Pages

PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami telah  menyelesaikan penyusunan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
 Tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam” yaitu penyusunan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
            Meskipun penyusun telah berusaha dengan sebaik baiknya, penyusun menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang membangun makalah ini, penyusun harapkan guna perbaikan makalah yang selanjutnya.
            Akhir kata, penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi para pembacanya.



                                                                                                                                Cirebon, 15 Oktober  2019






 
 
 
 
 
 
BERIKUT ADALAH PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA
BAB 1
PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG
Setelah kita mengkaji mengenai prinsip serta tanggapan Islam terhadap jagat dan penciptanya maka dalam makalah ini akan kita pelajari beberapa prinsip yang menjadi dasar falsafah pendidikan Islam. Hal itu sekedar yang berhubungan dengan wujud insan pengertian dan ciri-cirinya. Pembicaraan tentang wujud insan adalah amat penting dalam kontek falsafah umum dan falsafahh pendidikan. Tidak akan sempurna falsafah tanpa penjelasan pendiriannya tentang insan, konsep insan baik tentang watak, ciri-ciri penting dan aspek-aspek yang membentuknya.
  1. RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja prinsip-prinsip yang menjadi Dasar Pandangan Islam terhadap Manusia?
2.      Jelaskan masing-masing prinsipnya?
3.      Ada berapa prinsip yang ada pada dasar pandangan islam terhadap manusia?
  1. TUJUAN
1.      Untuk mengetahui apa saja prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan islam terhadap manusia?
2.      Untuk mengetahui penjelasan mengenai prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan islam terhadap manusia?
3.      Untuk mengetahui berapa banyak prinsip yang menjadi dasar pandangan islam terhadap manusia?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Prinsip kelima
            Meyakini bahwa insan dengan seluruh perwatakan dan ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan lingkungan. Dan faktor ini mempengaruahi insan dan berinteraksi dengannya sejaka hari pertama ia menjadi embryo hingga ke akhir hayat. Oleh karena itu, begitu kuat dan bercampur aduknya peranan dan faktor ini maka susah sekali untuk merujukan perkembangan tubuh atau tingkah laku secara pasti kepada salah satu dari dua faktor. Kecuali dalam beberapa keadaan pertumbuhan jasmani itu boleh dirujukkan kepada faktor keturunan.
            Pertumbuhan jasmani tidak semestinya senantiasa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Pertumbuhan kepribadian dan kecenderungan sosial tidak semestinya senantiasa dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Kadangkala pertumbuhan jasmani dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Disamping itu bnayak pula kita dapati fenomena akhlak dan sosial dipengaruhi oleh kesediaan-kesediaan semula yang organik seperti kadar hormon yang di pancarkan oleh kelenjar, keadaan saraf dan pelancaran peredaran darah dan sebagainya. Jadi bisa dikatakan bahwa pertumbuhan akal dan emosi juga dipengaruhi oleh faktor keturunan dan lingkungan.
            Kesediaan permulaan seumpama sebiji benih. Jika dismaikan di atas tanah yang sesuai maka benih akan menumbuhkan pohon atau tumbuh-tumbuhan yang diharapkan. Sekiranya di semaikan di tanah yang tandus maka ia tidak akan menumbuhkan apa yang sepatutnya. Sebaliknya, walaupun bagaimana subur nya tanah semaian, namun benih tidak akan dapat menghasilkan tanaman yang baik jika benih yang di semaikan ialah benih yang buruk. Baca juga : Prinsip Yang Menjadi Dasar Pandangan Islam Terhadap Masyarakat
            Demikian juga halnya dengan kecerdasan. Kita tidak akan dapat mendidik dan mengharap seorang yang menjadi pintar atau genius walau bagaimana suburnya lingkungan di sekelilingnya. Yang dimaksud dengan keturunan diatas ialah ciri dan sifat yang diwarisi dari bapak, kakek, menurut kadar yang berlainan. Beberapa faktor keturunan tidaklah merupakan suatu yang kaku hingga tidak bisa dipengaruhi. Ajaran islam seperti yang tertera dalam ayat-ayat al-quran, hadits nabi, dan pendapat para ahli meskipun tidak menentukan tentang faktor lingkungan dan keturunan sebagai faktor pokok yang mempengaruhi pertumbuhan insan.
            Disamping itu pengaruh baka dalam pengertiannya yang luas di bagi menjadi 2 pokok bagian :
         I.            Baka Tabi’i atau fitrah pertama asli (internal) yang dipindahkan oleh jaringan-jaringan benih.
      II.            Baka sosial luar external. Yang memindahkan ciri baka ini ialah faktor di luar diri. Secara mudahnya bisa disebut dengan unit-unit sosial. Inti unit ini ialah keluarga. Media yang berperan memindahkan ciri baka ini adalah pancaindera, akal, tradisi, tingkatan serta jenis interaksi sosial yang beraneka ragam.  Baca Juga :PENGERTIAN MANAJEMEN DAN FSIKOLOGI MANAJEMEN
Antara ayat-ayat Al-Quran dan hadits nabi yang dapat dibaca oleh penyelidik yang menandaskan prinsip ini ialah firman allah swt:
“ Dan allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur .” (An-Nahl:78)
“(tetaplah atas) fitrah allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Rum:30)  
“Bukankah kami telah memberikan kepadanya dua biji mata, lidah dan dua bibir. Dan kami telah menunjukan kepadanya dua jalan?” (al Balad: 8-10).
            Masih banyak ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang bisa didapat oleh penyelidik yang mengisyaratkan tentang pengaruh faktor baka dan lingkungan dalam membentuk insan dan dalam membiasakannya dengan bermacam-macam sifat.
B.     Prinsip Keenam
            Menginsafi bahwa manusia mempunyai motivasi, kecenderungan dan kebutuhan permulaan baik yang di warisi atau yang diperoleh dalam proses sosialisasi. Yaitu yang diperoleh ketika berinteraksi dengan elemen lingkungan yang bersifat benda, manusia atau kebudayaan.
            Prinsip ini ada perkaitan erat dengan prinsip dahulu yang menandaskan soal pengaruh lingkungan dan baka dalam tingkah laku manusia. Prinsip ini juga merupakan hasil yang logik dari prinsip sebelumnya. Apabila kita akui tentang pengaruh faktor baka dan ingkungan maka artinya kita juga harus mengakui adanya dua sifat: pertama yang bersifat warisan, yang kedua yang dipelajari atau diperoleh.
            Antara sifat warisan ialah kecerdasan termasuk daya-daya intelektual yang berhubungan dengannya, bakat seni, doorongan mencari minuman, makanan, pakaian, perlindungan, sex. Sebagian ulama memperluas arti sifat ini sehingga merangkum kecenderungan beragama, beriman dengan zat tertinggi, suka mengaji, kecenderungan untuk menyatakan diri dan bermasyarakat dan lain-lain. Antara sifat yang diperoleh ialah kemampuan berbahasa, dan mengetahui, keahlian, kemahiran, kecenderungan, adil, tradisi, nilai-nilai akhlak, sosial dan lain-lain.
Salah satu ciri insan ialah adanya daya kontrol (kendali) yang menghindarkan dirinya dari penyelewengan oleh dorongan jiwanya. Daya ini merupakan alat keselmatan mengelakannya dari kebinasaan. Dalam wkatu yang sama ia mampu mengarahkan energi dan tenaga insan ke arah kerja dan bidang lebih tinggi dan luhur dari hanya sekedar menyahut panggilan naluri. Ia mengarahkan insan agar menjalankan fungsi luhurnya sebagai khalifah Allah di bumi. Keduanya dorongan dan daya kontrol ini beroprasi secara serentak.
Wujud yang harmonis antara dorongan-dorongan dan daya kontrol yang disadari menjadi hidup insan berbeda dengan hewan yang tidak punya daya kontrol yang sadar. Kehidupan insan yang demikian ini berbeda dengan kehidupan malaikat yang tidak mengenal dorongan kemanusiaan atau kehewanan.
Wujud insan yang menghimpunkan dorongan dan dengan kontrol inilah yang membolehkan wujudnya tujuan hidup bagi insan. Tujuan yang di insafi di fahami merangkum tiap dorongan secara tersendiri dan keseluruhan dorongan-dorongan itu. Wujud demikian menyatakan kecintaan manusia kepada hidup dalam berbagai ragam dan cara berbeda dengan cara realisasi cinta hidup di kalangan hewan atau makhluk lain.
Selama insan tidak dapat dilatih oleh faktor dari luar dan dirinya maka daya berkata tidak akan tumbuh secara tabi’i. Meskipun daya itu sendiri adalah bersifat permulaan. Apabila daya kendali pada diri tidak tumbuh maka akibatnya yang pasti ialah merajalela nya syahwat tanpa kendali. Insan meluncur turun dari status yang tinggi yang di cipta untuknya.
Ayat-ayat Qur’an, hadits-hadits nabi, pendapat As Salafus Saleh menyentuh secara tersirat dan tersurat akan soal watak, dorongan yang ada pada manusia terlalu banyak untuk dapat disebut dalam bab ini. Apa lagi hal itu untuk diuraikan atau di ulas.
1.      Dalam menyatakan kecenderungan insan untuk memiliki, menyimpan, kikir dan bekerja keras di dunia untuk mencari habuannya allah berfirman :
a.      “Dan adalah manusia itu sangat kikir.” (Al Isra’:100)
b.      “Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (Al’Adiyat-8)

2.      Dalam melukisan watak penakut dan lemah pada diri insan Allah berfirman:
a.      “Allah, yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Allah menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Allah menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Allah menciptakan apa yang dikehendakinya dan allah lah yang maha mengetahui lagi maha kuasa.” (Ar Rum:54)
b.      “sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al Ma’arif: 19-21)

3.      Bahwa insan cenderung untuk dapat secara cepat akan harta dan kesenangan. Allah berfirman:
a.      “Dan manusia mendoa unutk kejahatan sebagai mana ia mendoa untuk kebaikan dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.”(Al Isra’: 11)
b.      “sekali-kali janganlah demikian. Sebenernya kamu (hai manusia) mencinta kehidupan dunia.” (Al Qiamah: 20)

4.      Tentang kecenderungan insan untuk berbantah Allah berfirman:
a.      “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Al-Kahfi: 54)

5.      Tentang sifat manusia yang mudah gembira ria mendapat nikmat dann putus asa ketika hilang nikmat itu Allah berfirman:
a.      “Dan jika kami berikan kepada amnusia suatu rahmat (nikmat) dari kami, kemudian rahmat itukami cabut dari padanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. Dan jika kami berikan kepada nya kebahagiaan sesudah bencana yang mneimpanya niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku.” Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.” (Hud: 9-10)  
C.    Prinsip Ketujuh
 Manusia berbeda dalam tenaga, perawakan, kesediaan, sikap, dorongan, tujuan, dan jalan-jalan yang dilaluinya untuk mencapai tujuan. Perbedaann inilah yang kita namakan perbedann perseorangan (Al Furuq Al Fardiyah). Hakikat ini menyebabkan insan merasakan diri sebagai satu makhluk yang tersendiri dan beridentitas, berbeda dengan orang lain. “Walaupun ia saling mengadakan hubungan dan berinteraksi dengan manusia lain baik dalam motivasi yang bersifat social maupun dalam dorongan yang bersifat psikologis.
Oleh karena adanya perbedaan perseorangan atau “Al-Furuq Al Fardiyah” ini para ahli ilmu jiwa social dalam cobaan mereka mengklasifikasikan syahsiyah insan membahagiakan syahsiyah inikepada beberapa corak. Dengan lain perkataan membahagiakan insan kepada beberapa golongan berdasarkan kepada ciri-ciri kejiwaan atau sifat-sifatnya yang pokok. Pembagian jenis pertama dinamakan teori corak (Typical Theory) dan yang kedua dinamakan teori ciri-ciri (Traits Theory).
1.       Teori corak umumnya mengandaikan eujudnya kesediaan (bakat) dasar pada seseorang untuk menurut corak tertentu
Pembagian menurut corak ini adalah sebagai berikut:
a.       Corak temperamen
b.      Corak jasmani
c.       Corak psikologis  
Corak yang terakhir ini lebih diterima oleh ahli psikologi. Sebab kemungkinan adanya hubungan antara komposisi jiwa seseorang dengan jenis kelakuannya tetap wujud dalam batas yang diterima oleh akal.
d.      Corak social yang terdiri dari:
i.                    Corak ilmu.
ii.                  Corak bohemin (santai-santai).
iii.                Corak kreatif.
iv.                Corak estetik.
v.                  Corak keagamaan.
2.      Sebagai ahli ilmu jiwa berpendapat, kepribadian insan boleh diinterprestasikan dengan mengamati corak atau ciri-ciri kejiwaannya yang pokok yang membedakannya dengan orang lain. Kepribadian ialah kumpulan corak atau ciri-ciri. Berdasarkan ini maka pribadi dibagi menjadi tiga kelompok dilihat dari cirinya dan dipandang dari segi responnya bila berinteraksi dengan orang lain yaitu:
a.       Golongan yang positif
b.      Golongan yang negatif
c.       Golongan yang pasif
      Golongan pertama tampak dengan ciri atau sifat mau bertemu, berkenalan dan bergaul dengan orang lain. Golongan ini senantiasa mencari kenalan atau teman untuk mendapatkan kasih, kemesraan dan pertolongan dari orang lain.
      Golongan kedua jelas dengan ini enggan bergaul dan melarikan diri. Sikap ini merupakan sikap dasar dalam berinteraksi dengan orang lain. Golongan ini pada ghalibnya bertabiat suka bergaduh, agresif dan suka bersaing. Mereka senantiasa mencari “power” kekuasaan, keunggulan dan pengaruh dengan cara apa dan jalan sekalipun.
      Golongan ketiga pula pasif. Suka menyisihkan diri dan introversi. Mereka mengelak untuk mengadakan hubungan dengan orang lain. Kalau boleh mereka tidak mau ada apa-apa ikatan dengan siapapun.
      Golongan terakhir ini menonjol dengan hasratnya yang jelas untuk bebas menyendiri. Tidak mau bergantung pada orang lain. Berdikari merupakan cara hidupnya yang terpenting.
      Pembagian seperti ini untuk mengenal syahsiyah dalam kontek berinteraksi dengan orang lain tentunya merupakan suatu pembagian yang mudah dan jelas. Biarpun demikian namun ia dapat menjelaskan konsep pokok yang hendak diterangkan disini, yaitu pribadi disamping berbeda dalam pemikiran, tanggapan, dorongan, dan tujuan masing-masing mereka juga berbeda dalam sifat pribadi mereka. Hal ini menentukan dalam membentuk tanggapan dengan orang lain. Jika sekiranya derajat pemikiran dan tanggapan mempengaruhi tingkahlaku, sedang dorongan dan tujuan ikut menolong pengarahan tingkahlaku, maka ciri-ciri perwatakan dan kepribadian juga ikut menentukan prilakunya. Sebab prilaku itu sendiri terjadi dalam satu lingkungan social dan mengambil bentuk dari pengaruh dan respon antara pribadi dengan yang lain. 
      Jika kita menyikapi Al’Quran sunnah Nabi dan pandangan para Salafus shaleh maka kita akan dapati semuanya menekankan adanya perbedaan perwatakan “Al Furuq Alfardiah” dikalangan pribadi serta mengakui aspek perseorangan (fardiah) dan social (ijtima’iyah)nya.
      Antara ayat-ayat yang menyatakan demikian adalah:
“Allah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa dibumi dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain). Beberapa derajat untuk menguji mu tentang apa yang diberikanNya kepada mu. Sesungguhnya Tuhan mu amat cepat siksaanNya dan sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang.” (Al An’am : 165).
Perbedaan-perbedaan perseorangan (fardiyah) seperti ini juga terdapat antara para Nabi dan Rasul.
Allah berfirman:
“maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas. Tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa” (Al Israa’ : 21)
            Sebagaimana manusia berbeda dalam derajat dan statusnya di dunia ini, maka ia juga berbeda derajatnya di akhirat.
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Al Israa’ : 72)
D.    Prinsip kedelapan
Meyakini bahwa watak manusia ialah luwes, Lentur (flexible). Boleh dilentur, dibentuk dan diubah. Proses membentuk identitas, sifat dan watak atau mengubah serta memajukan ciri-cirinya yang unik dinamakan sosialisai atau proses “pemasyarakatan”. Mudah atau susahnya proses ini bergantung kepada usia dan cara yang digunakan untuk sampai kepada tujuan.
“Berulang-ulang manusia membuat suatu pekerjaan boleh menambahkan minat dan kecenderungan kepada kerja tersebut. Kecenderungan ini akhirnya berubah menjadi adat. Adat membentuk kelakuan dan berpengaruh besar dalam membentuk kehidupan manusia. Baik dari sudut fisik maupun akhlak dan tingkah laku. 99% dari perbuatan yang dilakukan oleh manusia adalah suatu kebiasaan yang otomatik”
Menurut islam kelakuan manusia, kebiasaan, keahlian, kemahiran dan aliran pemikirannya boleh dirubah. Malah dalam beberapa hal mesti dirubah. Kelakuan itu berubah bukan secara otomatis, lantaran motivasi atau kesan dari evolusi. Tetapi ialah hasil dari proses pengajaran yang dilalui manusia sejak bayi sampai akhir hayatnya. Dalam alqur’an mengatakan :
“Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu pada hal kamu tidak mengerti sedikit pun.”(An-Nahl: 78)
Sayyidina ali berkata kepada hasan anaknya : hati anak kecil itu umpama tanah yang belum lagi ditanam. Apa saja yang ditanamkan akan diterima olehnya. Karena itu aku mulai mendidikmu dengan adab, sebelum hatimu menjadi keras dan fikiranmu sibuk.Seperti naluri cinta hidup, naluri takut, tunduk, menentang dan sebagainya. Apa yang boleh dibuat terhadap naluri-naluri ini ialah meningkatkan atau mendidiknya sedemikan rupa.cara yang paling penting yang dapat mengalihkan naluri ini ialah dengan membina kecintaan kepada keutamaan dan idealism dalam hati seseorang. Jika kecintaan keagamaan telah tumbuh dalam hati seseorang maka akan kita dapati beberapa perubahan. Apa yang ditakuti oleh orang biasa tidak lagi begitu menakutkannya. Pembenuhuna kedzaliman dan siksa tidak lagi menakutkan. Yang ditakuti ialah kemurkaan alloh SWT dan tidak kerelaannya karena kelalaian untuk berkorban untuk mempertahankan agamanya.
Naluri marah umpanya tidak padam tetapi realisasinya telah berubah bentuk. Marah mengambil landasan lain, marah tidak lagi sebabkan oleh diri, harta dan anak-anak tetapi karena hak diambil dan seruannya ditentang.
Manusia bukan hasil evolusi, dari tingkah laku hewan atau amuba dibawah kekuasaan hokum atau yang memastikan “seurvival for the fittest” seperti yang selalu didengungkan oleh pendukung dan pengikut evolusi. Perbedaan manusia dan hewan bukan pada drajat, komplikasinya tetapi terletak pada perbedaan jenis. Teori Darwin dan sealiran dengannya tidak lebih hasil khayalan dan pemikiran dugaan. Hingga hari ini masih digolongkan dalam teori yang tidak berdasarkan apa-apa fakta realitas. Paling banter ia adalah satu  kemungkinan dari sekian banyak kemungkinan menafsirkan perkembangan manusia.
Allah telah menjadikan segenap makhluk sebagaimana adanya. Mana-mana yang bermanfaat dan diperlukan manusia dibiarkannya hidup. Mana yang tidak perlu dimatikannya, ia jadikan manusia sebagai manusia sejak asal menurut kehendaknya. Inilah pandangan yang diterima oleh setiap muslim. Seperti dalam Al-Qur’an :
“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar dari penciptaan manusia. Tapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”(Ghafir:57)
“Telah kami jadikan insan (dengan) sebaik-baiknya kejadian”(At-tin:2)
Banyak lagi ayat-ayat tentang Alloh pencipta segala sesuatu, termasuk manusia. Semua mendasarkan bahwa alloh memang mau menciptakan manusia sejak semula lagi. Alloh berkehendak itulah, tidak lain dari itu.





    
   
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
·         Prinsip kelima yakni meyakini bahwa insan dengan seluruh perwatakan dan ciri pertumbuhannya adalah hasil pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan lingkungan.
·         Prinsip keenam yakni menginsafi bahwa manusia mempunyai motivasi, kecenderungan dan kebutuhan permulaan baik yang di warisi atau yang diperoleh dalam proses sosialisasi. Yaitu yang diperoleh ketika berinteraksi dengan elemen lingkungan yang bersifat benda, manusia atau kebudayaan.
·         Prinsip ketujuh yakni manusia berbeda dalam tenaga, perawakan, kesediaan, sikap, dorongan, tujuan, dan jalan-jalan yang dilaluinya untuk mencapai tujuan. Perbedaann inilah yang kita namakan perbedann perseorangan (Al Furuq Al Fardiyah).
·         Prinsip kedelapan yakni meyakini bahwa watak manusia ialah luwes, Lentur (flexible). Boleh dilentur, dibentuk dan diubah. Proses membentuk identitas, sifat dan watak atau mengubah serta memajukan ciri-cirinya yang unik dinamakan sosialisai atau proses “pemasyarakatan”.

























DAFTAR PUSTAKA

Al-Syaibani, Omar Mohammad al toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta. Bulan Bintang.
Arifin, M. 1996. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta. Bumi Aksara,.
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta.Logos Wacana Ilmu.
        


penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA "

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA