]:26-27); dan dimensi aksiologis, mengarahkanpembentukan kurikulum yang direncanakan sedemikian rupa agar memberikan kepuasan pada diri anak didik untuk memiliki nilai-nilai yang tidak dinginkan. Tugas ketiga dimensi tersebut merupakan kerangka dalam perumusan kurikulum pendidikan Islam. Dari berbagai macam filsafat, pada dasarnya menjadikan khasanah pemikiran intelektual di bidang kurikulum pendidikan Islam lainnya, semakin banyak pula kontribusi teori dan konsep. Teori dan konsep yang ditimbulkan dari berbagai macam aliran filsafat tidak dapat begitu saja diterima atau ditolak, namun diseleksi terlebih dahulu dan hasilnya dimodifikasi pada khazanah kurikulum pendidikan Islam.
3.       Dasar Psikologi
Berkaitan dengan ciri-ciri perkembangan individu peserta didik, tahap kematangannya, bakat-bakat jasmani, intelektual, bahasa, emosi, dan sosial, kebutuhan-kebutuhan, minat, kecakapan yang bermacam-macam, perbedaan individual, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, proses belajar, pengamatan peserta didik dan lain-lain yang bersifat psikologis.
Persoalan ini tidak diabaikan oleh pendidikanIslam dalam kurikulum dan metod pengajarannya. Pemikiran pendidikan Islam pada keseluruhannya mengajak dan menggalakan untuk membuat kurikulum ini sejalan dengan ciri-ciri perkembangan pelajar; sesuai dengan tahap kematangan dan bakatnya pada berbagai segi perkembangan; memperhatikan kecakapan, kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, sifat proses belajar, pengamatan, pemikiran dan perbedaan perseorangan dengan orang lain; menggalakan belajar; mencurahkan tenaga dan turut serta dengan aktif dalam proses pendidikan;  dan membantu memperoleh pengetahuan, kemahiran dan sikap yang diperlukan.
4.       Dasar Sosial
Berkaitan dengan ciri-ciri masyarakat Islam yang berlaku proses pendidikan dan kebudayaan masyarakat ini yang bersifat umum atau bersifat khusus.
Tugas kurikulum sendiri berdasar pada dasar sosial, ini adalah agar ia turut serta dalam proses pemasyarakatan bagi pelajar-pelajar; penyesuaian mereka dengan masyarakat Islam tempat mereka tinggal; memperoleh kebiasaan dan sikap yang baik pada masyarakatnya dan cara berfikir serta beringkah laku yang di inginkan, caara bergaul yang sehat, sikap kerjasama, menghargai tanggung jawab dan kesediaan berkorban membela akidah, tanah air, pengetahuan dan kemahiran yang akan menambahkan produktivitas dan keturut sertaan mereka dalam membina umat dan bangsa.
Keempat asas tersebut sebaiknya dijadikan landasan dalam menyusun kurikulum pendidikan Islam. Keempat asas tersebut bukan merupakan asas yang berdiri sendiri, melainkan saling berikatan dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari asas-asas yang lain. Sehingga membentuk kurikulum islam yang terpadu.
Tujuan-Tujuan Kurikulum Pendidikan Islam
a)      Pembinaan individu atau warganegara yang beriman kepada Rukun Iman
b)     Pembinaan pribadi muslim yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan berakhlak yang mulia.
c)      Pembiaan warganegara yang sehat, dan kuat.
d)     Pembinan pribadi yang berimbang pada motivasi dan keinginan-keinginan yang sesuai dengan diri dan dengan orang lain.
e)      Pembinaan warganegara yang dipersenjatai dengan ilmu dan pengetahuan
f)      Menciptakan warganegara yang terdidik pada perasaan seni dan sanggup menikmatinya, menghargai dan merasakan keindahan dalam berbagai bentuk dan macamnya.
g)     Membentuk warganegara yang memiliki kemampuan social, ekonomi dan politik
h)     Memperkokoh kehidupan agama
i)       Meneguhkan bahas arab yang tulen dan menjaganya dari factor-fatktor yang menghancurkan
j)       Pembinaan masyarakat islam yang mulia
k)     Pembinaan masyarakat yang kuat dan maju dari segi ekonomi
l)       Turut serta melaksanakan perdamaian dunia berdasar pada kebenaran, keadilan, toleransi, saling mengerti, kerjasama, dan saling hormat menghormati.








BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kurikulum yakni jalan terang yang dilalui oleh pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilathnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mereka. Pada umumnya isi kurikulum ialah nama-nama mata pelajaran beserta silabinya atau pokok bahasan. Tetapi sebenarnya kurikulum tidak harus berupa nama mata pelajaran, dapat saja berupa nama kegiatan.
Ciri-Ciri Umum Kurikulum Pendidikan Islam diantaranya menonjolnya tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungannya; meluasnya perhatiannya dan menyeluruhnya kandungan-kandunganya; menaruh perhatian untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh; melebihi ilmu-ilmu teoritis ini sampai pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, ilmu-ilmu teknik dan latihan kejuruan dalam segala pekerjaan, pertukangan dan bahasa-bahasa asing, dan hal lai yang dianggap kurikulum modern sebagai kandungannya, berkaitan dengan kesediaan-kesediaan pelajar-pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan-perbedaan perseoranga diantara mereka dan dengan alam sekitar budaya dan sosial.
Prinsip kurikulum pendidikan islam: Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, prinsip perkaitan dengan bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar, begitu  juga dengan  alam sekitar fisik  dan social dimana pelajar itu hidup dan berinteraksi  untuk memperoleh pengetahuan-pengetahuan, kemahiran, pengalaman, dan sikapnya, pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual diantara pelajar-pelajar dalam bakat-bakat, minat, kemampuan-kemampuan, kebutuhan-kebutuhan, dan masalah-masalahnya, dan juga memelihara perbedaan-perbedaan dan kelainan-kelainan diantara alam sekitar dan masyarakat, prinsip perkembangan dan perubahan, prinsip pertautan antara mata pelajaran, pengalaman-pengalaman-pengalaman dan aktiviti yang terkandung dalam kurikulum.
Tujuan-Tujuan Kurikulum Pendidikan Islam seperti pembinaan individu atau warganegara yang beriman kepada Rukun Iman, pembinaan pribadi muslim yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan berakhlak yang mulia, pembiaan warganegara yang sehat, dan kuat dll.







DAFTAR PUSTAKA

 

Tafsir; Ahmad2006,Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya,
Al-Syaibani, Omar Mohammad Al-Toumy, 1979,Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta:Bulan Bintang.
Aziz, Abd, 2009, Filsafat Pendidikan Islam: sebuah gagasan membangun pendidikan islam,Yogyakarta:Sukses Ofset



penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

1 Response to "PRINSIP KURIKULUM PENDIDIKAN DLAM ISLAM"

  1. https://penapejuang181097.blogspot.com/2019/12/prinsip-prinsip-yang-menjadi-dasar.html?showComment=1579794379161#c1775238463600758941

    ReplyDelete

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA