Pages

Mengenal Jenis Klasifikasi Hoaks; Antara Misinformasi dan Disinformasi

 

Mengenal Jenis Klasifikasi Hoaks; Antara Misinformasi dan Disinformasi

Oleh: Rifqi Fadhillah

Pegiat Literasi dan Aktivis Organisasi

Instagram Penulis @rifqifadhil.lah


Di era  kemajuan teknologi yang semakin canggih saat ini memiliki dampak positif, karena memungkinkan siapa saja untuk dapat mengakses informasi secara cepat dan mudah. Cukup dengan meng-click layar gadget, semua informasi dapat diakses dengan simple, baik informasi berita harian, olahraga, kuliner, gaya hidup, otomotif, kesehatan, politik, bahkan informasi seputar kehidupan public figure. Namun di sisi lain, kemudahan akses ini juga terkadang dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.  Salah satunya adalah penyebaran konten-konten yang tidak benar, atau yang lebih dikenal dengan istilah “hoaks”.

Secara umum, informasi tidak benar atau hoaks dibagi kedalam dua kategori, yakni misinformasi dan disinformasi. Misinformasi adalah jenis hoaks yang dimana keberadaan berita atau informasinya dipelintir sedemikian rupa sehingga membentuk narasi yang menyimpang dan dapat menyesatkan pembaca. Sedangkan disinformasi adalah informasi atau berita palsu yang sengaja dibuat dan disebarluaskan untuk merekayasa atau menipu pembaca, selain itu didalamnya memiliki motif atau tujuan tertentu. Menurut koordinator riset First Draft, Claire Wardle dalam artikel berjudul "Fake News, It's Complicated" (2017), misinformasi dan disinformasi dapat ditinjau dari tiga aspek. Pertama, jenis konten yang dibuat dan dibagikan. Kedua, motivasi pembuatan konten dan penyebarannya. Ketiga, cara penyebaran konten tersebut.

Baca Juga : 6 Negara Yang Dulunya Bagian Dari Indonesia

Selanjutnya informasi tidak benar atau hoaks dapat dikelompokkan kedalam tujuh kategori yang ditinjau dari tingkat resiko dan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh misinformasi dan disinformasi berita tersebut, mulai dari yang rendah sampai yang paling tinggi, diantaranya:

1.  Satire or Parody (satire atau parodi)

 Berita satire adalah parodi yang disajikan dalam format yang mirip dengan situs berita yang sesungguhnya. Beberapa situs berita satire mengomentari kejadian nyata dengan satire, bahkan ada juga yang mengarang berita yang benar-benar fiktif. Konten jenis ini biasanya tidak memiliki potensi bahaya atau kandungan niat jahat, namun tetap dapat mengecoh pembaca.

Satire biasanya dibuat untuk menyindir pihak tertentu, baik personal maupun kelompok. Kontennya biasa mengandung unsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Sebenernya satire bukanlah termasuk konten yang membahayakan, namun masih ada masih banyak masyarakat yang menanggapi berita satire dengan serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.

Baca Juga : 5 Pemimpin Besar Yang Mempunayi Pemahaman Kiri

2. False Connection (Koneksi yang Salah)

Suatu informasi atau berita bisa dikatakan false connection atau koneksi yang salah apabila diantara judul dengan isi konten tidak memiliki keterkaitan atau hubungan satu sama lain. Biasanya judul beritanya dibuat provokatif, namun isi beritanya tidak menjelaskan apapun dari judul yang ada. Selain itu, biasanya didalam isi berita tersebut juga ditampilkan ilustrasi atau gambar yang dinilai mendukung terhadap judul yang dibuat, agar berita tersebut dianggap benar-benar terjadi.

3. Misleading content (Konten Menyesatkan)

Konten jenis ini adalah konten yang sengaja dibuat untuk menggiring opini pembaca mengenai suatu isu atau seseorang. Opini yang dibangun bisa membingkai isu atau seseorang tersebut menjai baik atau buruk sesuai dengan keinginan pembuat berita. 

4. False Context (Konteks Keliru)

False Context adalah suatu konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Konten jenis ini biasanya mengandung pernyataan, foto atau video tentang peristiwa disuatu tempat, namun secara konteks tidak ada hubungannya dengan fakta yang ada.

5. Imposter Content (Konten Tiruan)

Imposter content dapat terjadi apabila terdapat informasi yang mencatut pernyataan yang dibuat oleh seorang tokoh yang terkenal dan meiliki pengaruh. Bisa juga dengan membuat suatu konten tiruan untuk mendompleng ketenaran suatu tokoh atau lembaga.

6. Manipulated Content (Konten Manipulasi)

Konten manipulasi biasanya berupa hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan oleh media-media kredibel. Tujuan konten ini adalah untuk mengecoh atau menipu pembaca dan merusak pamor seseorang atau lembaga.

7. Fabricated Content (Konten Palsu)

Fabricated content adalah suatu berita palsu yang sengaja dibuat untuk menipu pembaca. Konten jenis ini adalah yang paling berbahaya, karena isi yang ada di dalamnya tidak dapat dipertanggungjawabkan dan dapat merugikan pihak lain. Contohnya informasi mengenai lowongan kerja palsu dan lain-lain.

Demikian klasifikasi mengenai berita palsu atau hoaks yang harus dihindari agar tidak tertipu dan dirugikan oleh isi dan tujuan yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, sebagai pembaca yang bijak hendaknya menganalisa terlebih dahulu sebelum mempercayai dan menyebarluaskan informasi yang belum dapat dibuktikan secara faktual. Karena Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 42.

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebnaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”

Semoga kita terlindung dari segala tipu daya yang merugikan diri dan juga orang lain. Amiinn…

Wallahu 'alam.

Wallahul Muwaafiq ilaa Aqwamith Thorieq

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuhu.

penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to " Mengenal Jenis Klasifikasi Hoaks; Antara Misinformasi dan Disinformasi"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA