Pages

Prinsip Yang Menjadi Dasar Pandangan Islam Terhadap Masyarakat


Prinsip Yang Menjadi Dasar Pandangan Islam Terhadap Masyarakat

 
 
 
 
 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Dalam bab ini kita akan meyentuh pengertian dan sifat masyarakat, tonggak-tonggak asas, hubungan antara individu dan masyarakat, status keluarga dalam masyarakat Islam, patokan-patokan yang dibina oleh Islam untuk memperkuat hubungan antara unit-unit sosial, ciri-ciri tersendiri masyarakat Islam dan aspek-aspek lain yang berkaitan.
Bila kita membicarakan masyarakat dan yang berkaitan dengannya dari kacamata Islam maka kita tidaklah terkeluar dari bidang pendidikan atau falsafah pendidikan Islam yang kita berikan keutamaan dalam uraian ini. Masyarakat itu sendiri merupakan satu factor yang pokok mempengaruhi pendidikan, disamping ia merupakan arena tempat berkisarnya proses pendidikan.  
  1. Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan prinsip pertama yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat?
2.      Apa yang dimaksud dengan prinsip kedua yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat?
3.      Apa yang dimaksud dengan prinsip ketiga yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat?
4.      Apa yang dimaksud dengan prinsip keempat yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat?
  1. Tujuan
1.      Untuk mengetahui prinsip pertama yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat
2.      Untuk mengetahui prinsip kedua yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat

3.      Untuk mengetahui prinsip ketiga yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat
4.      Untuk mengetahui prinsip keempat yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap masyarakat


BAB II
PEMBAHASAN
A. Prinsip pertama
Mengakui bahwa masyarakat dalam pengertian yang paling sederhana ialah kumpulan individu atau kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaan, dan agama. Dalam sumber-sumber Islam yang pokok seperti Al-qur’an, sunnah dan riwayat Salafus Saleh  mungkin tidak ditemui definisi masyarakat sebagaimana yang terdapat dalam ilmu sosoiologi modern. Tapi kendatipun demikian tidak ada suatu teks pun dari sumber pokok itu yang melarang pengambilan definisi masyarakat yang luas atau apa juga yang lain selama ia tidak bertentangan dengan spirit dasar dan metode-metodenya yang umum. Baca Juga : Makalah manajemen sumber daya manusia (pengembangan karier)
            Para penyelidik akan menemukan bahwa Islam bukan sekadar akidah atau religion yang menyusun hubungan individu dan kelompok dengan Tuhannya sahaja. Tapi malah lebih luas dari itu. Islam disamping sebagai religion dan akidah adalah satu cara hidup yang menyeluruh dna sempurna. Islam muncul untuk mengatur segala aspek kehidupan insan baik spiritual maupun material. Islam mengatur hubungan insan dengan Tuhannya, hubungan insan dengan insan, masyarakat langsung dan tidak langsung, hubungan manusia dengan insan sejagat dan segala isi buana ini baik binatang, tumbuh-tumbuhan, mauoun benda-benda yang kaku. Baca Juga : PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA
            Antara definisi yag baik tentang Islam sebagai metode pembinaan masyarakat dalam tulisan-tulisan para penulis muslim ialah definisi Prof. Ahmad Musa Salim. Beliau mengatakan:
            “Islam adalah sistem ilahi dipandang dari perundang-undangannya, ilmiah dipandang dari segi pengalaman sejarahnya. Islma membangun masyarakat dengan membina pribadi individu. Pimpinan dalam masyarakat Islam bersifat kolektif antar anggotanya. Dengan iman anggota masyarakat menjadi Hamba Allah , bersaudara dan menguasai sumber-sumber kekayaan alam yang telah dijadikan untuk mereka. Mereka membina masyarakat atas keinsafan bahwa usaha aytau kerja menjadi sumber hak dan derajat seseorang. Atas kesadaran bahwa persaudaraan seiman menjadikan mereka sekutu dalam pekerjaan baik dalam sumber, penghasilan, atau harta. Harta mana semuanya adalah milik Allah.”
            Dalam hubungan ini, dalam membina masyarakat yang baik Islam pertama-tama memusatkan perhatiannya kepada pribadi. Pribadi yang  Shaleh  untuk masyarakat yang shaleh pula. 
B. Prinsip kedua
            Meyakini bahwa masyarakat Islam mempunyai sikap dan cirinya yang tersendiri. Ini menyebabkan masyarakat Islam benar-benar menjadi masyarakat ideal yang menjadi contoh manusia sejagat untuk menikmati kebahagiaan, kemakmuran dan memenuhi kebutuhan rohani dan jasmani.
Masyarakat yang benar-benar boleh dianggap masyarakat isalm ialah masyarakat yang menetapkan islam dalam aspek akidah, ibadah, akhlak, undang-undang dan sistem islam. Masyarakat yang mentauhidakn Allah dalam akidah atau ibadah. Kekuasaan mutlak yang memerintah terserah kepada penentuan Allah.
            Untuk lebih jelas akan di uraikan ciri-ciri daria masyarakat Islam.
Ciri Pertama
Masyarakat Islam Wujud atas tonggak iman kepada rukun Islam dan rukun iman. Prinsip tauhid tepat seperti suatu revolusi yang meleburkan syirik agama yaitu penyembahan selain Allah. Tauhid berperan membeteulkan kedudukan masyarakat dari segi agama dan masyarakat.
Tauhid menyatukan orang-orang yang menerimanya dalam satu ikatan yang menyamaratakan hak dan tanggung jawab masing-masing pada dasarnya. Baca Juga : PRINSIP-PRINSIP YANG MENJADI DASAR PANDANGAN ISLAM TERHADAP MANUSIA
Ciri Kedua
Agama diletakkan pada proposi yang tertinggi. Segala urusan hidup dikembalikan kepada hukum hakamnya sesuai dengan Al-Qur’an yang menyeru supaya pertikaian dikembalikan kepada putusan Allah dan Rasul.
Ciri Ketiga
Segala kegiatan dan perbuatan insan ditundukkan kepada prinsip dan metode yang telah diterima oleh-Nya sebagai prinsip insaniah yang jelas. Prinsip dan metode ini diberi pengertian yang merangkum dan luas untuk diterapkan dalam realitas kehidupan. Akhlak dikaitkan dengan agama dan dianggap sebagai realitas praktis terhadap agama.
Ciri Keempat
Ilmu diberikan perhatian yang berat. Ilmu yang benar dianggap sebaik cara untuk memantapkan akidah dan agama. Hal ini adalah dianggap suatu persyaratan dalam pelaksanaan tugas sebagai wakil Allah di bumi.
Ciri Kelima
Masyarakat Islam menghormati dan menjaga kehormatan insan. Tidak bersikap terpisah karena warna, bangsa agama, harta atau keturunan. Hak untuk mendapatkan keadilan, persamaan, menentang kedzaliman. Hak untuk hidup aman, bebas, membina keluarga dan melahirkan anak.
Ciri Keenam
Keluarga dan kehidupan berkeluarga mendapat perhatian besar. Hubungan kekeluargaan dibina atas tunas-tunas yang luhur, kebenaran, keadilan dan kasih sayang. Wanita dihormati, baik sebagai isteri atau sebagi ibu. Segala hak dan kehormatannya dilindungi.
Ciri Ketujuh
Masyarakat Islam ialah masyarakat yang dinamik. Bertekad untuk berkembang dan berubah deangan pesat da terus-mnerus.masyarakat islam memberi kesempatan luas untuk setiap usaha pembinaan dan perubahan social. Baik yang dapat dinikmati oleh insan, masyarakat maupun umat.
Ciri Kedelapan
Kerja mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam masyarakat islam. Ia dianggap neraca untuk menentukan kemanusiaan insan. Sebagai sumber dan obligasinya. Rasulullah menganggap kerja mencari rezeki satu sedekah. Setiap pengeluaran walau apapun jenisnya adalah sedekah, sabda beliau :
Apa juuga yang di tanam  atau dicocokkan oleh seorang muslim (dari tanaman) lalu (buah atau pokoknya) dimakan oleh insan atau binatang niscaya dituliskan baginya (pahala) sedekah”.
Ciri Kesembilan
Nilai dan peranan serta harta diperhitungkan untuk menjaga kehormatan insan dan membangun masyarakat umat. Pemilik harta yang hakiki (dalam pengeretian luas) ialah Allah. Dalam masyarakat islam hak milik pribadi dilindungi sekiranya ada syarat-syarat berikut:
·         Hak milik didapatkan dari harta yang halal dan keuntungan yang juga halal.
·         Penyaluran harta secara yang dilerai oleh syara’. Tidak karena maksiat, bermewah-mewah atau menyakiti hati orang lain.
·         Tidak ditumpuk, karena islam mengharamkan menumpuk harta.
·         Penunaian nafkah dari harta itu berdasarkan tahap hak dan tuntutan. Pertama untuk diri lalu untuk masyarakat.
Ciri Kesepuluh
Kekuatan dan keteguhan yang dilentur oleh agama, akhlak dan ukuran kebenaran, keadilan, kasih sayang dan ciri-ciri insaniah yang luhur dijadikan tujuan. Baik kekuatan moral dengan beriman kepada Allah, melengkapi diri sendiri. Ataupun kekuatan material dalam beentuk kekuatan ekonomi, kemajuan ilmu teknologi, pembangunan, kemajuan sosial dan kekuatan senjata.
Ciri Kesebelas
Masyarakat islam adalah masyarakat yang terbuka, bisa menerima pengaruh yang baik dari masyarakat lain atau ilmu pengetahuannya. Ia menyeru kea rah sifat tolong-menolong, baik dalam hubungan luar atau dalam negeri. Tapi dalam proses interaksi itu tidak sampaikehilangan idenetitas islamnya. Ia tidak lebur dan ikut-ikutan.
Ciri Keduabelas
Masyarakat islam bersifat insaniah, saling kasih mengasihi, ramah-mesra, tolong-menolong, bantu-membantu anatar satu sama lainnya. ddasar ini tidak hanya terbatas dalam hubungan dengan kanak-kanak atau orang tua yag tidak berdaya. Tetapi diterapkan dalam setiap hubungan.
C. Prinsip ketiga
Meyakini bahwa asas untuk membina masyarakat ialah akidah kepercayaan bahwa Allah itu wujud dan Esa. Meyakini utusan-Nya yaitu para rasul beriman dengan hari kebangkitan. Keyakinann ini begitu terpelihara sehingga jika timbul ragu dan prasangka terhadap kebenaran apa-apa yang telah disebutkan itu atau luntur keyakinan terhadapn-Nya maka tidaklah dapat dianggap wujud masyarakat islam. Karena iman kepada allah dan para nabi, rasul,kitab-kitab Allah, Qadha dan Qadhar, hari kiamat ,kebangkitan,perhitungan dan pembalasan adalah salah satu tiang asas masyarakat islam. Demikianlah apabila islam mendirikan masyarakat atas dasar islam dan insan menjadi poros dalam prilaku atau perencanaan maka sebenernya islam menghargai faedah dan pengaruh iman yang posiitif baik untuk individu ataupun masyarakat.
Teks-teks agama yang menyentuh hal ini amat banyak untuk dipaparkan semuanya. Apabila untuk ditafsir atau diuraikan. Memadailah kita kutip sekedarnya dibawah ini. Allah Berfirman:
kami pasti akan menolong rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam hidup dunia dari dalam (hari) dibangunkan segala saksi”
“ beberapa banyak bilangan yang kecil dapat mengalahkan golongan yang besar dengan izin Allah”
“ dan adalah menjadi tanggungan (hak) kami untuk menolong orang-orang yang beriman”
“ Allah berjanji (terhadap) orang yang beriman dari kamu dan beramal shaleh, pasti akan dijadikan mereka khalifah di bumi. Sebagamana dia telah menjadikan orang-orang sebelum ini khalifah. Pasti akan allah perkukuhkan kedudukan agama mereka yang allah relakang bagi mereka. Dan akan allah gantikan ketakutan mereka dengan keamanan”
“dan kami jadikan hati orang yang mengikutinya lembut dan kasih sayang”( Al-hadid:27)
Rasulullah SAW:
 لَيْسَ الْمُؤْمِنُ يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائْعٌ ِ
“yang kenyang(sendiri) sedang tentangganya lapar(seorang mukmin)”
Rasulullah pernah ditanya tentang siapakah seorang mukmin itu jawab Rasulullah ialah:
مَنْ أمَنَهٌ الْمُؤْمِنُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَاَمْوَالِهِمْ
“orang yang dipercayai orleh orang mukmin lain (untuk mengamanahkan) nyawa dan harta mereka”
            Khalifah Umar Ibn Khattab r.a. menyadari benar peranan iman dalam meningkatkan martabat orang-orang arab. Beliau pernah berkata:” ketika jahiliyah kita hina dina. Kini dengan iman kita dimuliakan oleh Allah. Maka jika kita terus mencari kemulian dari selain Allah niscaya kita akan dijadikan hina (kembali)
D. Prinsip Keempat
Meyakini bahwa agama dalam pengertian luas yang merangkum setiap yang berhubungan dengan akidah, ibadah, pergaulan atau pergaulan antara sesama manusia ialah merupakan teras dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Dari agama kehidupan mengambil nilai, mendapat arah dan segala dasar yang pokok. Agama faktor penyokong yang baik dalam perkembangan diri insan atau masyarakat yang sehat. Penjamin hidup bahagia dan kemajuan yang seimbang. Atas perhitungan ini agama adalah suatu kemestian untuk insan dan masyarakat.
Agama pada hakikatnya mengarahkan konsep hidup insan, hubungannya dengan tuhan, jagat raya, pribadi dan kelompok masyarakat. Agama adalah pengasuh yang baik terhadap hati nurani (dlomir) insan. Mendidik akhlak, perasaan dan emosinya. Agamalah sebaik bekal dalam menyelesaikan masalah hidup insan.
Bagi masyarakat, agama ialah sumber asas yang memperoleh nilai (sosial) prinsip-prinsip akhlak, perundang-undangan dan aneka sistem sosialnya. Agama juga sebagai pendorong yang kuat ke arah kebangkitan dan kemajuan yang menyeluruh, baik dari segi pemikiran maupun dari segi peradaban.
Sebab itu tuduhan-tuduhan yang mengatakan islamlah yang menyebabkan arus dekadensi dan kemunduran umat islam adalah suatu tuduhan yang tidak beralasan. Jika sekiranya ternyata umat islam mundur selepas Berjaya membangun peradaban dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan terus menerus mundur sampai kini, maka itu bukanlah disebabkan oleh agama anutan mereka. Tetapi adalah disebabkan oleh perkara-perkara lain yang tidak ada sangkut-pautnya sama sekali dengan agama. Tegasnya tidak berpegang dengan agama merupakan sebab pokok kemunduran umat islam.
Apabila kita berbicara tentang agama maka seyogianya difahami sebagai suatu yang menyeluruh merangkum tiap aspek akidah, ibadah, kerja dan kira bicara dalam satu kesatuan yang selaras dan sempurna. Bahwa ia sesuai untuk segala waktu dan tempat. Mampu memenuhi keperluan semasa dan menghadapi tuntutan dan permasalahan-permasalahan baru yang timbul dari masa ke masa.
Dari segi ini syari’at islam ada dua bahagian yang tersendiri. Pertama ialah menyusun rangka usaha atau kerja yang mendekatkan orang-orang islam dengan tuhan mereka. Kaum muslimin mengagungkan kebesaran Allah sebagai bukti kebenaran iman dan keta’atan kepada-Nya. Inilah yang dinamakan “Ibadat”. Bahagian yang kedua ialah kumpulan prinsip dan metode yang mengatur kehidupan manusia. Yang melindungi kepentingan serta menghindarkan kemudharatan baik untuk diri atau dalam hubungan dengan orang lain. Kumpulan prinsip ini dinamakan oleh para fuqaha sebagai “Muamalat”.   
Untuk memperbaiki masyarakat insan islam menentukan tiga obyek penting. Tiap obyek itu mrupakan rentetan akibat dari yang sebelumnya dan asas untuk yang sesudahnya.
Pertama:    Membebaskan akal manusia dari belenggu taqlid dan khurafat. Dengan cara menanamkan akidah dan iman kepada Allah.
Kedua:        Mendidik hati-nurani insan dan membetulkan kejiwaannya. Dengan cara memperkenalkan kepadanya nilai akhlak yang ideal. Menjadikan dirinya puas dengan nilai-nilai itu. Mengarahkannya ke arah kebaikan, ihsan dan setiap yang wajib dan lebih baik atau wajar dilakukan. 
Ketiga:        Merealisasi keadilan, keamanan dan kebebasan dalam masyarakat yang sehat.
Sebab itulah Islam dianggap sebagai “Din wa Daulah” agama dan negara. Salah besar jika dipandang Islam hanya sebagai agama (dalam arti sempit) saja. Dengan lain perkataan mengambil dan memahaminya dari sudut akidah, syi’ar ibadah dan keutamaan akhlak saja dengan mengenyampingkan aspek penyusunan civilnya, atau sebaliknya. Islam adalah kesatuan yang kompak dan padu. Jika dicerai beraikan mungkin membawa kekeliruan dalam menanggapi hakikatnya. Dan ini akan menyebabkan kekeliruan dalam menerapkannya, sehingga nampak dalam bentuknya yang tidak karuan.
Usaha-usaha mencari kebenaran dan keadilan dalam kasus atau perkara yang selalu dihadapi oleh orang-orang Islam dalam urusan keagamaan atau keduniaan memang ada dasarnya dalam syariat Islam. Rasulullah setuju dengan “Ijtihad” para sahabatnya apabila tidak ada nas tertentu dalam perkara yang mereka hadapi baik Qur’an maupun Sunnah. Sebab itu syariat Islam adalah syariat yang flexible dan berkembang sesuai dengan tuntutan semasa dan lingkungan setempat.
Islam disamping menerima “Ijtihad” dan analogy sebagai sumber hukum juga mengakui kebiasaan dan “adat” sebagai pemutus dalam sesuatu perkara. Apa yang diakui oleh adat selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat adalah keputusan dalam perkara sesuai dengan metode fikh yang diakui oleh madzhab-madzhab fikh. Dalam pada itu syariat Islam juga menjadikan “ijma” sebagai sumber dalil.
Islam juga menjadikan “Mashaleh Al Mursalah” atau kepentingan umum sebagai dasar pertimbangan dan sumber hukum. Dan yang dikatakan kepentingan umum itu senantiasa berkembang dan berubah menurut perubahan masyarakat. Baik disebabkan oleh faktor yang nyata atau tersembunyi.
Disamping itu “Ihsan” juga menjadi sumber hukum. Dan tidak syak lagi bahwa “Ihsan” mempunyai pengaruh yang besar dalam perkembangan hukum dengan perbedaan masa dan tempat.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
·         Prinsip pertama mengakui bahwa masyarakat dalam pengertian yang paling sederhana ialah kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan Negara, kebudayaan dan agama.
·         Prinsip kedua meyakini bahwa masyarakat islam mempunyai sikap dan cirinya yang tersendiri membedakannya dari masyarakat lain.
·         Prinsip ketiga meyakini bahwa asas untuk membina masyarakat ialah akidah kepercayaan bahwa Allah itu wujud dan Esa.
·         Prinsip keempat meyakini bahwa Agama dalam pengertian luas yang merangkum setiap yang berhubungan dengan akidah, ibadah, pergaulan atau pergaulan sesame manusia ialah merupakan teras dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.






DAFTAR PUSTAKA

Al-Syaibani, Omar Mohammad al toumy. 1979. Falsafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
        


penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "Prinsip Yang Menjadi Dasar Pandangan Islam Terhadap Masyarakat"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA