Pages

Upaya dan Hambatan Inovasi Pengarusutamaan Gender di Era Modern

Upaya dan Hambatan Inovasi Pengarusutamaan Gender di Era Modern

Oleh : Rifqi Fadhillah

Instagram Penulis : @rifqifadhil.lah

Gender secara ringkas adalah pemaknaan sosial atau perlakuan sosial terhadap individu yang secara biologis terlahir sebagai laki-laki atau perempuan. Pemanahan sosial dan perlakuan sosial tersebut dapat bersifat menyamakan atau membedakan antara laki-laki dan perempuan. Dimaknai dan diperlakukan secara sama secara sosial di situ terjadi apabila situasi keadilan dan kesetaraan gender, tetapi ketika mereka dimaknai dan diperlakukan secara berbeda maka disitu terdapat situasi ketidakadilan dan ketimpangan gender.

Di masyarakat pada umumnya mudah ditemukan situasi ketidakadilan dan ketidak setaraan gender. Seperti misalnya perlakuan diskriminatif yang sebagian diantaranya itu adalah perilaku kekerasan, termasuk kekerasan seksual terutama oleh laki-laki kepada perempuan. Dan hal demikian itu dapat terjadi ketika di masyarakat tersebut berkembang budaya patriarki. Budaya patriarki adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi peran kepemimpinan politik, otoritas moral, sosial, dan penguasaan properti.

Baca Juga : Biograpi dan Fakta Menarik Sultan Hasanal Bolkiah

Baca Juga : Mengenal Sosok Bapak Pendidikan Indonesia

Lalu apa yang dimaksud dengan inovasi gender? Inovasi gender yang dimaksudkan disini adalah upaya untuk menciptakan pembaharuan di masyarakat dari situasi lama yang bias gender ke situasi baru yang adil gender. Perubahan seperti ini mencakup perubahan kebudayaan, ideologi, sosial, dan politik. Hal ini merupakan perubahan besar dan sistemik yang dituntut upaya keras dari banyak pihak untuk merealisasikannya. Strategi yang sistemnya untuk menginovasi masyarakat ke sistem baru yang lebih adil gender itu disebut pengarusutamaan gender. Pengarusutamaan gender atau dalam bahasa Inggrisnya disebut gender mainstreaming adalah strategi untuk menjadikan gender itu sebagai arus utama dalam setiap kebijakan publik, melembagakan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender di setiap institusi publik. Kemudian mensosialisasikan, konsep atau nilai keadilan dan kesetaraan gender ini di masyarakat, sehingga hal tersebut kemudian menjadi ideologi sosial menjadi budaya sosial yang baru di masyarakat. 

Saat ini yang menjadi persoalannya adalah bahwa di dalam praktik upaya pengarusutamaan gender itu menghadapi banyak hambatan-hambatan yang bersifat struktural dan sistemik. Resistensi yang kuat itu dapat terjadi misalnya dalam melakukan inovasi terhadap konstitusi seperti undang-undang, peraturan pemerintah dan sebagainya untuk menjadikan sistem hukum yang berkeadilan gender. Karena seringkali orang-orang yang politisi pengambil kebijakan atau publik yang memiliki ideologi patriarki itu akan melawan perubahan tersebut dengan menggunakan dalil-dalil pembenaran, baik itu dan agama nilai-nilai tradisional dan sebagainya. Contoh yang menonjol di Indonesia dan sekarang sedang menjadi perdebatan yang ramai itu adalah rencana undang-undang penghapusan kekerasan seksual dalam RUU-PKS. Rancangan undang-undang yang pembahasannya ditunda oleh DPR tahun ini, dan rencananya akan dibahas pada tahun berikutnya. Ini terjadi karena ada satu elemen di lembaga parlemen tersebut yaitu fraksi partai keadilan sejahtera PKS yang secara eksplisit dan terbuka menentang RUU tersebut. Misalnya wakil ketua majelis syuro PKS, Prof. Hidayat nur Wahid, mengatakan bahwa RUU-PKS ini tidak merujuk pada nilai-nilai Islam. Adapun yang dimaksud dengan tidak merujuk tersebut oleh ketua fraksi PKS, Jazuli juwaini, adalah mengenai adanya klausul tentang pelecehan seksual atau kekerasan seksual dalam keluarga. Contohnya suami memperkosa istri sendiri, yang dikenal dengan istilah marital rape atau pemerkosaan dalam pernikahan, pemaksaan aborsi kemudian pemaksaan perkawinan oleh orang tua terhadap anak.

Baca Juga : Mengenal Jenis Klsifikasi Hoaks Antara Misinformasi dan Disinformasi

Baca Juga : 5 Pimpinan Besar Indonesia Yang Mempunyai  Paham Aliran Kiri

Selain itu, terdapat pula perlawanan yang terjadi di kalangan masyarakat terhadap RUU-PKS, salah satunya datang dari guru besar Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, yakni Prof. Euis. Dimana ketika beliau diwawancara oleh ustadz Felix Siauw di Youtube, guru besar tersebut mengatakan bahwa kisi-kisi di RUU itu bertentangan dengan syariat Islam. Dan apabila RUU ini disahkan dapat merusak otonomi dan kualitas keluarga. Hal ini memperlihatkan bahwa sikap politik yang ditunjukkan oleh ketua majelis syuro PKS atau dari guru besar IPB ini mencerminkan adanya perspektif patriarki di dalam memahami syariat Islam. Perspektif yang seperti ini itu cenderung memaknai hukum-hukum Islam secara tekstual, dan melupakan konteks sosial dalam penerapan hukum-hukum tersebut. Padahal dalam syariat Islam itu ada ruang untuk melakukan reinterpretasi terhadap hukum, yaitu menguraikan hukum yang ada dalam teks kitab suci atau hadits dengan sebab diturunkannya ayat atau munculnya pernyataan dan perbuatan nabi ketika itu, ruang penafsiran ulang itu disebut ijtihad.

Pada kesimpulannya, usaha inovasi gender ini telah dilakukan dan diupayakan. Namun masih banyak sekali hambatan-hambatan yang menghadang, dikarenakan upaya ini berhadapan dengan sistem sosial, ideologi dan budaya yang ada di masyarakat yang  dari dulu bisa dikatakan bias gender. Maka dari itu perlu adanya pengawalan dari berbagai pihak, baik oleh pemerintah, maupun masyarakat itu sendiri, baik oleh perempuan, atau bahkan oleh laki-laki. Karena konsep kesetaraan gender ini sejatinya tidak hanya menguntungkan kaum perempuan saja, akan tetapi menguntungkan bagi seluruh manusia, termasuk kaum laki-laki. Karena jika kesetaraan gender ini dapar ditegakkan, maka akan menimbulkan situasi yang lebih ideal, dimana perempuan dan laki-laki mendapatkan keadilan, sama-sama menghargai dan dihargai nilai kemanusiaannya. Kemudian dapat membangun masyarakat baru yang adil, merata, bebas dari diskriminasi, eksploitasi, kekerasan dan ketidakadilan yang berbasis gender. Hal ini tentu akan memajukan dan mensejahterakan umat manusia. Wallahu'alam.


penapejuang "Orang bijak belajar ketika mereka bisa. Orang bodoh belajar ketika mereka harus." - Arthur Wellesley Dengan ilmu kamu akan Kuat dan dengan Karakter kamu akan terhormat,,

0 Response to "Upaya dan Hambatan Inovasi Pengarusutamaan Gender di Era Modern"

Post a Comment

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

BACA JUGA