Pages

SEJARAH KESULTANAN KASEPUHAN DAN KANOMAN CIREBON


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
Selain itu Bahasa yang digunakan dalam daerah kesultanan Cirebon memiliki ciri khas tersendiri percampuran antara Bahasa jawa yang merupakan pengaruh dari wilayah JawaTengah dan Bahasa sunda yang merupakan pengaruh dari daerah JawaBarat. Sehingga memiliki corak tersendiri dalam hal Bahasa maupun kebudayaan.
Sumber yang menceritakan tentang kesultanan Cirebon adalah Naskah babad tanah SundaAtja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman ?
2.      Bagaimana Hirarki Kepemimpinan dari Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman ?
3.      Bagaimana  Silsilah Raja di Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman ?
4.      Wilayah mana saja yang merupakan Kekuasaan dari Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman?7

C.    Tujuan Pembahasan
1.      Agar mengetahui sejarah Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman
2.      Agar mengetahuiHirarki Kepemimpinan dari Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman
3.      Agar mengetahui Silsilah Raja di Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman
4.      Agar mengetahui Wilayah Kekuasaan dari Kesultanan Kasepuhan dan Kanoman.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    KESULTANAN KASEPUHAN
1.      Sejarah Kasepuhan
Keraton Kesepuhan di dirikan oleh putra mahkota dari kerajaan padjajaran yaitu pangeran Walang sungsang beliau nama lainnya pangeran Cakrabuwana pada mulanya bernama Keraton Pakungwati beliau mendirikan keraton Cirebon pada tahun 1430 M atau pada sekitar abad ke-15. Beliau lalu menyerahkan keraton tersebut kepada puterinya yang bernama Ratu Ayu Pakungwati, karena itu diberi nama Keraton Pakungwati  (Dalem Agung Pajungwati). Pakungwati yang artinya udang perempuan karena posisi Cirebon ada ditepi laut pantai utara Cirebon yang pada zaman dahulu para nelayan mendapatkan tangkapan hasil laut seperti udang , cumi-cumi, ikan, dan lain sebagainya, Cirebon berasal dari kata Ci artinya air dan rebon artinya udang yang kecil-kecil.
          Ratu Ayu Pakungwati lalu ia menikah dengan sepupunya Syekh Syarif Hidatullah, yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian dinobatkan sebagai pemimpin negara Cirebon yang pemerintahannya berpusat di Dalem Agung Pakungwati.
  Keraton Pakungwati setelah berdirinya diserahkan kepada Syarif  Hidayatullah beliau adalah seorang kepala negara seorang raja dan seorang pembesar agama islam atau  seorang wali yang mana Syarif  Hidayatullah gelar walinya adalah Sunan Gunung Jati.
  Keraton Cirebon pada saat itu dipimpin oleh Syarif  Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang mana pada saat itu wilayah kekuasaannya adalah Jakarta dan Banten, kemudian setelah keraton Cirebon memerdekakan , memproklamirkan menjadi kerajaan yang pada awalnya berada dibawah kerajaan padjajaran . Mereka selalu mengirim upeti-upeti seperti terasi , rempah-rempah dan sebagainya.  Setelah lepas dari kerajaan padjajaran , Cirebon menjadi kerajaan yang mandiri maka Cirebon pernah menjadi sebuah negara yaitu Caruban Nagari yang artinya Negara Cirebon.
  Kemudian setelah wafatnya Syarif Hidayattullah diteruskan kepada keturunanya tetapi setelah generasi ke-4 dari Sunan gunung jati. Suatu proses sejarah pada saat itu keraton Cirebon terpecah menjadi dua yang mana disitu hadirnya Belanda dimana pada sunan gunung jati belum kedatangan pejajah Belanda setelah generasi ke-4 dari sunan gunung jati yaitu Panembahan Girilaya nama rajanya beliau mempunyai beberapa putra yang mana panembahan Girilaya meninggal di Jawa Tengah sekarang makamnya di Yogyakarta.
Sekitar tahun 1679 Keraton Pakungwati disebut dengan Keraton Kasepuhan, bersamaan dengan didirikannya Keraton Kanoman oleh Sulltan Anom I.
Keraton Kesepuhan adalah keraton termegah dan paling terawat di Cirebon. Makna disetiap sudut Arsitektur keraton ini terkenal paling bersejarah. Halaman depan keraton dikelilingi tembok bata merah dan terdapat pendopo didalamnya.[1]
2.      Hirarki Kepemimpinan Keraton
Keraton dipimpin oleh seorang sultan, sultan adalah seorang raja yang kekuasaannya mutlak. Sultan dahulunya adalah seorang raja tetapi sekarang hanya seorang pemangku adat. Dikarenakan sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang presiden. Kekuasaan raja lebih mutlak dari pada presiden. Karena presiden dipilih melalui demokrasi dengan masa jabatan 5 tahun, sedangkan sultan masa jabatannya adalah seumur hidup dan kemudian digantikan oleh anak laki-lakinya yang pertama.
Keraton dipimpin oleh seorang ratu yang berarti juga sebagai raja. Kekuasaan raja adalah mutlak sampe akhir hayat dan akan digantikan oleh keturunannya. Ada pepatah Jawa  yang berbunyi : “Sabdo pandito Ratu” yang artinya ucapan seorang raja merupakan hukum. [2]


3.      Silsilah Raja
     Dari hasil observasi dan wawancara secara langsung dengan bapak Iman Sudiman kita memperoleh data-data mengenai silsilah raja keraton kesepuhan dari dalu hingga sekarang sebagai berikut:
              Silsilah Sunan Gunung Jati
Berdasarkan carita Purwaka Caruban Nagari Oleh Pangeran Arya Carbon , Tahun 1720 M
Ø  Turun Dari Ayah :
·      Nabi Muhammad Saw
·      Sayidina Ali yang beristrikan Siti Fatimah Binti Muhammad Saw
·      Sayid Husen
·      Sayid Abidin
·      Sayid Muhammad Baqir
·      Ja’farShadiq
·      Kasim Al-Malik
·      Idris
·      Al-Baqir
·      Ahmad
·      Baidillah
·      Muhammad Alwi dari Mesir
·      Ali gazam
·      Muhammad Alwi
·      Abdul Malik Amir
·      Jamaluddin
·      Ali Nurul Alim
·      Syarief Abdullah
·      Syech Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)

Ø  Turun Dari Ibu :
·         Maharaja Galuh Pakwan/Maharaja Adi Mulya
·         Prabu Ciungwanara
·         Sri Ratu Purbasari
·         Prabu Linggahyang
·         Prabu Watukencana
·         Prabu Susuk Tunggal
·         Prabu Banyak Wangi
·         Prabu Mundingkawati
·         Prabu Anggalarang
·         Prabu Siliwangi/Raden Pamanah Rasa
·         Nyi Mas Rarasantang/Syarifah Muda’im
·         SyechSyrief Hidayatullah
·         Sunan Gunung Jati

Silsilah Kasultanan Kasepuhan Cirebon :
·      Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) Tahun 1479 M
·      P.AdipatiPasarean (P.Muhammad Arifin)
·      P.DipatiCarbon 1(P.Sedang Kemuning)
·      Panembahan Ratu Pakungwati I (P.Emas Zainul Arifin) Tahun 1568 M
·      P.DipatiCarbon II (P.Sedang Gayam)
·      Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilya) Tahun 1597 M
·      P. Syamsudin Martawidjaja (Sultan Sepuh I) Tahun 1678 M
·      P. Djamaludin (Sultan Sepuh II) Tahun 1678 M
·      P.Djaenudin Amir Sena I (Sultan Sepuh III) Tahun 1720 M
·      P.Djaenudin Amir Sena II (Sultan Sepuh IV) Tahun 1750 M
·      P. Sjafudin/Sultan Matangaji (Sultan Sepuh V) Tahun 1776 M
·      P.Hasanuddin (Sultan Sepuh VI) Tahun 1784 M
·      P.Djoharudin (Sultan Sepuh VII) Tahun 1790 M
·      P. Radja Udaka (Sultan Sepuh VIII) Tahun 1816 M
·      P. Radja Suleman (Sultan Sepuh IX) Tahun 1845 M
·      P. Radja Atmadja (Sultan Sepuh X) Tahun 1880 M
·      P. Radja Aluda Tajul Arifin (Sultan Sepuh XI) Tahun 1899 M
·      P. Radja Radjaningrat (Sultan Sepuh XII) Tahun 1942 M
·      P.R.A. DR. H. Maulana Pakuningrat, SH. (Sultan Sepuh XIII) Tahun 1969 M
·      P.R.A. Arief Natadiningrat, SE (Sultan Sepuh XIV) Tahun 2010 M[3]

4.      Wilayah Kekuasaan Kesultanan Kasepuhan
Pada saat pemerintahan Syarif Hidayatulah kerajaan Cirebon atau  Caruban Nagari itu  wilayah kekuasaannya meliputi Jakarta dan Banten.  Kemudian ke arah Timur perbatasan dengan Tegal Arum dan ke arah Selatan  perbatasan dengan  Sumedang Larang.  Dimana wilayah Banten dipimpin oleh Sultan Hasanuddin yang merupakan anak dari Syekh Syarif Hidayatullah.  Kemudian Jakarta yang dahulunya bernama Sunda Kelapaberhasil dibebaskan oleh Pangeran Fatahillah sebagai panglima kerajaan Cirebon. Jadi sejarah Jakarta ada Cirebon. Dahulu Jakarta pada abad ke-15 pada masa pemerintahan Syarif Hidayatullah awalnya bernama Sunda Kelapa dan dijajah oleh Portugis yang kemudian Sunan Gunung Jati memerintahkan Sultan Hasanuddin atau Pangeran Fatahillah untuk mengusir pasukan portugis dan berhasil mereka bertempur dan menang perang.[4]










B.     KESULTANAN KANOMAN
1.    Sejarah Kanoman
Keraton Kanoman adalah salah satu dari dua bangunan kesultanan Cirebon, setelah berdiri keraton Kanoman pada tahun 1678 M kesultanan Cirebon terdiri dari keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman. Kebesaran Islam di Jawa bagian barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah orang yang bertanggung jawab menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.
Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal, seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.
“Sejarah awal cirebon dimulai pada abad ke 14 tepatnya pada tahun 1362 M. Dan sangat berpengaruh bagi masyarakat Cirebon dan Jawa Barat. Bermulanya reformasi dari Hindu ke Islam dari sini, secara kelembagaan Kerajaan Padjajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi, berideologi hindu-budha. Direformasi oleh putra mahkota yang bernama Pangeran Cakrabuana / Pangeran Walangsungsang / Mbah Kuwu Cirebon, mereformasi Padajaran menjadi Islam dengan hidayah / petunjuk dari Rasullullah SAW. 0 km merupakan peradaban islam. Pada abad ke 15 lahirlah Sunan Gunung Jati yang memulai pergerakan di JawaBarat khususnya Cirebon. Abad ke 16 regenerasi Sunan Gunung Jati yang ke-6 bernama Pangeran Badridin, beliau meneruskan syiarnya dengan membentuk suatu lembaga kesultanan Kanoman pada tahun 1588 M atau abad ke-18.”
Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektare ini berlokasi di belakang pasar. Di Keraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Keraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari bangunan kuno. Salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola.Di keraton ini masih terdapat barang-barang, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika beliau Isra Mi'raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Keraton terdapat kompleks bangunan bernama Siti Hinggil.
Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon. Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid.

Masuknya pengaruh Belanda
Pada tahun 1677, para pangeran dari kesultanan Cirebon yang ditawan oleh Mataram berhasil diselamatkan oleh kesultanan Banten dengan bantuan Trunojoyo, setelah sebelumnya pangeran Nasiruddin yang pada masa itu menjabat sebagai wali sultan Cirebon meminta bantuan kepada sultan Ageng Tirtayasa dari kesultanan Banten untuk menyelamatkan saudaranya yang ditawan Mataram. Pada kurun waktu itu Banten yang sedang mengalami peperangan dengan Belanda pun dibebani tugas untuk menghindari kisruh meluas didalam keluarga besar kesultanan Cirebon yang memang sudah terpecah sebelumnya dalam menentukan penerus tahta kesultanan Cirebon, akhirnya sultan Ageng Tirtayasa dari kesultanan Banten memutuskan untuk melantik Syamsuddin (Martawijaya) sebagai sultan Sepuh, Badruddin (Kartawijaya) sebagai sultan Anom dan Nasiruddin (Wangsakerta) sebagai Panembahan Cirebon yang menguasai kepustakaan dan pendidikan di Cirebon utamanya para bangsawan. Penegasan ketiganya sebagai penguasa Cirebon kemudian dilakukan di keraton Pakungwati (kini bagian dari kompleks keraton Kasepuhan) pada tahun 1679, namun ternyata masalah internal keluarga besar ini tidak selesai begitu saja yang kemudian situasi ini dimanfaatkan oleh Belanda yang sedang berperang dengan kesultanan Banten untuk mengirimkan pasukannya guna menyerang Cirebon.
Pada tahun 1681, Belanda menawarkan perjanjian persahabatan kepada kesultanan Cirebon yang pada waktu itu telah dipecah menjadi dua kesultanan yaitu kesultanan Kasepuhan dan kesultanan Kanoman. Dan satu peguron yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta serta memaksa mereka untuk menyetujuinya. Perjanjian persahabatan tersebut kemudian ditandatangani oleh ketiganya sebagai para penguasa Cirebon sementara pada perjanjian tanggal 7 Januari 1681 tersebut Belanda diwakili oleh komisioner Jacob vanDijk dan kapten JoachimMichiefs, perjanjian persahabatan yang dimaksud adalah untuk memonopoli perdagangan di wilayah Cirebon diantaranya perdagangan komoditas kayu, beras, gula, lada serta Jati sekaligus menjadikan kesultanan-kesultanan di Cirebon protektorat Belanda (wilayah dibawah naungan Belanda). Pada tahun yang sama juga kesultanan-kesultanan di Cirebon menegaskan kembali klaimnya atas wilayah-wilayahnya di selatan yaitu Sumedang, Galuh dan Sukapura kepada Belanda.
Semenjak kesultanan Cirebon dibagi menjadi dua kesultanan dan satu peguron, kisruh antara keluarga keraton tidak langsung selesai begitu saja, perihal hubungan berdasarkan derajat tertentu (bahasa Cirebon : pribawa) dalam kekeluargaan di kesultanan Cirebon dahulu menjadi bahan pertikaian yang berlarut-larut hingga akhirnya pihak Belanda mengirimkan utusan untuk membantu menyeleseikan masalah tersebut yang oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai ikut campurnya Belanda dalam urusan internal kesultanan-kesultanan di Cirebon. Pada tanggal 3 November 1685 (empat tahun setelah perjanjian monopoli dagang Belanda terhadap Cirebon), Belanda mengirimkan FrancoisdeTack. Pada akhirnya terciptalah sebuah perjanjian baru yang ditandatangani ketiganya pada tanggal 4 Desember 1685, isi perjanjian tersebut diantaranya ;
“ bahwa dalam hubungan-hubungan yang sifatnya keluar, kesultanan-kesultanan di Cirebon hanya diwakili oleh seorang syahbandar (yang pada waktu itu adalah Tumenggung Raksanegara). Hal itu dimaksudkan agar perpecahan yang terjadi di kesultanan-kesultanan di Cirebon tidak diketahui oleh pihak asing”
Namun perjanjian 4 Desember 1685 tidak berhasil memadamkan perselisihan antara keluarga besar kesultanan Cirebon, hal tersebut dikarenakan FrancoisdeTack dianggap lebih memihak Sultan Anom pada penyelesaian perjanjian tersebut.
Belanda kemudian kembali mengirimkan utusan untuk menyelesaikan masalah internal di Cirebon yaitu Johanes deHartog namun perjanjian yang ditandatangani pada 8 September 1688 dengan kesimpulan bahwa kesultanan-kesultanan di Cirebon berada dalam perlindungan Belanda (VOC) tersebut tidak membuahkan hasil.[5]

2.       Hirarki Kepemimpinan Keraton Kanoman
Pada tahun 1703 Sultan Anom I Badrudin Kartawijaya wafat, maka 2 tahun berikutnya yaitu pada tahun 1705 diadakan pengaturan urutan yang baru oleh Belanda. Panembahan Nasirudin Wangsakerta menempati derajat tertinggi (di antara seluruh keluarga besar kesultanan Cirebon). Tempat kedua ditempati oleh kedua orang putra Sultan Sepuh I Sultan Kacirebonan I Sultan Cirebon Arya Cirebon Abil Mukaram Kaharudin dan tempat ketiga ditempati putra-putra Sultan Anom I Badrudin Kartawijaya yaitu Pangeran Raja Adipati Mandureja Muhammad Qadirudin yang kemudian menjadi Sultan Anom II dan Pangeran Adipati Kaprabon yang mendirikan peguronKaprabonan pada tahun 1696 sekaligus menjadi rama guru di sana.
Kemudian Pangeran Raja Muhammad Qadirudin diresmikan sebagai Sultan Anom II keraton Kanoman dikarenakan saudaranya yaitu Pangeran Adipati Kaprabon yang merupakan putra pertama Sultan Anom I dari permaisuri keduanya yaitu Ratu Sultan Panengah memutuskan untuk memperdalam ajaran Islam dan menyerahkan kepemimpinan keraton Kanoman kepada adiknya Pangeran Raja Muhammad Qadirudin.
Pada tahun 1705, pejabat penghubung Belanda untuk wilayah kesultanan Cirebon resmi berkantor di Cirebon, guna menyelesaikan masalah dengan Mataramyang masih merasa bahwa kesultanan Cirebon adalah wilayah bawahannya. Maka diadakanlah perjanjian pada tanggal 5 Oktober 1705 antara Mataram pada masa pemerintahan Pakubowo I dengan Belanda. Perjanjian tersebut menyebutkan bahwa batas wilayah kesultanan Cirebon sebagai bagian dari wilayah protektorat Belanda adalah sungai Losari di sebelah utara (sekarang batas antara provinsi Jawa Barat dengan Jawa Tengah) dan sungai Donan di sebelah selatan (sekarang batas antara kecamatan Cilacap Selatan dengan Cilacap Tengah dengan kecamatan Kawunganten di kabupaten Cilacap).
Pada 1708, Belanda turut campur lagi untuk menempatkan perbedaan tingkatan dari ketiga cabang keluarga kesultanan Cirebon. Setelah Panembahan Wangsakerta wafat tahun 1714, maka sekitar tahun 1715-1733 berkali-kali diadakan penggeseran tinggi rendahnya seseorang dalam menduduki tingkatan di antara keluarga besar kesultanan Cirebon yang pada waktu itu sebenernya telah memiliki kesultanannya masing-masing, seperti anak-anak sultan Sepuh yaitu Pangeran Dipati Anom Tajularipin Djamaludin yang telah menjadi Sultan Sepuh II di kesultanan Kasepuhan dan Pangeran Arya Cirebon Abil Mukaram Kaharudin yang telah membentuk cabang keluarga sendiri yaitu sebagai Sultan Kacirebonan pertama, demikian juga dengan anak dari Sultan Anom I Badrudin Kartawijaya yaitu Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin yang telah menggantikan ayahnya sebagai Sultan Anom II kesultanan Kanoman serta Pangeran Adipati Kaprabon yang menguasai PeguronKaprabonanbegitupun anak dari pangeran Nasirudin Wangsakerta yaitu Pangeran Muhammad Muhyiddin yang melanjutkan tugas ayahnya sebagai pemimpin peguron (tempat pendidikan) dan kepustakaan Cirebon.[6]

3.    Silsilah Raja :
1.     Syekh Maulana Syarif  Hidayatullah (Kanjeng Sinuhun Jati / Sunan Gunung Jati, 1479-1568 M)
2.     P. Muhammad Arifin (P. Adipati Pesarean, wafat sebelum bertahta)
3.     P. Swarga/Sedang Kamuning (P. Adipati carbon I, wafat sebelum bertahta)
4.     P. Mas Zainul Arifin (Panembahan Ratu Pakungwati I 1570-1649 M.)
5.     P. Sedang Gayam (P. Adipati Carbon II, wafat sebelum bertahta)
6.     P. Karim/Panembahan Girilaya (Panembahan Ratu Pakungwati II, 1649-1667 M)
7.     P. Kartawijaya (Sultan Kanoman Abi MakarimiBadridin, 1677-1703 M.)
8.     Sultan Raja MandurejaQodirudin (Sultan Kanoman II, 1703-1706 M.)
9.     Sultan Raja M. Alimudin (Sultan Kanoman III, 1744-1798 M.)
10.      Sultan Raja Muhammad Khaerudin (Sultan Kanoman IV, 1798-1803)
11.      Sultan Raja M. AbusolehImamudiin (Sultan Kanoman V, 1803-1811 M.)
12.      Sultan Raja M. Komarudin I (Sultan Kanoman VI, 1811-1858 M.)
13.      Sultan Raja M. Komarudin II (Sultan Kanoman VII, 1858-1873 M.)
14.      Sultan Raja M. Zulkarnaen (Sultan Kanoman VIII, 1873-1934 M.)
15.      Sultan Raja M. Nurbuwat (Sultan Kanoman IX, 1934-1935 M.)
16.      Sultan Raja Muhammad Nurus (Sultan Kanoman X, 1935-1989 M.)
17.      Sultan Raja Muhammad Djalaludin (Sultan Kanoman XI, 1989-2002 M.)
18.      Sultan Raja Muhammad Emirudin (Sultan Kanoman XII, 6 maret 2002 – sekarang.)[7]

4.    Wilayah Kekuasaan
Wilayah kekuasaan Keraton Kanoman pada zaman dahulu yaitu ke arah utara hingga ke Indramayu, arah selatan hingga ke Jalan Pulasaren (Keraton Kasepuhan), arah barat hingga Perbatasan Majalengka, dan arah timur mentok hingga ke laut.[8]











BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengahdan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.
Serta peranan Cirebon khususnya daerah penyebaran agama islam di Jawa Barat sangat berpengaruh, sehingga Cirebon selain pusat perdagangan dan pelabuhan juga sebagai pusat penyebaran islam di Jawa bagian Barat selain Kesultanan Banten.















DAFTAR PUSTAKA

1.      Narasumber di Keraton Kasepuhan : Bpk. Iman Sugiman
2.      Narasumber di Keraton Kanoman   : Bpk. Muhammad Raharja
3.      Sulendraningrat, P.S.1978.  Sejarah Cirebon. Jakarta : PN Balai Pustaka










[1] 13Maret 2019, Keraton Kasepuhan, SejarahKeratonKasepuhan.
[2]13 Maret 2019, Keraton Kasepuhan,HirarkiKepemimpinan Keraton.

[3] 13Maret 2019, Keraton Kasepuhan, Silsilah RajaKeraton Kasepuhan.
[4]13Maret 2019, Keraton Kasepuhan, Wilayah Kekuasaan Keraton Kasepuhan.
[5]13Maret 2019, Keraton Kanoman, Sejarah Keraton Kanoman.
[6]13Maret 2019, Keraton Kanoman, HirarkiKepemimpinan Keraton Kanoman.
[7]13Maret 2019, Keraton Kanoman, Silsilah Raja Keraton Kanoman.
[8]13Maret 2019, Keraton Kanoman, Wilayah Kekuasaan Keraton Kanoman.

penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

3 Responses to "SEJARAH KESULTANAN KASEPUHAN DAN KANOMAN CIREBON"

  1. Ini kaya makalah gtu yah gan,
    bermanfaat bnget ...



    jangan lupa kunjungi balik dan tinggalin komen,
    https://aisurunihongo.blogspot.com/2020/11/lirik-terjemahan-hatsune-miku-irony.html

    ReplyDelete

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA