Pages

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM LOKAL KEBUDAYAAN CIREBON


BAB II
PEMBAHASAN

A.   Kesenian Cirebon
Cirebon, selain dijuluki sebagai kota Udang dan kota Wali ternyata kota yang berada di timur Jawa Barat ini memiliki beberapa budaya kesenian daerah yang mendunia. Cirebon adalah suatu daerah yang berada di paling ujung pinggiran pulau Jawa Barat, serta berada di sisi sebelah tetangga pulau Jawa Tengah, lokasi Cirebon ini termasuk wilayah pantura yang ramai jika waktu mudik tiba, dengan dikenal akan wilayah lautnya. Karena keberadaan tersebut, bahasa yang digunakan rata-rata masyarakat Cirebon tidak hanya bahasa Sunda. Melainkan penggunaan dengan multy bahasa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa Cirebon sendiri. Dengan keadaan seperti itu, Cirebon kadang dijadikan anak tiri pulaunya, ketidak labilan penggunaan bahasanya menjadi olok-olok canda anak-anak muda yang berasalkan benar-benar asli orang Sunda. Keanekaragaman bahasa itu menjadikan keunikan tersendiri yang dimiliki kota ini, tidak hanya itu dengan menggali lebih dalam kota ini, keanekaragaman bahasanya lebih ragam lagi dengan kebudayaan dan seni yang dimilikinya.Cirebon sebagai daerah pantai Utara Pulau Jawa bagian Barat dalam konteks sejarahnya terbukti mampu melahirkan kebudayaan yang berangkat dari nilai tradisi dan agama. Tak pelak kesenian yang mengiringi kebudayaan Cirebon memasukkan unsur-unsur agama di dalamnya. Dalam kaitan ini kesenian yang pada mulanya merupakan sarana dakwah agama (Islam) menjadi semacam oase di padang gurun. Betapa tidak. Syekh Syarif Hidayatullah yang juga dikenal dengan nama Sunan Gunungjati bermukim di Cirebon mengembangkan agama melalui pendekatan kultural.
Kebudayaan Cirebon yang bukan Jawa dan bukan Sunda itu akhirnya memiliki ciri khas sendiri. Yakni adanya keberanian untuk mengadopsi nilai lama dengan nilai baru (saat itu) saat agama Islam mulai diajarkan Sunan Gunungjati. Dalam pentas kesenian panggung, asimilasi budaya terlihat jelas. Nilai budaya masyarakat pantai dipadukan dengan nilai agama. Tak heran jika kenyataan ini mengundang nilai tambah yang patut disyukuri. Artinya postmodernis sudah berlangsung dalam kesenian tradisi Cirebon. Keberanian seniman tradisi memasukkan unsur baru (ajaran agama Islam) pada kesenian lokal agaknya sepadan dengan nilai posmo.
BUDAYA Cirebon yang kabarnya merupakan budaya serapan Jawa (Kerajaan Mataram) dan Sunda (Kerajaan Sunda Kalapa) itu menempati posisi unik. Dua budaya besar di pulau Jawa itu bertemu di Cirebon. Budaya serapan itu pun makin lengkap bersintesa dengan spiritualitas Islam. Inilah keberbagaian budaya Cirebon. Dan keberbagaian tadi mengisi ruang kesenian lokal. Dari sinilah kemudian muncul seniman rakyat. Seniman yang asik berkarya tanpa terpaku pada intruksi sutradara, sementara ketika tidak manggung mereka menjalani profesi kesehariannya.
Masala h yang terus mengganjal dalam perkembangan budaya Cirebon antara lain (dan ini yang terkuat) ialah keengganan para pemilik kebudayaan itu memelihara dan merasa nyaman dengan kebudayaannya. Kini generasi muda banyak berpaling ke budaya lain yang lebih instan serta kurang mampu mencintai kebudayaannya sendiri. Budaya-budaya instan lengkap dengan berbagai kemudahan dan aksesorinya memukau sejumlah anak muda. Ciri tersebut tampak pada ketidakmampuan berbahasa Cirebon, dan jika mampu itu pun hanya sebatas bahasa pergaulan yang dikenal dengan istilah bagongan. Kirik dan ketek, serta ira dan isun tanpa mengenal kosa kata halus memang masih ada dan terdengar dalam percakapan anak-anak muda. Namun sama sekali abai dengan keseniannya, dan lebih luas dengan kebudayaannya sendiri yang telah mengalami berbagai hantaman zaman. Anak-anak muda telah berpaling ke budaya pop.
Jikalau keadaan ini tidak segera dibenahi, ada kekhawatiran anak-anak muda itu akan terasing dari kebudayaannya. Dan segera setelah itu mereka akan beranggapan bahwa budaya Cirebon cukuplah diletakkan di museum, atau sekadar ada ketika dibincangkan budayawan tua di ruang seminar. Keterasingan terhadap kebudayaan sendiri pada gilirannya akan menghempas kebudayaan pada kondisi yang menguntungkan. Kebudayaan bagai sebuah nilai lama yang layak ditinggalkan lantas digantikan kebudayaan baru yang lebih mampu menawarkan subjektivitas.
Berikut macam-macam kesenian khas Cirebon, antara lain:
1.     Lukisan Kaca
Lukisan kaca sudah kenal di Cirebon sejak abad 17. Lukisan ni dikenal pula sebagai media dakwah pada masa Panembahan Ratu dan sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam saat itu. Lukisan ini berbentuk tulisan Kaligrafi dan gambar Wayang dengan ditulis diatas media kaca. Pengaruh kaligrafi dikarenakan dalam menyiarkan agama Islam, banyak ulama melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan Hadist. Sedangkan gambar Wayang di daerah Cirebon serimg diadakan pertunjukan Wayang yang menampilkan tokoh-tokoh Wayang seperti Arjuna, Kresna, Rama, Lesmana dll.

Di abad 19, objek lukisan kaca bukan hanya tulisan kaligrafi dan hadist, melainkan berkembang seperti gambar Paksinaga Liman, Buroq, dll. Perbedaan lukisan kaca di kota Solo, Jawa Tengah dengan lukisan dari Cirebon ialah pada teknik dan cara melukisnya. Jika lukisan kaca Solo dilukis diatas kaca depan, berbeda halnya dengan lukisan Cirebon yang justru melukis dari kaca belakang.

2.     Batik Cirebon

Batik Cirebon lahir sejak abad 16. Berawal ketika Pelabuhan Cirebon (dulu Muara Jati) dijadikan tempat transit dan persinggahan para pedagang asing dari Arab, Persia, India dan China. Kemudian dari hal itu menciptakan asimilasi dan akulturasi bercampur budaya, serta menciptakan banyak tradisi baru. Salah satunya batik Cirebon. Kota-kota dengan batiknya di Indonesia yang mempopulerkan sangat berkembang, mulai dari batik Pekalongan, Solo, Jogja, Garut, Palembang dll. 

Beberapa motif atau corak yang terkenal pada batik Cirebon ialah motif Megamendung dan Paksi Naga Liman. Megamendung dipengaruhi dari motif China yang berbentuk garis-garis awan. Megamendung Cirebon memiliki ciri khas sendiri yakni awan berbentuk lonjong, lancip dan segitiga sedangkan China berbentuk bulatan. Sementara motif Paksi Naga Liman lebih memberi pesan peperangan antara kebaikan melawan kejahatan guna mencapai kemakmuran.
Pusat dari pembuatan batik Cirebon sendiri berada di Trusmi, Plered. Batik Trusmi lahir dari karya pemuka agama Islam, Ki Buyut Trusmi. Bersama Sunan Gunung Jati, keduanya mengajarkan Islam di wilayah Trusmi dan mengajarkan keterampilan membatik kepada penduduk setempat. Hingga kini, kawasan Trusmi terkenal dengan Kampung Batik. Banyak wisatawan mancanegara yang melancong di kawasan ini.

3.     Buroq

Seni Buroq lahir sekitar tahun 1934. Abah Kalil, penduduk Desa Kalimaro, Kecamatan Babakan ialah pencetus seni ini. Buroq juga dikenal dengan nama seni Bedawang (boneka-boneka berukuran besar) seperti Kuda terbang, Macan, Singa, dll. Seni Buroq diilhami tentang perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha Aqsha dengan menunggang hewan kuda bersayap.
Pertunjukan Burokan biasanya dipakai dalam beberapa perayaan, seperti Khataman, Sunatan, Perkawinan, Marhaban dll. Pertunjukan diawali dengan Tetalu lalu bergerak perlahan dengan lantunan lagu Asroqol (berupa salawat Nabi dan Barzanji). Rombongan pertunjukan masih berjalan ditempat, setelah banyak masyarakat yang datang rombongan mulai bergerak diiringi dengan alunan genjring dan shalawatan. Dalam perkembanganya, seni Buroq saat ini lebih menggunakan alat-alat musik modern seperti gitar, suling, kendang dan mengiringinya dengan alunan musik dangdut. Hiburan ini sangat bermakna bagi warga sekitar karena bersifat Islami, disenangi anak-anak dan tentunya lebih meningkatkan tali silahturahmi.

Ø    Macam- macam Tarian
1.      Tayuban
Tayuban konon lahir di lingkungan kraton dan digunakan untukmenghormati tamu-tamu agung juga digunakan untuk acara-acara penting seperti pelakrama agung (perkawinan keluarga Sultan), tanggap warsa, peringatan ulang tahun, papakan, atau sunatan putra dalem. 
Tayuban kemudian menyebar dan berkembang di masyarakat dengan pengaruh negatif baik datangnya dari luar maupun dari dalam.Waditra yang digunakan adalah laras pelog, gendang, bedug, saron, bonang dsb. Wiyaga berjumlah 15 orang.Busana Wiyaga bendo, baju taqwa, kain batik dan celana sontok. Busana Ronggeng kembang goyang, melati suren, sanggung bokor, cinatok, sangsangan, krestagen dan alat perhias
2.      Tari Klasik
Tari klasik adalah salah satu jenis tarian yang berkembang pada zaman kejayaan Kesultanan Cirebon.Secara garis besar Tari Klasik ada 3 jenis :
1.       Tari Tradisional (tari Baksa, Sintren, Lais dsb)
2.       Tari Klasik Cirebon (tari topeng, Ludaya, lengep, gatot kaca, dsb.)
3.       Tari Kreasi Modern (tari Merak, Kijang, Kupu kap, dsb.)
Waditra yang digunakan kendang, saron, penerus, bonang, jengglang, tutukan gong, dsb. Daerah penyekarannya terutama di lingkungan Kraton Kesepuhan Cirebon Daerah Wilayah III. Fungsi kesenian sebagai hiburan untuk menghormati tamu-tamu agung atau dalam resepsi kenegaraan.
3.      Jaran Lumping
Jaran Lumping dahulu disebut juga Jaran Bari dari kata Birahi atau Kasmaran, karena mengajarkan apa dan bagaimana seharusnya kita mencintai Allah dan Rasulnya. Oleh karenaitu tarian Jaran Lumping digunakan sebagai alat dalam mengembangkan agama Islam.Yang menciptakan Jaran Lumping adalah Ki Jaga Naya dan Ki Ishak dari Dana Laya Kecamatan Weru. Waditra yang digunakan yaitu bonang kecil, bonang Gede, panglima, Gendang, Tutukan, Gong, dan Kecrek.
sarana lainnya Damar Jodog, Sesajen, Pedupaan, Bara Api/Aran dan Jaran Lumping 5 buah yaitu Jaran Sembrani, Jaran Widusakti, Jaran Widujaya, Jaran Sekadiu. Busana penari menggunakan ikat wulung gundel meled, udeng merah, sumping kantil dan melati,selendang, rompi, celana sontok, kestagen/bodong dan kain batik.
4.      Genjring Rudat
Pada awalnya Seni Rudat hanya berkembang di pesantren-pesantren, namun kemudian seni yang bernafaskan Islam ini berkembang pula di masyarakat umum. Munculnya kesenian berawal dari tumbuhnya semangat perjuangan masyarakat dalam upayanya melawan penjajah yang dipimpin oleh seorang pangeran dari Kesultanan Kanoman Cirebon.
Bersama pimpinan-pimpinan pesantren ia menyusun kekuatan dengan mengajarkan ilmu beladiri pada para santri. Kegiatan tersebut kemudian disamakan dengan membentuk gerakan-gerakan berbentuk tarian. Maka dalam tarian Rudat, kita akan melihat perpaduan gerak silat, dzikir dan gerakan sholat, kemudian diiringi dengan lantunan puji-pujian yang mengagungkan asma Allah dan Rasulnya.
Adapun alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Rudat adalah perangkat genjring, trebang dan bedug.
5.      Angklung Bungko
Sintren atau Lais menurut dugaan sudah ada sejak zaman animisme dan dinamisme, dimana pada zaman itu digunakan sebagai salah satu alat untuk berkomunikasi dengan arwah para leluhur.Pada zaman perkembangan agama Islam di Cirebon juga digunakan sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam, dimana sangat banyak pesan-pesan terselubung yang mencerminkan falsafah agama Islam.Waditra yang digunakan pada Sintren adalah buyung tanah, bumbung/ruas bambu, kendi tanah dan kecrek. Para pelaku adalah seorang dalang sintren atau lais bodor, wiyaga 4-7 orang, juru dupa, juru kawih sebanyak 12 orang.
6.      Tarling Klasik
Tarling disingkat gitar dan suling. Awalnya sekitar tahun 1930 seni musik ini hanya menggunakan dua alat tersebut. Namun semakin berkembangnya jaman, tarling yang sekarang di dengar di sekitar Cirebon sudah terkombinasi dengan musik dangdut. Tak jarang lagu-lagu tarling yang berbahasa Cirebon di recycle ke dangdut nasional dengan mengubah lirik menjadi bahasa Indonesia sehingga penikmat musik dari nusantara pun bisa mendengarkan arti lirik dalam musik tarling yang sering diputar bahkan di tayang kan di TV nasional.
Musik ini sangat khas sekali, berbeda dengan dangdut sejenisnya. Ada juga karya tarling yang berbentuk drama seperti Baridin, Saedah Saeni, Kang Ato Ayame Ilang dll yang terdapat unsur lawak dan pesan moral didalam pagelarannya, liriknya pun menceritakan realita kehidupan manusia. Banyak tokoh tarling yang membuat seni musik ini diminati para pemuda di sekitar Cirebon, Indramayu, Subang dan pesisir utara sekitar Jawa Tengah. Seperti Abdul Adjib, Hj. Dariyah, Dulatip hingga penyanyi tarling generasi sekarang, Aas Rolani, Nunung Alvi, Yoyo Suwaryo dll. Tak jarang di acara-acara resepsi atau hiburan dan perkumpulan masyarakat memutar lagu-lagu tarling ini sebagai penambah suasana.
Tarling Klasik adalah kesenian khas daerah Cirebon yang lahir diperkirakan tahun 1934 dan hingga saat ini masih populer digemari baik oleh masyarakat regional maupun nasional. 
7.      Tari Topeng Tumenggung Magang DIRAJA dan Jinggananom Gaya Losar

Tari Topeng Cirebon tepatnya, adalah salah satu tarian di tatar parahyangan. Disebut tari topeng karena penarinnya menggunakan Topeng. Mimi Rasinah, adalah salah satu maestro tari topeng. Tari ini selalu mengalami perkembangan dari berbagai gerakan atau cerita yang dibawakan. Di sanggar-sanggar wilayah Cirebon dan sekitarnya, tari ini menjadi salah satu tari faforit. Tari topeng masih dipentaskan dalam acara kesenian tradisional ataupun acara lainnya. Tari topeng bisa dimainkan secara tunggal maupun kelompok. Ketika tarian ini dimulai, kendang dan rebab menjadi  alunan musiknya yang mendominasi.
Masing-masing topeng pada tari ini memilik karakter yang menggambarkan sifat atau perwatakan seseorang. Topeng berwarna biru misalnya, mengandung sifat yang anggun dan lincah. Lalu topeng yang  berwarna merah memiliki karakter yang beringas dan sangat tempramental. Jenis tarian yang terkenalnya ialah tari topeng Kencana Wungu yang menceritakan Prabu Minak Jingga yang tergila-gila pada Ratu Kencana Wungu. Tari ini karya Nugraha Soeradireja. Tari Toeng sangat populer sekali di wilayah Cirebon, Indramayu, Subang, Majalengka, Brebes, Banyumas, Purwokerto dan Kuningan.
Kedua tarian ini berkarakter putra bersifat gagah dengan ciri-ciri kualitas tenaga kuat dan jangkauan ruang yang luas dengan tempo cepat. Gending yang mengiringi tari tumenggung Magang Di Raja adalah Gending tumenggung atau Barlen, Sedangkan Jingganom diiringi dengan musik Bendrong.
8.      Sampyong
Sampyong atau ujungan merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang diwarnai unsur tari, olahraga, bela diri, kekebalan dan unsur magic.
Alat yang digunakan untuk adu kekuatan yaitu tongkat rotan ukuran panjang kurang lebih 125 cm. Waditra yang digunakan adalah bedug, ketuk kenong, gendang, gong, dan kecrek. Jumlah wiyaga hanya 5 orang. Sampyong atau ujungan berkembang di wilayah utara diantaranya daerah Cirebon Utaradan Kapetakan (Bedulan).

9.      Buroq
Kesenian Buroq lahir di Cirebon diperkirakan tahun 1920 di desa Kalimaro Kecamatan Babakan. Penciptanya yaitu Bapak Ta’al.
Genjring Buroq merupakan kesenian helaran atau arak-arakan terutama dalam khitanan untuk mengarak pengantin sunat. Waditra yang digunakan adalah 4 buah genjring, gong, gitar, biola dsb. Peralatan boneka Buroq terdiri dari boneka yang berbadan kuda bersayap dan berkepala wanita cantik, sepasang boneka ondel-ondel, macan tutul dsb.
10.  Singa Depok
Merupakan salah satu jenis seni baru yang tumbuh dan berkembang di Kabuapten Cirebon, kesenian ini berkembang di masyarakat untuk kebutuhan helaran dalam acara syukuran khitanan.
Dalam pagelarannya kesenian Singa Depok lebih menitiberatkan pada atraksi gerak sisingaan yang dimainkan secara berkelompok. Adapun musik iringannya terdiri dari harmonisasi, kendang, trompet dan gong.
11.  Gong Renteng
Gamelan Renteng yang pertama sampai sekarang masih ada dan tersimpan di Musium Kraton Kesepuhan. Konon Gamelan itu hadiah dari Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati Sych Maulana Syarief Hidayatullah.
Tabuhan Renteng berfungsi sebagai tabuhan untuk upacara adat terutama untuk menyambut tamu agung, selain itu juga digunakan untuk alat dakwah dalam menyebarkan agama Islam.Waditra yang digunakan adalah Kromong (bonang kecil) 14 buah, Kromong (bonang gede) 19 buah, Panglima 5 buah, Gendang besar 1 buah, gendang kecil 1 buah, Tutukan (keblug) 2 buah, Gong besar kecil 2 buah, kecrek(ecek ebres).Wiyaga berjumlah 9 orang dan menggunakan busana baju takwa kain batik, keris dan ikat kepala, wulung agreman.Gamelan Renteng juga digunakan sebagai gamelan pengiring tarian Jaran Lumping
12.  Tari Sintren

Tari Sintren adalah tari tradisonal yang berasal dari Cirebon tepatnya di wilayah pesisir utara. Nama lain dari kesenian ini adalah Lais. Tari Sintren sangat terkenal dengan suasana mistisnya yang bersumber dari cerita Sulasih dan Sulandono. Kisah cinta pasangan kekasih ini tidak direstui , sehingga Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Pertemuan keduanya saat itu hanya melalui alam gaib. Singkat cerita pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamasari yang memasuki roh bidadari ke tubuh Sulasih. Lalu Sulandono yang sedang bertapa dipanggil ibunya untuk menemui Sulasih. Sejak saait itulah setiap diadakan pertunjukan tari Sintren, sang penari dimasuki oleh roh bidadari oleh pawangnya dengan syarat penari masih dalam keadaan suci (perawan). Suara musik dalam pertunjukan Sintren sangat sederhana dan khas sekali.

Pertunjukan tari ini diperankan gadis yang masih suci dibantu oleh pawang. Si pawang mengundang roh Dewi Lanjar untuk masuk kedalam penari. Penari akan terihat cantik dan membawakan tarian yang mempesona. Unikanya, jika masyarakat sekitar sawer (melempar uang), si penari akan berhenti dan menari lagi setelah tidak ada lagi yang sawer. Hal ini dilakukan berulang-ulang kali dan terlihat menarik. Dalam perkembangannya, tari Sintren diperagakan pula dengan penari disekelilingnya dan diselingi bodoran (lawak).

B.   PARIWISATA CIREBON
Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Cirebon dalam beberapa tahun belakangan tidak luput dari perkembangan ekonomi dan pembangunannya yang lumayan pesat. Sejak dibukanya Tol Cipali, jarak tempuh menuju Cirebon pun menjadi lebih cepat.
Tak hanya itu, kehadiran sejumlah penginapan di setiap sudut kota juga semakin memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para wisatawan. Nah, bagi Anda yang berencana untuk berkunjung ke Kota Udang, ada beberapa rekomendasi tempat wisata di Cirebon yang patut dikunjungi. Ada apa saja? Simak uraian lengkapnya berikut ini.
1. Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan merupakan tempat wisata di Cirebon pertama yang wajib dikunjungi, terutama jika Anda tertarik dengan sejarah Cirebon. Keraton di Cirebon ini dibangun pada tahun 1529 oleh Pangeran Mas Mohammad Arifin yang notabene merupakan cicit Sunan Gunung Jati.
Keraton yang semula dinamakan Keraton Pakungwati ini dibangun sebagai pusat pemerintahan Cirebon pada masa lalu. Nama tempat wisata di Cirebon ini kemudian diubah menjadi Keraton Kasepuhan setelah adanya pembagian wilayah keraton pada masa pemerintahan Pangeran Mertawijaya, yang dikenal sebagai Sultan Sepuh Mohammad Syamsudin Mertawijaya.
Anda dapat berkunjung ke museum keraton untuk melihat berbagai peninggalan bersejarah seperti kereta kencana, gamelan dari tahun 1426, lukisan antik Prabu Siliwangi, rebana peninggalan Sunan Kalijaga, hingga meriam mini. Anda pun dapat menjelajahi area Keraton untuk mengamati arsitekturnya yang memiliki nilai filosofi tinggi. Keraton Kasepuhan Cirebon berada di Jalan Kasepuhan Nomor 43, Lemahwungkuk, Kota Cirebon.
2. Keraton Kanoman
Keraton Kanoman adalah destinasi wisata bersejarah di Cirebon yang tidak kalah menarik dari Keraton Kasepuhan. Meski sudah banyak mengalami pemugaran, Keraton Kanoman tetap memertahankan dekorasi dan gaya arsitektur khas Jawa dan Tiongkok yang mengandung nilai sejarah perkembangan kerajaan Islam di Indonesia. Berbagai koleksi benda bersejarah seperti lukisan, kerajinan keramik, serta kereta kencana Paksi Naga Liman yang legendaris dapat Anda temukan di tempat wisata di Cirebon ini.
Sejak didirikan pada tahun 1678, Keraton Kanoman masih memegang adat dan tradisinya hingga saat ini. Salah satu tradisi keraton yang paling terkenal adalah Ritual Panjang Jimat yang biasa digelar setiap bulan Maulid. Ritual Panjang Jimat diawali dengan pencucian benda-benda pusaka milik Keraton Kanoman selama 40 hari dan dilanjutkan dengan prosesi arak-arakan benda pusaka dan gunungan hasil bumi dari Pendopo Jinem menuju Masjid Keraton Kanoman. Prosesi yang satu ini selalu dinanti warga Cirebon dan para wisatawan. Selain memiliki nilai filosofis tinggi, ritual Panjang Jimat juga dapat menjadi ajang mengucap syukur bagi warga di sekitar Keraton Kanoman.
3. Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid tertua di Cirebon ini berlokasi di kompleks Keraton Kasepuhan. Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa banyak didominasi pengaruh Kerajaan Islam pada masa lalu. Ciri khas tersebut dapat dilihat dari atap masjid yang tidak memiliki kemuncak seperti masjid-masjid lain di Pulau Jawa pada umumnya.
Sepintas, masjid yang satu ini mungkin tidak tampak begitu istimewa. Meski tampak sederhana, ada kisah menarik di balik pembangunan masjid ini. Konon, pembangunan Masjid Sang Cipta Rasa melibatkan ratusan tokoh penting dari Kerajaan Demak, Majapahit, dan Cirebon. Sunan Gunung Jati bahkan menunjuk Sunan Kalijaga untuk merancang arsitektur masjid.

Selain gaya arsitekturnya yang masih awet hingga sekarang, ada satu tradisi yang masih dipertahankan di Masjid Sang Cipta Rasa, yakni azan pitu. Azan pitu ialah ritual azan yang dilakukan oleh tujuh muazin secara bersamaan. Azan pitu biasanya dikumandangkan setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

4. Makam Sunan Gunung Jati
Makam Sunan Gunung Jati sering dijadikan destinasi wisata religi bagi wisatawan yang berasal dari Pulau Jawa. Di tempat wisata di Cirebon ini Anda akan merasakan suasana khidmat berkat lantunan ayat-ayat suci yang bergema di seantero kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Gaya arsitektur khas Tiongkok, Jawa, dan Arab pun berpadu sempurna membentuk harmoni yang menakjubkan. Beragam dekorasi porselen khas Tiongkok banyak disematkan di sekitar dinding makam.
Daya tarik lain yang dimiliki Kompleks Makam Sunan Gunung Jati adalah adanya sembilan pintu yang disusun secara bertingkat. Namun, pengunjung hanya diperkenankan untuk masuk hingga pintu ke-lima, sebab pintu-pintu selanjutnya hanya diperuntukkan bagi keturunan Sunan Gunung Jati.
Kompleks Makam Sunan Gunung Jati berlokasi di Jalan Alun-alun Astana Gunung Jati 53, Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati.

5. Taman Sari Gua Sunyaragi
Beberapa tahun belakangan, minat wisatawan untuk mengunjungi Taman Sari Gua Sunyaragi semakin meningkat. Berkat pemugaran area taman dan pagelaran kesenian setiap tahunnya, tempat wisata di Cirebon ini kini tidak lagi tampak seperti tempat wisata yang terabaikan.
Taman yang memiliki deretan gua ini dulunya merupakan tempat bermeditasi bagi para pemuka kerajaan atau prajurit keraton. Keaslian bangunan-bangunan batu kuno di Gua Sunyaragi bahkan masih terasa begitu murni hingga saat ini. Warga lokal juga sering menjadikan tempat wisata di Cirebon ini sebagai lokasi berburu foto.
Taman Sari Gua Sunyaragi pun sering dijadikan lokasi pagelaran musik, sendratari, hingga pembukaan Festival Keraton Nusantara yang dilaksanakan setahun sekali. Bahkan, baru-baru ini, pengelola Taman Sari Gua Sunyaragi juga meluncurkan wahana balon udara untuk menarik minat wisawatan agar semakin betah berkunjung ke sini.

Tertarik datang ke tempat wisata di Cirebon ini? Datang saja ke lokasinya di Jalan Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Cirebon. Taman Sari Gua Sunyaragi dibuka untuk umum setiap hari pada pukul 08:00-17:30.

6. Cirebon Waterland Taman Ade Irma Suryani
Taman Ade Irma Suryani (TAIS) dikenal sebagai taman hiburan anak pada dekade 90-an. TAIS sempat terabaikan sebelum akhirnya disulap menjadi waterpark yang diberi nama Cirebon Waterland. Sejak dibuka pada tahun 2014, tempat wisata di Cirebon yang satu ini langsung menjadi primadona pariwisata bagi warga Cirebon dan sekitarnya. Kehadiran pondok ikonik seperti yang terdapat di Dusun Bambu Lembang serta restoran bergaya kapal laut menjadi daya tarik bagi wisatawan, khususnya para pencinta fotografi.

Selain pondok dan restoran yang ikonik, kolam renang waterboom Cirebon Waterland juga patut Anda jajal bersama si buah hati. Tempat wisata di Cirebon ini juga punya taman bermain anak yang dilengkapi berbagai wahana permainan dan spot foto menarik.
Cirebon Waterland berlokasi di Jalan Yos Sudarso 1, Lemahwungkuk, Cirebon. Objek wisata satu ini dibuka setiap hari pada pukul 07:00-21:00 dengan harga tiket masuk seharga Rp50.000 dan Rp65.000 khusus akhir pekan.

7. Bukit Gronggong
Cirebon juga punya destinasi wisata dengan pemandangan malam yang ciamik, namanya Bukit Gronggong. Bukit Gronggong merupakan lokasi nongkrong favorit anak muda Cirebon dan sekitarnya. Di kawasan Bukit Gronggong, Anda dapat menikmati indahnya pemandangan Cirebon pada malam hari dari ketinggian sambil duduk di bangku dan menikmati minuman hangat di tengah sejuknya cuaca perbukitan.
Kini, di kawasan tempat wisata di Cirebon ini sudah banyak berdiri restoran dan penginapan yang menyajikan panorama perbukitan yang memesona. Jadi, liburan bersama keluarga dan sahabat pun bisa semakin menyenangkan. Buat Anda yang tertarik menikmati pemandangan malam khas Bukit Gronggong yang berlokasi di daerah Patapan, Beber, Cirebon, Anda hanya diharuskan membayar biaya parkir sebesar Rp2.000 untuk kendaraan roda dua, dan Rp5.000 untuk mobil.

8. Telaga Remis
Telaga Remis menawarkan segarnya pemandangan alam khas kaki Gunung Ciremai untuk Anda yang ingin melepas penat dari padatnya aktivitas sehari-hari. Terletak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Cirebon, tepatnya di daerah Kaduela, Kuningan, Telaga Remis konon merupakan tempat pertapaan Raja Siliwangi pada masa lalu.

Nama Telaga Remis yang dalam bahasa Sunda memiliki arti embun berasal dari kisah Prabu Siliwangi yang memanfaatkan embun sebagai air minumnya saat bertapa di daerah tersebut yang dulu terkenal tandus. Sang Prabu pun kemudian membuang sisa embun tersebut seraya berdoa agar kelak daerah tersebut menjadi telaga yang berguna bagi masyarakat sekitar.
Nyatanya, doa Prabu Siliwangi tersebut menjadi kenyataan. Kini, Telaga Remis tak hanya mampu menjadi sumber mata air bagi warga sekitar, tapi juga telah disulap menjadi destinasi wisata yang mampu mendekatkan pengunjung pada alam. Di lahan seluas 3 hektare ini, Anda dapat menjelajahi kawasan hutan di sekitar telaga yang didiami ratusan jenis tumbuhan seperti pohon malaka, sonokeling, dan kosambi. Telaga Remis juga telah dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti camping ground, kamar mandi, warung, gazebo, dan lahan parkir.

9. Setu Patok
Warga setempat menyebut Setu Patok sebagai Danau Toba-nya Cirebon. Wajar saja, sebab Setu Patok bisa dinobatkan sebagai danau terbesar di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Danau Setu Patok sering dijadikan sebagai tempat bersantai dan berburu foto bagi warga sekitar. Tempat wisata di Cirebon ini paling ramai dikunjungi pada sore hari berkat pemandangan sunset-nya yang indah.
Pemandangan danau yang luas dan dikelilingi perbukitan bukan satu-satunya daya tarik yang dimiliki Setu Patok. Di tempat wisata di Cirebon yang satu ini, pengunjung dapat menjajal sejumlah kegiatan menarik seperti memancing, piknik, atau mengelilingi danau dari atas perahu motor. Akses menuju Setu Patok pun sangat mudah berkat lokasinya yang berada di jalur pantai utara kawasan Mundu dan hanya memakan waktu sekitar 30 menit berkendara dari pusat Kota Cirebon.

10. Sentra Batik Trusmi
Kawasan Trusmi terkenal akan deretan rumah perajin batik. Kini kawasan tersebut telah disulap menjadi destinasi wisata budaya yang diberi nama Sentra Batik Trusmi. Di sepanjang Jalan Trusmi tersebut, Anda akan disajikan beragam galeri batik khas Cirebon yang terkenal akan motif mega mendung dan coraknya yang cerah tapi lembut.
Di kawasan tempat wisata di Cirebon ini, Anda tidak hanya dapat berburu oleh-oleh batik khas Cirebon. Beberapa galeri batik bahkan menawarkan kursus membatik bagi wisatawan yang tertarik mencoba menggambar motif batik khas Cirebon. Selain membatik, pengunjung juga akan diajak melukis topeng, sekaligus belajar menari topeng di kawasan wisata edukasi Sentra Batik Trusmi. Menarik, bukan?

11. Wanawisata Ciwaringin
Cirebon mungkin tidak punya banyak tempat wisata alam seperti kawasan Kuningan atau Majalengka, sehingga kehadiran Wanawisata Ciwaringin mungkin dapat menjadi oasis bagi warga perkotaan Cirebon yang merindukan pemandangan hijau. Terletak di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Majalengka, Wanawisata Ciwaringin menawarkan pemandangan hutan yang hijau sekaligus danau yang biasa dijadikan sebagai tempat memancing.
Pemandangan gunung kapur yang gagah pun turut menambah daya tarik tempat wisata di Cirebon yang satu ini. Tak hanya itu, di kawasan Wanawisata Ciwaringin pun terdapat arena motorcross yang diperuntukkan bagi para pencinta tantangan. Tersedia pula sejumlah fasilitas pendukung seperti kamar mandi, lahan parkir, ruang ibadah, dan penginapan untuk memastikan kegiatan wisata pengunjung tetap nyaman.

12. Hutan Plangon
Hutan Plangon bisa jadi tempat wisata  unik sekaligus keramat bagi warga Cirebon dan sekitarnya. Konon, hutan ini merupakan tempat menyepi dua pangeran keraton Cirebon. Banyak juga yang mengatakan bahwa dua pangeran tersebut disemayamkan di Hutan Plangon. Tidak heran jika banyak pula pengunjung yang datang ke Hutan Plangon untuk berziarah ke makam dua sesepuh Cirebon tersebut.
Kawasan hutan yang terletak sekitar 3 kilometer dari pusat kota ini didiami ratusan ekor kera dan aneka ragam flora. Pengunjung yang datang ke tempat wisata di Cirebon ini dapat bercengkerama dengan kera-kera setempat atau sekadar memberi makanan. Namun, ingat, kebanyakan kera di Hutan Plangon agresif dan kurang ramah terhadap para pendatang. Jadi, usahakan untuk tetap berhati-hati dan tidak mengganggu habitat kera di sana, ya. Hutan Monyet Plangon berlokasi di Jalan Bumi Babakan Indah, Cirebon, dan dapat ditempuh dari pusat kota dalam waktu kurang lebih 45 menit.

13. Desa Wisata Cikalahang
Warga Cirebon dan sekitarnya sering kali menjadikan tempat ini sebagai lokasi liburan bersama keluarga besar. Desa Wisata Cikalahang terkenal sebagai tempat ikan bakar yang punya pemandangan alam khas pegunungan. Pengunjung bahkan dapat menangkap ikan sendiri untuk diolah menjadi santapan lezat.
Namun, jangan salah, meski terkenal sebagai lokasi memancing dan wisata kuliner, Desa Wisata Cikalahang tetap menawarkan sejumlah daya tarik wisata untuk setiap pengunjung. Kehadiran perahu wisata, pondokan, serta kolam renang dapat Anda jajal untuk menyemarakkan liburan bersama keluarga Anda.
Desa Wisata Cikalahang terletak sekitar 2 kilometer dari Sumber, pusat pemerintahan Kabupaten Cirebon, tepatnya di Kecamatan Dukupuntang. Lokasinya pun berada tidak begitu jauh dari Telaga Remis dan dapat dijangkau dengan mudah oleh kendaraan pribadi.

14. Pantai Kejawanan
Pantai Kejawanan bisa menjadi tempat wisata di Cirebon alternatif bagi Anda yang merindukan suasana semilir pantai dan deburan air laut. Meski kondisinya relatif kurang terawat jika dibandingkan dengan pantai lain seperti yang ada di Bali, banyak warga yang menghabiskan sore di Pantai Kejawanan untuk sekadar bersantai di pinggir laut sambil menikmati kopi dan camilan.
Anda pun dapat menaiki perahu motor untuk mengelilingi area Pantai Kejawanan hanya dengan membayar ongkos sewa sebesar Rp15.000-Rp20.000 saja. Pantai Kejawanan juga punya beberapa spot menarik yang dapat dijadikan sebagai objek foto Anda.

15. Alun-alun Kejaksan
Kawasan Alun-alun Kejaksan merupakan tempat nongkrong favorit warga Kota Cirebon. Saat malam, kedai makanan dan minuman banyak buka berderet di sepanjang tempat wisata di Cirebon ini. Hiasan kelap-kelip lampu pun turut menambah semarak suasana malam di alun-alun.
Kawasan alun-alun juga sering dijadikan lokasi jogging berkat lahannya yang luas. Setiap hari Minggu, Alun-alun Kejaksan dan sepanjang Jalan Siliwangi dipadati pengunjung yang ingin menghabiskan Minggu paginya di acara car free day.
Tepat di sebelah alun-alun terdapat Masjid Raya At-Taqwa yang merupakan masjid terbesar di Kota Cirebon. Masjid satu ini pun kerap disambangi wisatawan untuk beribadah atau bahkan melihat pemandangan Cirebon dari atas menaranya.
















DAFTAR PUSTAKA



penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM LOKAL KEBUDAYAAN CIREBON"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA